Kota Jambi (ANTARA) - Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus menjaga produksi minyak dan gas (migas) melalui optimalisasi lapangan yang sudah ada (eksisting), eksplorasi dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung kebutuhan ketahanan energi nasional.
Corporate Secretary PHR Eviyanti Rofraida melalui keterangan di Jambi, Sabtu, mengatakan posisi PHR sangat strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Berdasarkan paparan baru-baru ini, produksi PHR Regional 1 berkontribusi hampir sepertiga produksi migas nasional.
“PHR itu KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dengan produksi terbesar. Kalau total produksi seluruh PHR Regional 1, hampir sepertiga produksi migas nasional. Itu menggambarkan betapa strategisnya posisi PHR," kata Eviyanti.
Ia menjelaskan, peran tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan energi nasional terus berkembang, sementara sejumlah lapangan migas menghadapi tantangan alamiah berupa penurunan produksi seiring bertambahnya usia reservoir.
Karena itu, PHR menerapkan strategi berlapis untuk menjaga keberlanjutan produksi. Langkah pertama dilakukan dengan mempertahankan produksi pasar (baseline production) dari lapangan yang sudah beroperasi agar penurunannya dapat ditekan.
Strategi tersebut kemudian diperkuat melalui pencarian sumber produksi baru dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan perolehan migas.
"Yang utamanya adalah memaintain baseline, bagaimana yang sudah ada ini kalaupun turun, decline-nya tidak jauh. Kalau bisa kita maintain tidak turun, kalaupun turun sedikit," ungkap dia.
Dirinya menambahkan, upaya mempertahankan produksi tidak hanya dilakukan pada sumur dan lapangan yang telah berproduksi.
PHR juga terus mengevaluasi potensi baru berdasarkan data yang tersedia serta melakukan eksplorasi untuk menemukan sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi sumber produksi.
Pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Berbagai pendekatan teknologi diterapkan untuk meningkatkan produktivitas lapangan dan mengoptimalkan cadangan yang tersedia.
Di Jambi, salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Puspa Asri. Proyek tersebut diproyeksikan memberikan tambahan produksi yang memiliki arti strategis bagi Pertamina EP Jambi.
Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada penemuan lapangan baru, tetapi juga kemampuan industri untuk mengubah potensi sumber daya menjadi produksi secara efektif melalui teknologi dan inovasi.
Evi menegaskan, keberlanjutan produksi migas membutuhkan dukungan lintas pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Dukungan tersebut diperlukan agar kegiatan operasi, eksplorasi, hingga pengembangan wilayah baru dapat berjalan secara aman dan berkelanjutan.
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi mengatakan, langkah paling mendasar untuk memperkuat ketahanan energi adalah meningkatkan produksi energi, baik dari sumber fosil maupun nonfosil.
“Untuk meningkatkan ketahanan energi agar kita tidak bergantung kepada impor, tentu saja kita harus menambah produksi, baik yang fosil maupun nonfosil. Untuk minyak berarti meningkatkan lifting, begitu juga gas,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan diversifikasi sumber energi. Pengembangan biodiesel, misalnya, menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Pemerintah juga tengah mendorong pengembangan etanol sebagai salah satu alternatif untuk kebutuhan bensin.
Dalam pengembangan biodiesel, penerapan B50 menjadi salah satu agenda besar. Namun, peningkatan bauran biodiesel membutuhkan kesiapan kapasitas produksi dan ketersediaan bahan baku atau feedstock. Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan menjadi salah satu opsi yang perlu diperkuat tanpa harus melakukan perluasan lahan secara signifikan.
“Tantangannya masih sangat besar. Produksi kita terus naik, tetapi jangan sampai kemudian B50 ini kekurangan feedstock. Kita harus memastikan target produksi untuk menopang B50 itu cukup,” katanya.
Selain produksi, DEN juga mendorong percepatan pembentukan cadangan penyangga energi. Cadangan tersebut berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini disiapkan badan usaha untuk menjalankan kegiatan sehari-hari.
“Cadangan penyangga energi itu kalau bisa sampai 30 hari setara impor. Itu diberi waktu sampai 2035. Mudah-mudahan kita mengejar. Tetapi dalam waktu dekat, paling tidak sebelum bisa 30 hari, lima hari dulu atau 10 hari dulu. Secara bertahap kita bisa sampai 30 hari, idealnya 60 hari, lebih-lebih bisa 90 hari,” ujarnya.
Pewarta: Agus Suprayitno
Editor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.