Angka ini tidak berarti 48% seluruh pengguna Kredivo adalah perempuan atau 57% seluruh pengguna berusia di bawah 30 tahun. Data tersebut secara khusus menggambarkan komposisi pengguna yang mendapatkan akses kredit untuk pertama kalinya.
Ringkasan
Perempuan dan anak muda menjadi kelompok penting dalam akses kredit digital pertama melalui Kredivo pada 2025. Dari pengguna aktif yang merupakan pengakses kredit pertama, 48% adalah perempuan dan 57% berusia di bawah 30 tahun. Temuan ini menunjukkan adanya perluasan akses pembiayaan kepada kelompok yang sebelumnya belum memiliki pengalaman memperoleh kredit formal.
Temuan tersebut penting karena memperlihatkan perubahan dalam cara masyarakat masuk ke sistem pembiayaan. Akses terhadap layanan keuangan tidak lagi hanya berkaitan dengan kepemilikan rekening, tetapi juga kesempatan mendapatkan kredit ketika membutuhkan pembiayaan.
Meski demikian, data tersebut belum menjelaskan mengapa perempuan dan anak muda menjadi kelompok besar pengakses kredit pertama. Tidak tersedia informasi yang cukup untuk menyimpulkan apakah penyebabnya berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga, pendidikan, usaha, konsumsi, atau kebutuhan lainnya.
Karena itu, angka 48% dan 57% lebih tepat dibaca sebagai sinyal mengenai siapa yang mulai masuk ke ekosistem kredit, bukan sebagai bukti mengenai perilaku finansial perempuan atau anak muda secara keseluruhan.
48% Pengakses Kredit Pertama Merupakan Perempuan
Proporsi perempuan sebesar 48% dalam kelompok pengakses kredit pertama menunjukkan bahwa akses pembiayaan digital bukan hanya fenomena yang berkaitan dengan konsumen laki-laki.
Angka tersebut menjadi menarik jika ditempatkan dalam konteks inklusi keuangan. Ketika seseorang memperoleh kredit untuk pertama kali, terdapat perubahan dari sekadar menjadi pengguna layanan keuangan menjadi pihak yang memiliki hubungan pembiayaan dengan lembaga penyedia kredit.
Namun, ada satu hal yang belum dapat dijawab dari data tersebut: untuk apa perempuan menggunakan kredit tersebut?
Pertanyaan ini penting karena tujuan penggunaan kredit menentukan bagaimana dampaknya terhadap kondisi finansial seseorang.
Kredit untuk modal usaha, misalnya, memiliki karakter berbeda dengan kredit untuk kebutuhan konsumsi. Pembiayaan pendidikan juga memiliki manfaat yang berbeda dari pembiayaan kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, data mengenai komposisi gender akan menjadi jauh lebih informatif apabila kelak dilengkapi dengan data mengenai tujuan penggunaan, nilai pembiayaan, kemampuan pembayaran, dan dampaknya terhadap kondisi ekonomi pengguna.
Untuk saat ini, yang dapat dikatakan adalah perempuan merupakan bagian signifikan dari kelompok yang memperoleh akses kredit untuk pertama kalinya melalui Kredivo pada 2025.
Baca Juga: Kredit UMKM Masih Seret, BI Ungkap Ada Rp2.490 Triliun Kredit Menganggur
Baca Juga: 8 Bank Terbitkan Kartu Kredit Indonesia, Apa Untungnya Buat Nasabah?
57% Pengakses Kredit Pertama Berusia di Bawah 30 Tahun
Temuan lain yang tidak kalah menarik adalah 57% pengakses kredit pertama berusia di bawah 30 tahun.
Kelompok ini berada pada fase kehidupan ketika seseorang mulai mengambil keputusan finansial secara lebih mandiri. Mereka dapat berada dalam masa transisi dari pendidikan ke dunia kerja, mulai membangun usaha, atau menghadapi kebutuhan pembiayaan yang sebelumnya belum muncul ketika masih bergantung pada keluarga.
Kondisi tersebut membuat akses kredit pertama menjadi pengalaman finansial yang penting.
Meski demikian, konteks tersebut bukan berarti seluruh anak muda menggunakan kredit digital karena alasan yang sama. Data Kredivo tidak memberikan rincian penyebab penggunaan berdasarkan kelompok usia.
Yang lebih menarik justru adalah pertanyaan mengenai bagaimana pengalaman kredit pertama tersebut akan memengaruhi perjalanan finansial mereka berikutnya.
Seseorang yang pertama kali mendapatkan kredit pada usia muda berpotensi mulai mengenal berbagai aspek pembiayaan, mulai dari kewajiban pembayaran hingga pengelolaan arus kas. Pada titik ini, akses kredit tidak hanya menjadi transaksi keuangan, tetapi dapat menjadi bagian dari pembentukan perilaku finansial.
Di sisi lain, akses yang mudah juga berarti pengguna harus semakin memahami konsekuensi dari keputusan mengambil kredit.
Punya Rekening Bank Belum Tentu Punya Akses Kredit
Fenomena tersebut semakin relevan jika melihat perkembangan inklusi keuangan Indonesia.
Dalam 10 tahun terakhir, kepemilikan rekening bank meningkat dari 36% menjadi 56%. Sekilas, peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang masuk ke dalam sistem keuangan formal.
Namun, penetrasi kredit formal justru bergerak ke arah berbeda. Angkanya turun dari 18% pada 2017 menjadi 15% pada 2024.
Ada paradoks yang perlu diperhatikan.
Seseorang bisa memiliki rekening bank tanpa memiliki akses yang memadai terhadap kredit.
Rekening dapat digunakan untuk menerima gaji, menyimpan uang, membayar tagihan, atau melakukan transfer. Akses terhadap pinjaman memiliki persyaratan dan penilaian yang berbeda.
Kesenjangan inilah yang membuat pembahasan mengenai pengakses kredit pertama menjadi lebih penting. Pertumbuhan jumlah rekening tidak otomatis menyelesaikan kebutuhan pembiayaan masyarakat.
Dengan kata lain, ukuran inklusi keuangan tidak cukup hanya melihat berapa banyak orang yang memiliki rekening, tetapi juga perlu melihat berapa banyak yang dapat mengakses produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhannya secara bertanggung jawab.
Kredit Digital Bisa Menjadi Pintu Masuk ke Pembiayaan Formal
Data Kredivo menunjukkan sekitar 1 dari 6 pengguna aktif pada 2025 merupakan pengakses kredit pertama.
Temuan tersebut memberikan perspektif berbeda mengenai fungsi kredit digital. Bagi sebagian pengguna, layanan seperti PayLater atau pinjaman digital mungkin bukan sekadar alat untuk menyelesaikan transaksi, tetapi menjadi pengalaman pertama memperoleh pembiayaan.
Konteks tersebut juga terlihat pada segmen usaha.
Kredivo mencatat 97% penerima pinjaman modal usaha merupakan pelaku usaha mikro. Sekitar 40% penerima pinjaman modal usaha disebut memperoleh akses kredit formal pertama melalui Kredivo.
Data tersebut memperlihatkan bahwa akses pertama terhadap kredit dapat terjadi bukan hanya untuk kebutuhan individu, tetapi juga dalam aktivitas usaha mikro.
Tetap diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan. Data tersebut tidak membuktikan bahwa seluruh pengakses kredit pertama kemudian memperoleh akses pembiayaan yang lebih luas.
Namun, fenomenanya menunjukkan adanya satu pertanyaan penting bagi industri keuangan: bagaimana memastikan pengalaman kredit pertama menjadi akses yang sehat dan berkelanjutan, bukan sekadar akses yang mudah?
Bukan Cuma Belanja, 54% Kredit Digunakan untuk Kebutuhan Produktif
Persepsi mengenai kredit digital sering kali tidak terlepas dari aktivitas konsumsi. Padahal, data Kredivo menunjukkan sekitar 54% kredit yang disalurkan pada 2025 digunakan untuk kebutuhan produktif.
Penggunaannya antara lain mencakup:
modal usaha;
renovasi rumah;
pendidikan;
kesehatan.
Data tersebut memperluas cara melihat fungsi kredit digital. Pembiayaan yang diberikan tidak seluruhnya berakhir pada pembelian barang konsumsi.
Meski demikian, penting untuk tidak menghubungkan data tersebut secara langsung dengan kelompok perempuan dan anak muda.
Misalnya, tidak tersedia data dalam narasi yang menunjukkan berapa persen perempuan di bawah 30 tahun menggunakan kredit untuk modal usaha. Karena itu, kesimpulan semacam itu tidak boleh dibuat.
Yang dapat dikatakan adalah terdapat dua fenomena yang berjalan beriringan: kelompok perempuan dan anak muda menjadi bagian besar dari pengakses kredit pertama, sementara lebih dari separuh kredit Kredivo pada 2025 disebut digunakan untuk kebutuhan produktif.
Apakah kedua fenomena tersebut saling berkaitan? Jawabannya membutuhkan data yang lebih terperinci.
Apa yang Sebenarnya Belum Kita Ketahui?
Di sinilah angka 48% dan 57% perlu dibaca secara hati-hati.
Data tersebut belum menjawab sejumlah pertanyaan penting, seperti:
Mengapa perempuan menjadi 48% dari pengakses kredit pertama?
Untuk kebutuhan apa kelompok perempuan tersebut menggunakan kredit?
Mengapa 57% pengakses pertama berusia di bawah 30 tahun?
Berapa besar kredit yang digunakan untuk kebutuhan produktif berdasarkan gender dan usia?
Apakah akses kredit pertama meningkatkan kapasitas ekonomi pengguna?
Bagaimana kemampuan pengguna membayar kembali kreditnya?
Apakah akses pertama tersebut kemudian membuka kesempatan memperoleh kredit formal lainnya?
Pertanyaan terakhir menjadi sangat penting.
Akses kredit bukanlah hasil akhir dari inklusi keuangan.
Jika seseorang dapat memperoleh kredit tetapi kemudian kesulitan membayar kewajibannya, akses tersebut belum tentu menghasilkan dampak finansial yang positif.
Sebaliknya, jika pembiayaan digunakan secara tepat untuk meningkatkan kapasitas usaha atau memenuhi kebutuhan penting dan dapat dikelola dengan baik, kredit dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih panjang.
Karena itu, kualitas akses sama pentingnya dengan jumlah orang yang memperoleh akses.
LD FEB UI dan Kredivo Akan Mengukur Dampak Ekonominya
Pertanyaan mengenai dampak tersebut menjadi bagian dari studi yang sedang disiapkan Kredivo Group bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI).
Studi tersebut akan melihat kontribusi layanan PayLater dan Pinjaman Tunai dari KrediFazz terhadap perluasan akses kredit, perilaku finansial masyarakat, pemberdayaan UMKM, serta aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Studi melibatkan ratusan pengguna serta puluhan pelaku UMKM di berbagai provinsi, dengan analisis yang didukung data internal Kredivo dan data sekunder.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, menekankan pentingnya melihat kredit digital berdasarkan bukti empiris.
“Di tengah pertumbuhan industri yang pesat dan diskursus publik yang berkembang, perspektif berbasis bukti menjadi penting untuk melihat bagaimana kredit digital benar-benar bekerja dalam konteks sosial ekonomi Indonesia," ujar Paksi melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Selasa, 1 September 2026.
Menurut Paksi, dampak layanan tersebut tidak cukup dilihat dari pertumbuhan industri semata. Kredit digital perlu dilihat dari pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari.
Sementara itu, Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan perjalanan layanan tersebut selama satu dekade telah berkembang dari sekadar membuka akses pembiayaan.
“Sepuluh tahun lalu, Kredivo hadir untuk membantu menjawab kesenjangan akses kredit di Indonesia. Seiring waktu, layanan kami berkembang dari membuka akses pembiayaan menjadi bagian dari perjalanan finansial jutaan masyarakat.”
Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo tersebut dijadwalkan dirilis pada 10 September 2026.
Perempuan dan Anak Muda Membuka Pertanyaan Baru tentang Kredit Digital
Angka 48% dan 57% pada akhirnya bukan sekadar statistik mengenai jenis kelamin dan usia pengguna.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengalaman mendapatkan kredit untuk pertama kalinya semakin relevan untuk dibahas dalam perkembangan pembiayaan digital di Indonesia.
Perempuan menyumbang 48% dari pengakses kredit pertama dalam data Kredivo, sementara kelompok berusia di bawah 30 tahun mencapai 57%. Pada saat yang sama, penetrasi kredit formal nasional masih berada di bawah level 2017.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan inklusi keuangan Indonesia bukan hanya tentang membuat masyarakat memiliki rekening, tetapi juga memastikan mereka dapat memperoleh akses pembiayaan yang sesuai dan mampu dikelola.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: apa yang terjadi setelah kredit pertama diperoleh?
Apakah akses tersebut membantu pengguna membangun usaha, memenuhi kebutuhan penting, atau memperkuat kondisi finansial? Atau justru menciptakan kewajiban baru yang sulit dikelola?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah pertumbuhan akses kredit digital benar-benar menjadi bagian dari kemajuan inklusi keuangan atau hanya menunjukkan semakin mudahnya masyarakat mendapatkan utang.
Pantau terus perkembangan kredit digital dan dampaknya terhadap masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Ekonomi Kepri Tumbuh 6,9 Persen, OJK Genjot Kredit UMKM Lewat Teknologi Keuangan
Baca Juga: BI Dorong 25 Bank Kurangi SSB dan Optimalkan Likuiditas untuk Kredit
FAQ
Siapa kelompok besar pengakses kredit digital pertama?
Berdasarkan data Kredivo pada 2025, satu dari enam pengguna aktif merupakan pengakses kredit pertama. Dari kelompok tersebut, 48% merupakan perempuan dan 57% berusia di bawah 30 tahun. Data ini menunjukkan perempuan dan anak muda menjadi bagian penting dari kelompok yang pertama kali memperoleh akses kredit melalui layanan Kredivo.
Berapa banyak perempuan yang menjadi pengakses kredit pertama?
Sebanyak 48% dari kelompok pengakses kredit pertama dalam data Kredivo pada 2025 merupakan perempuan. Angka tersebut tidak menunjukkan bahwa 48% seluruh pengguna Kredivo adalah perempuan. Data tersebut secara spesifik merujuk pada komposisi pengguna yang memperoleh akses kredit untuk pertama kalinya.
Berapa banyak anak muda yang mengakses kredit digital?
Sekitar 57% pengakses kredit pertama dalam data Kredivo pada 2025 berusia di bawah 30 tahun. Angka tersebut menunjukkan tingginya keterwakilan kelompok usia muda dalam kelompok pengakses kredit pertama. Namun, data yang tersedia belum menjelaskan secara spesifik alasan kelompok tersebut menggunakan kredit atau jenis kebutuhan yang dibiayai.
Mengapa akses kredit digital penting bagi perempuan?
Akses kredit digital dapat menjadi salah satu jalur pembiayaan bagi perempuan yang sebelumnya belum memperoleh kredit formal. Data Kredivo menunjukkan 48% pengakses kredit pertama pada 2025 merupakan perempuan. Meski demikian, data tersebut belum menjelaskan tujuan penggunaan kredit maupun dampak ekonominya, sehingga manfaat akses tersebut perlu dilihat dari penggunaan dan hasilnya.
Mengapa anak muda mulai menjadi pengakses kredit pertama?
Data Kredivo menunjukkan 57% pengakses kredit pertama berusia di bawah 30 tahun. Kelompok ini berada pada fase kehidupan dengan berbagai kebutuhan finansial baru, tetapi data yang tersedia belum membuktikan kebutuhan mana yang menjadi alasan utama. Karena itu, temuan tersebut lebih tepat menunjukkan pentingnya anak muda dalam perluasan akses kredit digital daripada menjelaskan motif mereka menggunakan kredit.
Apakah kredit digital sama dengan inklusi keuangan?
Kredit digital merupakan salah satu bentuk akses terhadap layanan keuangan, tetapi tidak sama dengan inklusi keuangan secara keseluruhan. Inklusi keuangan mencakup kemampuan masyarakat mengakses dan menggunakan layanan keuangan yang sesuai secara efektif dan bertanggung jawab. Karena itu, bertambahnya akses kredit belum otomatis membuktikan kesejahteraan finansial pengguna meningkat.