Bengkulu (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu mencatat sebanyak 1.350 titik api atau hotspot terdeteksi di wilayah setempat hingga akhir Agustus 2026.

"Dari Januari hingga 27 Agustus 2026, sebaran hotspot atau titik api ini terdapat di beberapa kabupaten, yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam upaya pencegahan dan kesiapsiagaan karhutla,” kata Kepala DLHK Provinsi Bengkulu Safnizar di Bengkulu, Selasa.

Safnizar mengatakan data hotspot tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan upaya pencegahan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Data tersebut juga menjadi pertimbangan dalam menyiapkan personel serta penempatan sarana dan prasarana untuk mendukung respons cepat ketika terjadi kebakaran.

Dari 1.350 hotspot yang tercatat, Kabupaten Kaur menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni sebanyak 366 titik. Kondisi itu menurut dia menunjukkan sebaran hotspot di wilayah Provinsi Bengkulu tidak merata.

Kemudian, lanjut dia data tersebut juga perlu disandingkan dengan data indikasi luas kebakaran agar pemerintah memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi karhutla di lapangan.

Berdasarkan data indikasi luas kebakaran hutan dan lahan, menurut Safnizar tercatat luasan mencapai 125,15 hektare. Sebaran indikasi luas kebakaran tersebut juga tidak merata di seluruh wilayah Bengkulu.

“Apabila kita sandingkan antara data titik api dengan data luas kebakaran, maka terdapat kebutuhan untuk meningkatkan analisis spasial dan verifikasi di lapangan,” ujarnya.

Safnizar menjelaskan analisis dan verifikasi lapangan diperlukan agar pemerintah tidak hanya mengetahui lokasi munculnya hotspot, tetapi juga dapat mengidentifikasi kemungkinan, lokasi kejadian, karakteristik wilayah, penyebab, pola kejadian serta faktor yang mempengaruhi terjadinya kebakaran.

Informasi yang lebih lengkap, kata dia dibutuhkan untuk menentukan langkah pencegahan yang efektif sekaligus menyesuaikan kesiapsiagaan dengan kondisi masing-masing wilayah.

"Kita tidak boleh menunggu sampai kebakaran menjadi besar baru kemudian bergerak. Deteksi dini harus menjadi tindakan pertama, pencegahan harus menjadi prioritas, respons cepat harus menjadi budaya kerja dan koordinasi harus menjadi kekuatan kita bersama," kata Safnizar.

DLHK Provinsi Bengkulu selanjutnya, kata dia akan memperkuat upaya pencegahan dan pengawasan melalui patroli terpadu, sosialisasi dan edukasi kepada semua pihak.

Upaya itu dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing untuk memperkuat pencegahan, deteksi dini, serta penanganan karhutla di wilayah Bengkulu.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.