Polinela dampingi KWT Pringsewu kembangkan teknologi baglog jamur
Selasa, 4 Agustus 2026 11:37 WIB
Tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mendampingi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri mengembangkan teknologi produksi baglog jamur dan pemanfaatan limbah baglog menjadi biobriket di Pekon (Desa) Gadingrejo Utara, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. (ANTARA/HO/Polinela)
Lampung Selatan (ANTARA) - Tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mendampingi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri di Pekon (Desa) Gadingrejo Utara, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, mengembangkan teknologi produksi baglog jamur dan pemanfaatan limbah baglog menjadi biobriket guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
Program bertajuk Penerapan Teknologi Produksi Baglog dan Biobriket Limbah Jamur untuk Mendukung Pangan dan Lingkungan pada KWT Mandiri tersebut merupakan bagian dari Program Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat-Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Ketua Tim PKM Polinela Yeni sebagaimana dikonfirmasi di Lampung Selatan, Senin, mengatakan pendampingan dirancang untuk meningkatkan kemandirian kelompok dalam memproduksi baglog jamur sekaligus memanfaatkan limbah budidaya menjadi produk bernilai ekonomi.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mampu membudidayakan jamur dengan baik, tetapi juga memiliki keterampilan memproduksi baglog sendiri dan memanfaatkan limbahnya menjadi produk yang bernilai tambah. Dengan demikian, biaya produksi dapat ditekan, usaha menjadi lebih mandiri, dan limbah tidak lagi menjadi persoalan lingkungan,” katanya.
Program yang dimulai sejak 25 Mei 2026 tersebut melibatkan 18 anggota KWT Mandiri melalui rangkaian penyuluhan, pelatihan, praktik, dan pendampingan intensif yang masih berlangsung hingga kini.
Menurutnya, tim membekali peserta dengan keterampilan memproduksi baglog, mulai dari pemilihan bahan baku, formulasi media tanam, pencampuran bahan, pengemasan, sterilisasi, inokulasi bibit, hingga proses inkubasi sesuai standar budidaya jamur.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pelatihan mengolah limbah baglog menjadi biobriket melalui proses pengeringan, karbonisasi, pencampuran perekat, pencetakan, hingga pengeringan sebagai bahan bakar alternatif.
Menurut dia, metode pendampingan dipilih agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan teknologi secara mandiri setelah program selesai.
Hingga awal Agustus 2026, program tersebut telah menghasilkan 500 baglog jamur dan tujuh kilogram biobriket berbahan limbah baglog. Jumlah produksi diperkirakan terus meningkat seiring berlanjutnya proses pendampingan.
Selain capaian produksi, hasil evaluasi tim menunjukkan peningkatan kapasitas peserta yang signifikan. Tingkat pengetahuan anggota KWT mengenai teknologi produksi baglog dan pembuatan biobriket meningkat dari sekitar lima persen sebelum pelatihan menjadi 98 persen setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Ketua KWT Mandiri Suprapti mengatakan pendampingan dari Polinela memberikan pengetahuan baru bagi anggota kelompok yang selama ini masih bergantung pada pasokan baglog dari luar.
“Setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, kami mampu membuat baglog sendiri dengan kualitas yang lebih baik. Kami juga baru mengetahui bahwa limbah baglog dapat diolah menjadi biobriket yang memiliki nilai ekonomi. Pengetahuan dan keterampilan anggota meningkat sangat pesat karena kami belajar langsung melalui praktik,” ujarnya.
Dirinya berharap pendampingan dapat terus berlanjut sehingga KWT Mandiri mampu mengembangkan usaha budidaya jamur secara lebih mandiri sekaligus menjadi contoh bagi kelompok tani lainnya di Kabupaten Pringsewu.
Sementara itu, Kepala Pekon Gadingrejo Utara Kirmanto mengapresiasi sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong pemberdayaan ekonomi desa melalui pemanfaatan potensi lokal.
Program tersebut tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan yang dapat langsung diterapkan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mengurangi limbah pertanian.
“Kami melihat prospek usaha jamur di Pekon Gadingrejo Utara cukup baik. Dengan kemampuan memproduksi baglog sendiri dan memanfaatkan limbah menjadi biobriket, masyarakat tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga ikut menjaga lingkungan. Ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat ekologis,” katanya.
Dirinya menambahkan pemerintah pekon siap mendukung keberlanjutan program melalui kolaborasi dengan kelompok tani dan berbagai pemangku kepentingan agar budidaya jamur berkembang menjadi salah satu potensi ekonomi unggulan desa.
Program tersebut juga menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan hasil riset dan inovasi kepada masyarakat. Kolaborasi antara Polinela dan KWT Mandiri diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi tepat guna yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan ketahanan pangan, serta pengembangan ekonomi sirkular berbasis pedesaan.
Pewarta : Riadi Gunawan
Editor:
Citro Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.