Petani Pagerbarang menjerit, sawah krisis air di musim kemarau
Kamis, 24 September 2026 14:37 WIB
Anggota DPRD Kabupaten Tegal Akhmad Sayuti. (Kabupaten Tegal)
Kab Tegal (ANTARA) - Musim kemarau benar-benar membuat petani di Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, kelimpungan. Krisis air irigasi menghantam hampir seluruh wilayah pertanian. Lahan sawah yang seharusnya menjadi tumpuan penghasilan kini dipaksa bertahan dengan sumber air yang kian menipis.
Tak adanya jaringan irigasi di sebagian kawasan membuat petani hanya bisa mengandalkan sumur pantek. Masalahnya, kondisi sumur-sumur tersebut juga mulai memprihatinkan. Debit air terus berkurang, bahkan sejumlah sumur mulai mengering.
Kondisi ini membuat petani terpaksa menggunakan mesin pompa atau diesel untuk menyedot air dari dalam tanah. Namun, cara tersebut belum mampu menjawab kebutuhan air untuk seluruh lahan pertanian.
Keluhan itu disampaikan para petani kepada anggota DPRD Kabupaten Tegal Akhmad Sayuti. Legislator dari daerah pemilihan VI yang meliputi Kecamatan Pagerbarang, Margasari dan Balapulang itu mengaku sering menerima aduan terkait kebutuhan sarana pertanian, terutama mesin pompa air.
"Saya memang sering mendapat aduan dari masyarakat petani soal bantuan alsintan," kata Ahmad Sayuti, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, persoalan utama yang dihadapi petani Pagerbarang bukan sekadar ketersediaan mesin pertanian. Lebih dari itu, infrastruktur irigasi menjadi kebutuhan mendesak karena sebagian lahan pertanian memang belum terhubung jaringan pengairan.
Akibatnya, ketika musim kemarau tiba, petani harus mencari sumber air sendiri agar tanaman tetap bertahan.
"Sebagian lahan pertanian di wilayah Kecamatan Pagerbarang belum ada jaringan irigasinya. Sehingga saat musim kemarau seperti ini, petani kelimpungan," ungkap politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Dalam kondisi seperti sekarang, bantuan mesin pompa air dinilai bisa menjadi solusi sementara. Dengan mesin tersebut, petani dapat menyedot air dari sumur pantek untuk mengairi tanaman.
Namun, jumlah mesin pompa yang tersedia saat ini belum sebanding dengan kebutuhan di lapangan. Mesin pompa milik pemerintah juga belum mampu menjangkau seluruh petani yang membutuhkan.
"Petani sangat berharap ada bantuan mesin pompa air. Meski ada mesin pompa milik pemerintah, tapi belum bisa memenuhi kebutuhan para petani," ujarnya.
Persoalan semakin berat karena sumber air bawah tanah yang selama ini menjadi andalan juga mulai kehilangan daya. Sumur pantek yang biasanya menjadi penyelamat saat kemarau kini debitnya menurun.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap hasil pertanian.
Sayuti menyebut hasil tanam padi pada musim ini tidak sebagus biasanya karena tanaman mengalami kekurangan air.
"Hasil tanam padi di musim ini kurang bagus karena kekurangan air. Sumur juga sudah mulai mengering. Kalaupun masih ada air, jumlahnya tidak banyak," tuturnya.
Menurut Sayuti, bantuan alsintan, khususnya mesin pompa air, perlu diperkuat sembari pemerintah menyiapkan solusi yang lebih permanen berupa pembangunan atau perluasan jaringan irigasi.
Sebab, selama lahan pertanian belum memiliki akses pengairan yang memadai, persoalan serupa berpotensi kembali menghantui petani setiap kali musim kemarau datang.
Pewarta: Kutnadi
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.