Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur resmi mengintegrasikan basis data sektor lingkungan hidup antar-perangkat daerah lewat aplikasi Sistem Informasi Kehati (Sihati) guna menyelamatkan aset keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kaltim Joko Istanto di Samarinda, Selasa, menegaskan sistem informasi ini wajib menjadi dasar pengambilan kebijakan ekologis yang akurat, bukan sekadar pelaporan administrasi.

"Kalimantan Timur memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat penting. Kekayaan tersebut juga merupakan tanggung jawab yang harus kita kelola dan kita jaga agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat," ujarnya saat membuka Pelatihan Penggunaan Aplikasi SIHATI di Samarinda.

Pelatihan yang diikuti perwakilan perangkat daerah di lingkungan Pemprov Kaltim ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam memantau perkembangan program, mengevaluasi capaian, serta mengidentifikasi kendala pelaksanaan Rencana Induk Pengelolaan (RIP) Keanekaragaman Hayati.

Menurut dia, tantangan pengelolaan keanekaragaman hayati tidak hanya terletak pada perencanaan, tetapi juga kemampuan pemerintah memantau, mengukur, dan menindaklanjuti setiap program berdasarkan data yang valid.

Melalui Sihati, pemerintah dapat memutakhirkan, memvisualisasikan, dan memanfaatkan informasi tersebut secara riil di lapangan.

Dalam kesempatan itu, ia menekankan tiga poin penting yang harus diperhatikan oleh para peserta pelatihan, yakni penguatan koordinasi dan integrasi data antar-perangkat daerah. Pengelolaan keanekaragaman hayati melibatkan lintas sektor sehingga diperlukan kesamaan pemahaman mengenai kebutuhan data, sumber informasi, indikator pemantauan, serta mekanisme pemutakhiran.

Selain itu, peningkatan kualitas dan validitas data. Informasi yang dimasukkan ke dalam sistem harus bersumber jelas, diperbarui secara berkala, konsisten, dan dapat diverifikasi. Tanggung jawab ini melekat pada setiap instansi sesuai kewenangan, bukan hanya pada operator aplikasi.

Selain itu, pemanfaatan hasil pemantauan sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang terkumpul harus diolah menjadi informasi taktis untuk menentukan arah kebijakan dan langkah tindak lanjut yang tepat.

“Nilai utama Sistem Informasi Kehati ini bukan terletak pada banyaknya data yang terkumpul, melainkan pada kemampuan kita menggunakan data tersebut untuk menentukan langkah yang lebih tepat,” kata Joko.

Ia menambahkan apabila terdapat indikator yang belum tercapai, instansi terkait harus segera mengidentifikasi penyebabnya. Sebaliknya, program yang menunjukkan perkembangan baik perlu dievaluasi untuk dipertahankan atau dikembangkan.

Melalui optimalisasi aplikasi Sihati ini, DLH Kaltim berharap pemantauan RIP Keanekaragaman Hayati berjalan lebih terarah dan terukur, sekaligus memperkuat sinergi antar-lembaga demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat hingga generasi mendatang.

Pewarta: Arumanto
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.