Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memfasilitasi pengelolaan dan pembangunan sanitasi berkelanjutan melalui kegiatan pendampingan masyarakat dalam mengelola air limbah domestik di Kota Bandarlampung dengan sasaran Kelurahan Pesawahan.

"Peningkatan pembangunan fasilitas pengelolaan air limbah domestik merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas kawasan permukiman, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat," ujar Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (PKPCK) Provinsi Lampung August Riko, di Bandarlampung, Jumat.

Ia mengatakan dalam kemitraan ini, Dinas PKPCK Provinsi Lampung telah mempersiapkan pembangunan infrastruktur pengelolaan air limbah domestik, sebagai bentuk implementasi sanitasi berkelanjutan.

"Pembangunan fisik direncanakan dilaksanakan tahun depan. Namun keberhasilan program juga ditentukan oleh hasil pendampingan masyarakat, serta kemampuan warga memanfaatkan serta memelihara sarana sanitasi," ujar dia.

Dia menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pemprov Lampung melalui Dinas PKPCK Provinsi Lampung dalam mendukung penanganan kawasan permukiman sesuai SK Kawasan Permukiman Kumuh Provinsi Lampung.

"Ini dilakukan dengan kerja sama multipihak, dengan Pemerintah Kota Bandarlampung ikut serta memperkuat dukungan lintas sektor, sementara YSC Indonesia mendampingi masyarakat agar siap memanfaatkan dan memelihara infrastruktur sanitasi secara berkelanjutan," katanya.

Ia melanjutkan proses pendampingan masyarakat akan dilaksanakan pada periode Juli-September 2026, yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sanitasi aman, mendorong perubahan perilaku, serta memperkuat kelembagaan masyarakat sebagai persiapan sebelum pembangunan infrastruktur dilaksanakan.

Sebagai dasar pelaksanaan pendampingan, YSC Indonesia telah melakukan asesmen kondisi sanitasi di wilayah sasaran. Hasil asesmen menunjukkan penurunan kualitas sanitasi di sejumlah wilayah Kelurahan Pesawahan akibat kerusakan infrastruktur karena banjir, minimnya pemeliharaan sarana sanitasi, serta masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur.

Asesmen juga menemukan sejumlah septik tank tidak lagi berfungsi optimal karena tidak pernah dilakukan penyedotan lumpur tinja secara berkala, sehingga menyebabkan toilet mampet dan pada beberapa kasus memerlukan rehabilitasi maupun penggantian sarana sanitasi.

"Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan dan memelihara fasilitas yang dibangun," katanya lagi.

Tanggapan tambahan dikatakan oleh Direktur Eksekutif Yayasan Sagara Cita (YSC) Indonesia Iffah Rachmi.

Menurut dia, hasil asesmen yang telah dilakukan menjadi dasar penyusunan strategi pendampingan masyarakat, sebelum pembangunan infrastruktur dilaksanakan.

"Pembangunan sanitasi tidak cukup hanya membangun infrastruktur. Masyarakat juga perlu memahami cara menggunakan, merawat, dan mengelola fasilitas sanitasi agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka Panjang," ujar Iffah Rachmi.

Selain itu, infrastruktur yang akan dibangun perlu memperhatikan aspek ketahanan iklim, terutama agar tetap berfungsi secara optimal saat menghadapi banjir maupun kondisi kekeringan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh akses sanitasi yang aman, tetapi juga memiliki sistem sanitasi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

"Selama periode pendampingan, YSC Indonesia akan melaksanakan edukasi, pendampingan masyarakat, serta memfasilitasi pembentukan kelompok masyarakat untuk mendukung pengelolaan dan pemeliharaan sarana sanitasi setelah pembangunan selesai," kata dia lagi.

Ia mengatakan komitmen yang telah ditandatangani warga menjadi langkah awal menuju pembangunan dan pengelolaan sanitasi yang berkelanjutan di Kelurahan Pesawahan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, program ini diharapkan dapat menghadirkan layanan sanitasi yang aman dan tangguh terhadap perubahan iklim, meningkatkan kualitas lingkungan permukiman, mengurangi risiko penyakit berbasis lingkungan, serta mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan berdaya.

Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bappeda Kota Bandarlampung Fitri Yanti menegaskan bahwa pembangunan sanitasi perlu diiringi perubahan perilaku masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Ia juga mendorong agar kebutuhan sanitasi menjadi perhatian dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), sehingga memperoleh dukungan pembangunan yang berkelanjutan.

Menurut dia, Puskesmas Pasar Ambon juga memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan air limbah domestik dan perilaku hidup bersih dan sehat. Dalam sesi tersebut disampaikan bahwa sekitar 60 persen sampel sumber air yang diperiksa masih menunjukkan adanya pencemaran bakteri Escherichia coli (E. coli), sehingga perbaikan sanitasi menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah penyakit berbasis lingkungan.

Pembangunan fasilitas pengelolaan limbah domestik tersebut akan dilaksanakan di tiga titik, dengan tiga prioritas sasaran di Kelurahan Pesawahan, yakni di RT 25, RT 27, dan RT 35, dengan jumlah penerima manfaat langsung program kurang lebih sebanyak 330 orang.

Dengan adanya upaya penguatan sanitasi berkelanjutan melalui pembangunan fasilitas pengelolaan limbah domestik tersebut Pemprov Lampung berupaya untuk mengurangi deliniasi kawasan permukiman kumuh sesuai kewenangannya di setiap kabupaten dan kota di provinsi ini.

Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.