Sangatta (ANTARA) - Ratusan petani di Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur  Kalimantan Timur menggelar aksi damai di depan Kantor PT Nusa Indah Kalimantan Plantation untuk menuntut realisasi kebun plasma dari perusahaan itu.

“Kami menuntut hak plasma 20 persen itu direalisasikan, khususnya dari lahan-lahan yang sudah digunakan sejak 2009,” kata Ketua Aliansi Masyarakat Rantau Pulung Menggugat, Muhammad Dahlan, Senin.

Ia mengatakan selama ini warga setempat menunggu realisasi kewajiban plasma tersebut sehingga warga memutuskan menggelar aksi damai tersebut. Ia berharap pihak perusahaan segera memenuhi tuntutan masyarakat sehingga keberadaan perusahaan itu dapat dirasakan dampak ekonominya bagi warga sekitar perusahaan.

Selain tuntutan plasma, para petani juga mempersoalkan aktivitas perusahaan pada sejumlah lahan yang statusnya dinilai belum jelas. Salah satu yang dipertanyakan adalah area yang berstatus hak pengelolaan lahan (HPL) yang telah ditanami dan dipanen, tetapi diduga belum memiliki hak guna usaha (HGU).

Karena itu, Dahlan meminta aktivitas perusahaan pada lahan yang masih bersengketa atau bermasalah dihentikan sampai ada penyelesaian dengan masyarakat.

“Kalau status lahan belum jelas dan masih ada persoalan dengan kelompok tani, jangan ada aktivitas atau pemanenan di lahan tersebut,” katanya.

Aliansi Masyarakat Rantau Pulung Menggugat menyatakan belum akan menghentikan pengawalan terhadap tuntutan mereka. Jika dalam 10 hari belum ada penyelesaian atau kejelasan dari perusahaan, warga mengancam kembali menggelar aksi.

Menanggapi tuntutan tersebut, Legal Kemitraan PT NIKP, Fhadli, mengatakan pihak manajemen akan meneruskan seluruh permintaan masyarakat kepada pimpinan perusahaan untuk dibahas lebih lanjut.

“Pasca pertemuan ini kami dari manajemen kebun akan menyampaikan ke dewan pimpinan kami terkait permintaan dari aliansi,” katanya.

Ia memastikan setiap kejadian yang berlangsung di area perusahaan tetap dilaporkan oleh manajemen.

Pewarta: Muhammad Hafif Nikolas
Editor : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.