REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Kepolisian tengah mendalami kasus petasan yang dinyalakan selama satu jam saat perayaan Maulid Nabi di Jalan Keramat 2, Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Peristiwa yang terjadi pada Jumat (4/10/2024) siang itu kini berbuntut laporan dugaan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap seorang warga yang memprotes suara bising tersebut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dan saat ini sedang melakukan penyelidikan. "Saat ini sedang ditangani, dilakukan penyelidikan, pemeriksaan beberapa keterangan saksi dan barang bukti, juga melakukan pengecekan olah tempat kejadian perkara," ujar Budi Hermanto di Jakarta, Selasa.

Laporan resmi tercatat dengan nomor LP/B/4008 tanggal 5 Oktober 2024 di Polres Metro Jakarta Selatan. Pelapor adalah seorang perempuan berinisial LK. Dalam laporannya, korban mengaku mengalami tindak kekerasan oleh sejumlah oknum setelah ia mempertanyakan suara dentuman petasan dari lokasi acara.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan pelapor, peristiwa bermula sekitar pukul 12.45 WIB di daerah Pondok Pinang, Kebayoran Lama. "Kejadian bermula saat yang bersangkutan mempertanyakan suara petasan dari lokasi kegiatan. Pelapor kemudian mengaku mengalami tindakan kekerasan oleh sejumlah orang," jelas Budi.

Sebelumnya, seorang warga bernama Amanda Andono (50) mengeluhkan suara petasan dan kembang api dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan haul yang dinilainya sangat mengganggu. Ia menyebut dentuman itu berdampak langsung pada anaknya yang memiliki kebutuhan khusus dan sensitif terhadap suara keras.

"Anak saya sampai bangun. Anak saya sampai kaget dan kejang. Saya cuma mikirnya anak dan orang tua saya aja," kata Amanda kepada wartawan, Senin.

Amanda menggambarkan suara kembang api itu seperti dentuman keras yang berbeda dari kembang api biasa dan berlangsung terus-menerus tanpa henti. "Ini benar-benar dentuman. Tidak selesai-selesai," ujarnya. Selain anaknya, ia juga mengkhawatirkan kondisi ibunya yang berusia 76 tahun.

Didorong dan Disembur Air

Karena suara tak kunjung berhenti setelah 15 menit, Amanda memutuskan untuk mendatangi lokasi acara. "Sampai di menit ke-15, belum juga berhenti. Jadi, akhirnya saya langsung keluar, tuh. Saya langsung keluar, saya enggak peduli ini mau gimana-bagaimana, tapi ini enggak bener," ucapnya.

Namun, niatnya untuk meminta penjelasan justru berujung pada tindakan fisik. Amanda mengaku kesulitan menemui penyelenggara acara. Ia justru didorong, ditarik, dan wajahnya disembur air oleh sejumlah orang yang memintanya meninggalkan lokasi.

Situasi semakin memanas ketika sejumlah orang mendatanginya. Putra Amanda yang berusaha menolongnya disebut mengalami luka cakaran pada tangan saat mencoba menahan seseorang yang hendak menyerang ibunya.

Amanda menilai penggunaan kembang api dengan suara dentuman keras seharusnya mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar. Menurutnya, kawasan tersebut dihuni oleh anak-anak, bayi, lansia, serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu. Keluhan serupa juga ia sampaikan melalui akun media sosialnya, @amandaandono, di mana ia menceritakan anaknya yang berkebutuhan khusus sampai terbangun dan mengalami ketakutan.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara