Denpasar (ANTARA) - Pemprov Bali memastikan anggaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali sudah mencukupi untuk mengantisipasi dampak memasuki musim hujan.

"Kalau anggaran untuk bencana masih ada, (pos) belanja tidak terduga masih cukup, dan setiap ada kebutuhan terkait penanganan bencana selalu kita realisasikan," kata Gubernur Bali Wayan Koster di sela Sidang Paripurna DPRD Bali di Denpasar, Senin.

Ia menyampaikan tidak ada perubahan maupun kenaikan nominal pagu anggaran kebencanaan pada Raperda Perubahan APBD 2026 yang sedang dibahas bersama dewan.

Menurut Koster, alokasi anggaran induk yang ada saat ini masih sangat memadai mengingat realisasinya baru mencapai 50 persen, serta BPBD Bali dinilai telah menjalankan manajemen antisipasi dengan baik.

Terkait proses pembahasan Raperda Perubahan APBD 2026 secara keseluruhan, Koster mengapresiasi pandangan dan masukan dari seluruh fraksi di DPRD Bali.

Berdasarkan data BPBD Bali, total alokasi anggaran BPBD Bali tahun 2026 tercatat sebesar Rp24,8 miliar.

Dari jumlah tersebut, porsi anggaran prioritas dialokasikan sebesar Rp6.480.967.384 (Rp6,4 miliar lebih), sedangkan anggaran penunjang mencapai Rp18.354.438.866 (Rp18,3 miliar lebih).

Pemprov Bali menjadikan kesiapsiagaan anggaran dan mitigasi ini perhatian serius untuk menyikapi datangnya musim hujan mulai September, guna mencegah terulangnya dampak dari hujan lebat dan banjir besar tahun 2025 lalu.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bali Gede Teja Bhusana menambahkan pihaknya telah mengintensifkan berbagai langkah mitigasi teknis dan operasional di lapangan.

"Pertama, kami melakukan penguatan sistem peringatan dini, selain informasi cuaca yang disebarkan ke berbagai media untuk diatensi masyarakat, kami juga memasang sirine banjir di Tukad Badung," kata Gede Teja.

Langkah kedua, BPBD Bali telah menggelar latihan simulasi berbasis rencana kontinjensi di Kota Denpasar untuk mengevaluasi serta belajar dari permasalahan banjir periode sebelumnya. 

Ketiga, latihan kesiapsiagaan tanggap bencana banjir saat ini juga sedang dilaksanakan bersama Korem 163/Wira Satya.

Gede Teja menyampaikan antisipasi banjir juga dilakukan lewat pendekatan struktural dan lingkungan yang melibatkan lintas sektor.

Hal itu mencakup penguatan pengelolaan sampah, penanaman pohon untuk memperluas tutupan lahan hijau, penertiban bangunan liar atau yang melanggar aturan, perbaikan saluran drainase, pengerukan sedimentasi sungai, hingga pembenahan SOP pintu air.

"Semua itu dilakukan oleh sektornya masing-masing sesuai tugasnya, dari kami sendiri juga terus menguatkan kapasitas logistik dan peralatan untuk mengantisipasi dampaknya," tuturnya.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.