Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto mengatakan data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Sensus Ekonomi 2026 akan digunakan pemerintah sebagai dasar untuk menyusun kebijakan dan anggaran secara lebih tepat.

Dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Jakarta, Jumat, Prabowo mengatakan kebutuhan pembaruan perhitungan aktivitas ekonomi semakin penting karena Indonesia sudah lebih dari 10 tahun belum melakukan rebasing atau pembaruan cara menghitung aktivitas ekonomi nasional.

"Oleh karena itu, sensus ekonomi yang sekarang dijalankan sampai akhir bulan Agustus 2026, yang dilakukan oleh 251.000 petugas sensus, bekerja di seluruh desa kita, perlu kita pastikan berhasil," kata dia.

Prabowo menyatakan angka-angka dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sangat bergantung pada indikator makroekonomi.

Sementara itu, indikator makroekonomi bergantung pada kualitas data yang dikumpulkan oleh BPS.

"Data yang dikumpulkan BPS dari sensus ekonomi tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan," kata dia.

Untuk itu, Presiden meminta masyarakat untuk mengisi formulir sensus secara jujur agar data yang dihimpun dapat menggambarkan kondisi ekonomi secara akurat.

Prabowo mencontohkan akurasi penghitungan produk domestik bruto (PDB) juga berpengaruh terhadap rasio defisit APBN.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah mengasumsikan PDB mencapai Rp27.987 triliun. Dengan pembiayaan sebesar Rp671,2 triliun, defisit APBN diproyeksikan sebesar 2,40 persen terhadap PDB.

"Jika ternyata PDB kita lebih besar, yang banyak lembaga internasional mengatakan seperti itu, maka defisit kita bisa jauh lebih kecil," kata Prabowo.

Selain menjadi dasar penyusunan kebijakan dan anggaran, Prabowo mengatakan hasil Sensus Ekonomi 2026 juga akan digunakan untuk memperbarui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

"Karena itu, sensus ekonomi ini sangat penting," ujarnya.

Pewarta: Shofi Ayudiana
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.