Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, menyampaikan bahwa Pemerintah menaruh perhatian serius pada ekosistem olahraga disabilitas sebagai bagian vital dari kekuatan olahraga nasional.
"Kemenpora selalu bangga dan memberikan dukungan terhadap atlet-atlet disabilitas Indonesia. Kami juga memiliki kerja sama yang sangat baik dengan NPC Indonesia dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga disabilitas nasional," kata Surono di Jakarta, Senin (1/9/2026).
Surono membeberkan, buah manis dari kekompakan Kemenpora dan NPC Indonesia terbukti dari performa luar biasa Kontingen Indonesia di ASEAN Para Games 2025 Thailand.
Indonesia sukses menyabet 135 medali emas, 143 medali perak, dan 114 medali perunggu untuk mengunci posisi runner-up klasemen akhir, jauh melampaui target awal 82 medali emas.
https://www.akurat.co/arena/887302/tanggapi-polemik-donasi-porturin-kemenpora-tegaskan-paralimpiade-jadi-sasaran-utama-olahraga-disabilitas
"Target awal kita 82 emas, tetapi atlet-atlet kita mampu memberikan jauh lebih dari itu. Ini membuktikan bahwa pembinaan terencana yang dilakukan bersama antara pemerintah, NPC Indonesia, pelatih, dan seluruh ekosistem memberikan hasil nyata," terangnya.
Tegaskan Legitimasi Patrin di Mata Internasional
Terkait tata kelola atlet disabilitas tunarungu, Surono memberikan penegasan krusial mengenai legalitas organisasi yang diakui Pemerintah.
Sesuai koridor regulasi internasional di bawah International Committee of Sports for the Deaf (ICSD), pemerintah hanya mengakui Perkumpulan Atlet Tunarungu Indonesia (Patrin).
"Khusus untuk atlet tunarungu, hanya organisasi Perkumpulan Atlet Tunarungu Indonesia (Patrin) yang diakui secara internasional oleh ICSD, dan karenanya hanya Patrin yang diakui oleh Pemerintah. Dukungan dan fasilitasi negara wajib diberikan melalui organisasi yang memiliki legitimasi resmi," tegas Surono.
Ia mengingatkan bahwa seluruh pengikutsertaan atlet pada ajang single event internasional harus dikonsolidasikan bersama NPC Indonesia dan Kemenpora.
Hal ini penting agar setiap kompetisi yang diikuti berfungsi sebagai try out dan pengumpulan poin kualifikasi menuju panggung tertinggi, Paralimpiade.
Lebih lanjut, Surono memastikan dukungan negara tidak sekadar di atas kertas, tetapi mencakup ekosistem hulu ke hilir. Salah satunya adalah pengembangan Paralympic Training Center di Karanganyar, Jawa Tengah, yang digadang-gadang sebagai fasilitas pemusatan latihan disabilitas terbaik di Asia Tenggara.
Tak hanya infrastruktur, apresiasi finansial juga dikucurkan secara melimpah kepada para atlet yang mengharumkan nama bangsa di panggung internasional.
"Pada ASEAN Para Games 2025, pemerintah menyalurkan bonus langsung kepada para penerima melalui kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI), dengan total penghargaan bagi peraih medali mencapai lebih dari Rp350 miliar," pungkas Surono.