Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar menggembirakan datang dari dunia kedokteran. Sejumlah penderita kebutaan turunan kini mulai dapat melihat kembali, berkat pengobatan eksperimental yang menggabungkan terapi gen dan kacamata canggih.
Hasil uji coba ini dipublikasikan dalam jurnal kedokteran ternama The New England Journal of Medicine oleh Jose-Alain Sahel dari University of Pittsburgh dan Botond Roska dari Institute of Molecular and Clinical Ophthalmology Swiss, dikutip Rabu (14/10/2026).
Para peneliti menguji metode ini pada penderita retinitis pigmentosa, penyakit keturunan yang merusak sel penangkap cahaya di mata secara bertahap. Awalnya penglihatan malam menghilang, lalu pandangan menyempit, dan akhirnya penderitanya dapat benar-benar buta. Lebih dari 100 jenis gen dapat menyebabkan penyakit ini, sehingga sulit ditemukan obat yang berlaku untuk semua.
Metode yang disebut terapi optogenetik ini bukan menyembuhkan kerusakan mata secara utuh, melainkan memberikan kemampuan baru pada sel saraf yang tersisa. Berikut langkahnya:
- Suntikan gen - Virus yang telah dimodifikasi dimasukkan ke salah satu mata. Ia membawa instruksi untuk memproduksi protein peka cahaya bernama ChrimsonR pada sel saraf mata yang masih hidup
- Kacamata khusus - Perangkat ini dilengkapi kamera yang mengubah pemandangan menjadi pola cahaya berwarna kuning keemasan. Cahaya tersebut kemudian diproyeksikan ke mata untuk mengaktifkan protein yang baru terbentuk
- Otak menerima sinyal - Sel saraf yang kini peka cahaya mengirimkan pesan ke otak, sehingga penglihatan mulai terbentuk kembali
"Terapi gen menanamkan sensor cahaya ke retina yang sudah buta, sehingga mata kembali peka terhadap cahaya. Kacamata tersebut menyediakan rangsangan cahaya pada gelombang yang tepat agar sensor itu bekerja," jelas tim peneliti yang dipimpin oleh José-Alain Sahel dan Botond Roska, seperti dikutip oleh Science Alert.
Dalam uji coba pada 10 orang yang mengalami kebutaan mendalam:
- 7 orang menunjukkan peningkatan kepekaan terhadap cahaya, ada yang hingga 62 kali lipat lebih tajam
- 4 orang secara konsisten mampu mendeteksi, menentukan letak, dan menyentuh benda seperti buku catatan di hadapannya
- Belum bisa mengenali wajah maupun membaca tulisan - hal ini masih menjadi target pengembangan selanjutnya
Peserta perlu berlatih mengenali pola yang muncul, dan mereka yang lebih rajin berlatih cenderung memperoleh hasil lebih baik. Rekaman aktivitas otak juga mengonfirmasi sinyal penglihatan benar-benar sampai ke pusat pengolahan pandangan.
Secara umum pengobatan ini dinilai aman. Sebagian peserta mengalami peradangan di dalam mata yang dapat diobati, dan satu kejadian serius berupa penyumbatan pembuluh darah yang segera membaik.
"Yang belum tercapai adalah kemampuan mengenali wajah dan membaca. Kami sedang berupaya meningkatkan kepekaan sensor agar dapat memberikan pandangan yang lebih lengkap." kata tim peneliti.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]