Depok (ANTARA) - Direktur Utama PT PLN (Persero), Suroso Isnandar akan menghadapi sejumlah tantangan strategis dalam menjaga ketahanan pasokan listrik nasional.
Percepatan pengembangan energi terbarukan, mitigasi dampak kekeringan akibat El Nino, hingga pemerataan akses listrik ke desa-desa menjadi sejumlah pekerjaan yang perlu mendapat perhatian.

Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuabi menilai kepemimpinan PLN saat ini memang membutuhkan figur yang tidak hanya memahami pembangkit listrik konvensional (tenaga uap, diesel, dan air), tetapi juga mampu mengembangkan sumber energi terbarukan.

Menurut Ibrahim, arah kebijakan energi Presiden Prabowo Subianto menuntut PLN memperkuat diversifikasi sumber pembangkit.

Salah satu fokusnya adalah percepatan pemanfaatan energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), termasuk dorongan pengembangan kapasitas hingga 100 gigawatt (GW) sebagaimana disebut dalam agenda transisi energi.

Ibrahim menilai penunjukan Suroso perlu diikuti langkah konkret untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional, terutama ketika pasokan listrik menghadapi tekanan akibat kondisi cuaca dan keterbatasan sumber energi tertentu.

"Karena PLN ini kan bukan saja bergerak di bidang energi tenaga uap, ya kemudian tenaga diesel, kemudian tenaga air, nah juga dengan energi terbarukan," ujar Ibrahim.

Ia juga menyoroti rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir pada masa mendatang. Menurutnya, agenda tersebut menuntut kesiapan kepemimpinan, perencanaan, dan kemampuan teknis dalam mengelola beragam sumber energi.

Ibrahim menyoroti gangguan pasokan listrik yang disebut terjadi di Batam dan sejumlah wilayah di Jawa. Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan tekanan terhadap pembangkit listrik tenaga air (PLTA) akibat kekeringan yang dikaitkan dengan fenomena El Nino.

Kondisi tersebut, menurut Ibrahim, menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber energi agar pasokan listrik tidak terlalu bergantung pada pembangkit yang kinerjanya dipengaruhi ketersediaan air.

Ia memperkirakan kondisi kekeringan dapat berlangsung hingga Januari. Karena itu, Ibrahim mendorong pengembangan energi terbarukan mendapat dukungan serius agar dapat membantu memperkuat pasokan listrik ketika sumber energi tertentu menghadapi kendala.

"Ya ini kekeringan ya berarti energi terbarukan ini harus disupport habis," katanya.

Meski demikian, kemampuan energi terbarukan untuk menopang pasokan listrik saat kekeringan bergantung pada jenis teknologi, kapasitas terpasang, kesiapan jaringan, dan ketersediaan sistem penyimpanan atau sumber pembangkit pendukung. Pengembangan kapasitas pembangkit perlu diikuti perencanaan sistem yang memastikan pasokan listrik tetap andal.

Danantara Jadi Pendukung Pendanaan Energi Terbarukan

Selain kesiapan teknis, Ibrahim menyoroti kebutuhan pendanaan untuk mempercepat proyek energi terbarukan. Ia menyebut Danantara dapat menjadi salah satu sumber dukungan pembiayaan bagi pengembangan proyek tersebut.

Menurut Ibrahim, kemampuan Suroso menyusun strategi dan memaparkan kebutuhan investasi akan menjadi faktor penting dalam mendorong dukungan pendanaan. Ia menyinggung laba Danantara yang disebut mencapai Rp120 triliun dan menilai alokasi sekitar Rp50 triliun untuk energi terbarukan dapat memberikan dorongan signifikan apabila direalisasikan.

"Danantara pun juga sudah masuk. Berarti kan membutuhkan seorang direktur utama yang menguasai tentang apa? Tentang energi terbarukan. Nah, energi terbarukan ini dikuasai (Dirut Suroso) kemudian dia bisa melakukan (kerja sama) dengan Danantara. Kemungkinan Danantara akan mengeluarkan dana yang cukup besar dan bisa menjadi pendukung pendanaan proyek energi terbarukan,” kata Ibrahim.

Pemerintah sebelumnya telah meluncurkan program PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) pada 25 Agustus 2026. Program tersebut diawali dengan 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan kapasitas gabungan 5,3 GWp.

Selain itu, Ibrahim juga menyoroti pentingnya optimalisasi proyek energi terbarukan yang masih dalam tahap pengembangan. Menurutnya, diversifikasi sumber energi pembangkit Listrik menjadi kunci PLN sesuai RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) 2025-2034.

Ibrahim berharap kepemimpinan baru PLN mampu menyelaraskan pengembangan energi terbarukan, pemeliharaan pembangkit konvensional, kelancaran logistik energi, dan pemerataan akses listrik. Keberhasilan strategi tersebut akan sangat bergantung pada perencanaan teknis, kesiapan pendanaan, koordinasi lintas sektor, serta pelaksanaan proyek di lapangan.

Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.