Kami melihat WhatsApp sebagai salah satu cara yang praktis untuk membuat percakapan tersebut berlangsung lebih berkelanjutan, terutama bagi pekerja yang mungkin tidak secara rutin menggunakan platform pembelajaran perusahaan.
Alih-alih meminta pekerja berpindah ke platform baru, Pingtar menggunakan kanal komunikasi yang sudah akrab bagi banyak orang untuk menyampaikan pembelajaran singkat, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan respons. dan menjaga komunikasi dengan pekerja secara berkelanjutan.
Hingga kini, berbagai program Pingtar telah menjangkau lebih dari 50.000 orang melalui inisiatif di bidang pembelajaran di tempat kerja dan program sosial.
Mengapa WhatsApp?
Bagi pekerja frontline, kemudahan akses dapat sama pentingnya dengan kualitas materi pembelajaran. Pekerja di pabrik, perkebunan, maupun lokasi kerja yang tersebar mungkin tidak selalu memiliki akses rutin ke email perusahaan, komputer, atau platform internal, sehingga WhatsApp dapat menjadi kanal yang lebih dekat dengan keseharian mereka untuk menerima pembelajaran singkat sekaligus memberikan respons.
Pendekatan berbasis WhatsApp yang dikembangkan Pingtar menggabungkan microlearning, puise check, dan masukan dari pekerja, sehingga perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi tenaga kerja di antara sesi pelatihan, audit, maupun asesmen formal.
Pendekatan yang sama ama juga telah digunakan di luar konteks pembelajaran di tempat kerja, termasuk program bersama berbagai LSM dan badan riset yang menjangkau hampir 10.000 keluarga berpenghasilan rendah, ngenai transisi energi yang dikembangkan dalam lima bahasa.
Fokus pada Pembelajaran Berkelanjutan
Pelatihan di tempat kerja umumnya berlangsung dalam bentuk sesi tertentu, modul daring, program orientasi, atau pelatihan tahunan. Format tersebut tetap penting, tetapi untuk isu seperti kekerasan dan pelecehan berbasis gender (GBVH), keselamatan kerja, mekanisme pengaduan, etika, dan kepatuhan, memahami sebuah kebijakan hanyalah langkah awal.
Dalam penguatan human rights due diligence, ILO juga menekankan pentingnya dialog dan kerja sama antara manajemen dan pekerja sebagai bagian dari upaya perusahaan memahami dan menangani risiko di tempat kerja.
"Pelatihan seharusnya bukan akhir dari sebuah diskusi mengenai suatu topik di tempat kerja. Agar pekerja merasa percaya diri dalam menerapkan apa yang telah dipelajari atau menyampaikan kekhawatiran, perlu ada ruang agar diskusi tersebut terus berlangsung. Kanal digital yang familiar digunakan setiap hari dapat membantu membuat interaksi ini lebih rutin, mudah diakses, dan relevan dengan pengalaman pekerja sehari-hari," ujar Arvinda.
Pendekatan Pingtar dibangun di atas prinsip tersebut, yaitu dengan menggabungkan pembelajaran singkat dan masukan dari pekerja. Dalam kolaborasinya dengan ILO, Pingtar telah mendukung program peningkatan kesadaran dan keterlibatan terkait GBVH bagi lebih dari 35.000 pekerja di sektor alas kaki di Indonesia.
Program bersama berbagai perusahaan multinasional dan nasional di berbagai bidang seperti FMCG, perkebunan, manufaktur, dan banyak lainnya juga mencakup GBVH, keselamatan dan kesehatan kerja, grievance awareness, compliance, governance, ethics, serta asesmen terkait hak asasi manusia.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pembelajaran di tempat kerja mulai dilihat bukan hanya sebagai aktivitas yang selesai setelah sebuah modul atau sesi pelatihan dituntaskan, tetapi sebagai proses yang dapat berlangsung secara terus-menerus.
Studi ILO 2026 juga menyoroti kebutuhan akan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel, modular, dan mudah diakses, khususnya bagi pekerja yang memiliki akses terbatas terhadap pembelajaran terstruktur.
Bagi perusahaan, hal ini memunculkan pertanyaan yang lebih relevan daripada sekadar apakah seorang pekerja telah menyelesaikan pelatihan, yaitu apa yang terjadi setelah pelatihan berakhir? Bagi Pingtar, jawabannya adalah memanfaatkan kanal komunikasi yang sudah familiar untuk menjaga pembelajaran, mendengarkan, dan keterlibatan tetap berjalan, demi mengubah satu momen pelatihan menjadi diskusi yang produktif dan berkelanjutan.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.