Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen mengalokasikan anggaran pada 2027 untuk merevitalisasi infrastruktur dan fasilitas UPTD Taman Budaya Kaltim di Samarinda guna mengoptimalkan fungsinya sebagai ruang kreatif bagi pelaku seni daerah.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji di Samarinda, Selasa, mengatakan fasilitas kebudayaan tersebut memerlukan pembenahan menyeluruh agar dapat berfungsi optimal sebagai pusat kegiatan, tempat latihan, ruang diskusi, sekaligus panggung pertunjukan karya seni yang representatif.
"Kami ingin Taman Budaya menjadi tempat berkumpulnya para seniman untuk bertukar pikiran dan memperbanyak khazanah budaya. Mereka juga bisa latihan lalu tampil di panggung yang megah," ujarnya usai membuka Temu Karya Taman Budaya Regional Kalimantan IV Tahun 2026 di Panggung Utama Terbuka UPTD Taman Budaya Kaltim, Samarinda.
Ia menginstruksikan perangkat daerah terkait, termasuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim, mematangkan perencanaan revitalisasi tersebut.
Menurutnya, aspek krusial yang harus dibenahi meliputi infrastruktur panggung pertunjukan, sistem tata suara yang memadai, hingga pengelolaan kebersihan lingkungan.
Ia menjelaskan ajang Temu Karya regional ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pelestarian tradisi, sekaligus mendorong pengembangan seni budaya sebagai pilar ekonomi kreatif yang mampu menopang ekonomi kerakyatan dan nasional.
Kegiatan yang mengusung tema “Etam Rawat Tradisi untuk Jaga Nusantara” ini diikuti oleh kontingen dari lima provinsi di Kalimantan, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara, serta perwakilan UPT Taman Budaya Sendawar dari Kabupaten Kutai Barat.
Ia mengapresiasi UPTD Taman Budaya dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim yang telah memfasilitasi pertemuan antardaerah tersebut sebagai ruang memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan ke generasi muda.
Seno mencontohkan kesenian tradisional Kaltim, seperti musik tingkilan, tarzul, dan tari Jepeng, sebagai warisan yang harus terus dikenalkan kepada generasi penerus melalui ruang pertunjukan dan kegiatan pembelajaran di Taman Budaya agar tidak tergerus zaman.
Demi optimalisasi ke depan, Pemprov Kaltim juga mengharapkan masukan dan saran dari Dewan Kesenian Daerah Kaltim agar pemanfaatan fasilitas ini memberikan dampak kesejahteraan langsung bagi para seniman dan masyarakat penikmat seni.
Sejarah
Kompleks UPTD Taman Budaya Kaltim yang berlokasi di Jalan Kemakmuran, Samarinda, memiliki sejarah panjang dalam pelestarian seni daerah sejak digagas pertama kali pada 1976.
Pembangunan fisik direalisasikan bertahap mulai 1978 di atas lahan hibah seluas 2,6 hingga 3,5 hektare, sebelum akhirnya diperkuat secara kelembagaan melalui surat keputusan gubernur pada 24 September 2001.
Dalam perjalanannya, kompleks ini mengalami beberapa kali renovasi parsial, termasuk transformasi Gedung Teater Terbuka menjadi Gedung Workshop, serta pengembangan Laboratorium Seni menjadi Gedung Wadah Bahimung yang kini menjadi gedung pertunjukan utama.
Pemeliharaan berkala juga dilakukan pada area Sanggar Seni dan Wisma Seni.
Meski saat ini tergolong aktif dengan agenda rutin seperti pergelaran seni pelajar mingguan dan pelatihan alat musik tradisional (gambus dan sapeq), infrastruktur penunjang teknologi dan estetika di kompleks kesenian tertua di Samarinda ini dinilai belum representatif untuk industri ekonomi kreatif kontemporer.
Sebagian besar gedung masih menggunakan desain standar lama, sehingga kenyamanan dan daya tampung fasilitas penunjang bagi penikmat seni maupun kreator modern belum optimal.
Oleh karena itu, komitmen anggaran Pemprov Kaltim pada 2027 akan difokuskan pada perbaikan mendesak fasilitas pertunjukan utama. Prioritas diarahkan pada renovasi panggung pertunjukan terbuka dan tertutup untuk meningkatkan kekuatan struktur pementasan kolosal.
Selain itu, pembaruan teknologi akan menyasar instalasi sistem tata suara dan tata cahaya berskala profesional setara gedung teater modern.
Revitalisasi ini juga mencakup pembenahan fasilitas umum, penataan lanskap luar ruang, perbaikan sanitasi toilet, serta pengelolaan kebersihan agar kawasan tersebut bertransformasi menjadi ruang publik hijau yang inklusif.
Pewarta: Arumanto
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.