Warta Ekonomi, Bandung -

Masalah gigi berlubang (Karies) masih menghantui masyarakat Indonesia.Sekitar 80 persen masyarakat mengalami karies atau gigi berlubang dan mendorong penguatan pencegahan sejak usia dini.

Dokter FDC Dental Clinic, drg. Ahmad Syahrul Mubarok, menyampaikan temuan tersebut saat membahas film dokumenter Negeri Susah Senyum yang merekam kondisi kesehatan gigi masyarakat di perkotaan dan wilayah pedalaman.

Tim produksi mengamati kondisi masyarakat di Jakarta dan Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, untuk melihat perbedaan pola hidup, kesehatan gigi, serta akses terhadap layanan kesehatan.

Menurut Ahmad, kondisi masyarakat Ciptagelar menunjukkan tantangan kesehatan gigi yang kompleks. Warga menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan, minimnya tenaga dokter gigi, dan jarak yang cukup jauh menuju layanan kesehatan dengan fasilitas lebih lengkap.

“Yang paling banyak kasus karies atau kita lebih kenal gigi berlubang,” kata Ahmad Rabu (19/8/2026)

Ahmad menilai karies masih menjadi salah satu masalah kesehatan gigi paling dominan di Indonesia. Kalangan dokter gigi bahkan mendorong target Indonesia bebas karies pada 2035. Namun, masyarakat masih menghadapi sejumlah faktor risiko, terutama konsumsi gula dan kebersihan gigi yang belum optimal.

“Yang jelas gula,” ujar Ahmad.

Menurut Ahmad, makanan dan minuman manis meninggalkan gula pada permukaan gigi. Bakteri di rongga mulut kemudian memanfaatkan gula tersebut dan memicu proses yang menyebabkan karies. Ia menyebut Streptococcus mutans sebagai salah satu bakteri yang berperan dalam proses tersebut.

Karies dapat berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, perubahan warna dapat muncul pada permukaan gigi. Jika masyarakat tidak segera menangani kondisi tersebut, kerusakan dapat semakin dalam hingga mencapai saraf gigi.

Ahmad menjelaskan bahwa karies yang mencapai saraf dapat menimbulkan nyeri berdenyut dan sakit spontan, termasuk ketika seseorang hendak tidur pada malam hari. Kerusakan yang terus berkembang dapat menggerus mahkota gigi hingga menyisakan akar. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, Ahmad mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan obat pereda nyeri ketika mengalami sakit gigi.

“Kalau kita sakit gigi itu kita nggak bisa cuma minum obat saja. Tetap harus ke dokter,” katanya.

Dokter gigi kemudian dapat menentukan tindakan sesuai kondisi pasien, mulai dari penambalan, perawatan saluran akar, hingga pencabutan apabila dokter menilai gigi sudah tidak dapat dipertahankan.

Tim dokter juga menemukan perbedaan kondisi kesehatan gigi antara generasi tua dan anak-anak di Ciptagelar. Ahmad menemukan warga lanjut usia mengalami sejumlah persoalan gigi, tetapi ia justru menyoroti kondisi anak-anak yang menghadapi masalah lebih serius.

Sejumlah anak mengalami karies rampan atau kerusakan berat pada gigi susu. Bahkan, beberapa anak berusia sekitar tujuh tahun sudah mengalami kerusakan pada gigi geraham permanen dan membutuhkan perawatan.

"Perubahan pola konsumsi sebagai salah satu faktor yang ikut memengaruhi kondisi ini,"katanya

Masyarakat Ciptagelar sebelumnya lebih banyak mengonsumsi bahan pangan alami dan makanan dengan kandungan gula yang relatif rendah. Kini, makanan olahan dan makanan modern mulai masuk dan berdampingan dengan pola konsumsi tradisional.

“Generasi sepuh di Ciptagelar memiliki gigi yang jauh lebih kuat karena asupan makanan yang natural dan rendah gula. Keluhan utama mereka rata-rata hanyalah atrisi atau keausan gigi akibat konsumsi makanan bertekstur keras,” ungkapya

Sebaliknya, anak-anak menghadapi risiko karies yang lebih besar ketika mereka semakin sering mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula tanpa menjaga kebersihan gigi secara optimal.

Persoalan kesehatan gigi di Ciptagelar tidak hanya berkaitan dengan pola konsumsi. Ahmad juga menyoroti keterbatasan akses layanan kesehatan. Masyarakat harus menempuh perjalanan menuju wilayah Pelabuhanratu untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih lengkap.

Tim dokter membutuhkan waktu sekitar empat jam dari kawasan Pelabuhanratu menuju Ciptagelar dengan kondisi jalan yang tidak mudah dilalui. Jarak tersebut membuat sebagian warga memilih menahan sakit atau mengonsumsi obat pereda nyeri ketika mengalami masalah gigi.

Keterbatasan akses juga dapat membuka ruang bagi berkembangnya mitos dan praktik pengobatan alternatif yang belum tentu aman.

“Stigma bahwa ke dokter gigi menakutkan, lama dan mahal, juga masih sangat melekat. Oleh karena itu, pendekatan kami sangat personal dengan memberikan edukasi dasar serta penanganan darurat, seperti penambalan dan pencabutan gigi,” katajya

Dalam kegiatan di Ciptagelar, tim dokter memberikan pelayanan kepada sekitar 80 warga. Tim melakukan pembersihan, penambalan, dan pencabutan gigi sesuai kebutuhan pasien. Tim juga memberikan edukasi mengenai cara membersihkan dan merawat gigi untuk membantu masyarakat mencegah kerusakan lebih lanjut.

Ahmad meminta masyarakat tidak menunggu sakit untuk memeriksakan gigi. Pemeriksaan rutin dapat membantu dokter menemukan kerusakan sebelum pasien merasakan gejala.

“Pemeriksaan rutin juga dapat membantu dokter menemukan lubang pada bagian gigi yang tidak terlihat secara kasatmata,” katanya.

Ahmad menyebut pemeriksaan setiap enam bulan dapat menjadi salah satu langkah menjaga kesehatan gigi. Namun, dokter dapat menentukan jadwal kunjungan berdasarkan kondisi setiap pasien.

Pasien yang mengalami penumpukan karang gigi berat, misalnya, dapat menjalani pemeriksaan kembali sekitar tiga bulan setelah pembersihan untuk mengevaluasi kebersihan gigi.

Dokter juga menganjurkan masyarakat menyikat gigi dua kali sehari, yakni setelah makan pada pagi hari dan sebelum tidur pada malam hari.

Selain itu, menyarankan masyarakat berkumur dengan air putih setelah mengonsumsi makanan atau minuman. Masyarakat dapat menggunakan benang gigi atau water flosser untuk membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi.

Ahmad mengingatkan masyarakat agar tidak menyikat gigi terlalu keras. Ia menyarankan teknik menyikat dari arah gusi menuju gigi untuk mengurangi risiko kerusakan jaringan gusi dan terbukanya permukaan akar gigi.

Ia juga meminta masyarakat memperhatikan kandungan pasta gigi dan tidak berlebihan saat berkumur setelah menyikat gigi agar kandungan aktif pasta gigi tetap bekerja pada permukaan gigi.

Sementara itu, film dokumenter Negeri Susah Senyum merekam pengalaman tim dokter saat melakukan riset dan pelayanan kesehatan gigi di Kasepuhan Ciptagelar.

Film tersebut tidak hanya memperlihatkan kondisi gigi masyarakat adat, tetapi juga menggambarkan perubahan pola hidup, pergeseran pola konsumsi, keterbatasan layanan kesehatan, dan kesenjangan edukasi kesehatan.

Ahmad berharap film tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mencegah kerusakan gigi sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

“Setidaknya orang itu tahu bagaimana caranya mencegah daripada mengobati terlebih dahulu,” ujar Ahmad.

Adapun Founder & CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, mengatakan pihaknya membuat film tersebut untuk membuka perhatian publik terhadap ketimpangan akses kesehatan gigi.

“Pemutaran film dokumenter Negeri Susah Senyum baru pertama kali dilakukan. Kami akan menggiatkan pemutaran film ini karena ada misi sosial, yaitu menyebarkan senyum ke semua orang,” ujar Ita.

Film produksi Anatman Pictures tersebut juga mengajak finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 menyaksikan dan mendiskusikan persoalan kesehatan gigi yang muncul dalam film.

Finalis asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, menilai gambaran dalam film dekat dengan realitas masyarakat di daerahnya. Ia melihat keterbatasan akses dan edukasi kesehatan masih menjadi tantangan bagi masyarakat di sejumlah wilayah Sukabumi.

Bagi Djemima, pengalaman tersebut mendorong generasi muda untuk ikut menyuarakan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.

"Kasus karies yang mencapai sekitar 80 persen menunjukkan pentingnya perubahan perilaku masyarakat. Pengurangan konsumsi gula, kebersihan gigi yang konsisten, pemeriksaan rutin, serta akses layanan kesehatan gigi dapat membantu menekan risiko gigi berlubang,"jelasnya

Di usia Indonesia yang memasuki 81 tahun, persoalan kesehatan gigi juga menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih menghadapi hambatan besar untuk memperoleh layanan kesehatan dasar.

Jarak geografis, keterbatasan tenaga medis, fasilitas kesehatan yang minim, serta stigma terhadap dokter gigi membuat persoalan karies tidak hanya menjadi masalah medis. Karena itu, pencegahan perlu berjalan bersama dengan perluasan akses layanan dan peningkatan edukasi. Masyarakat tidak perlu menunggu sakit untuk mulai menjaga kesehatan gigi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.