Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengembangkan sistem budidaya hidroganik dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian perkotaan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang terbatas.

“Kami mengembangkan hidroganik sebagai salah satu bentuk penerapan Urban Farming yang dapat memanfaatkan lahan sempit secara lebih produktif,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu Lukman di Palu, Minggu.

Ia menjelaskan hidroganik merupakan sistem budidaya hidroponik berbasis organik yang cocok diterapkan di wilayah perkotaan karena dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas.

Menurut dia, sistem tersebut mengintegrasikan budidaya tanaman dengan perikanan dalam satu ekosistem. Tanaman menggunakan media berupa campuran tanah dan bokashi, sedangkan di bagian bawah instalasi terdapat kolam ikan yang menghasilkan nutrisi alami bagi tanaman.

Dengan konsep tersebut, kebutuhan unsur hara tanaman diperoleh dari hasil metabolisme ikan sehingga penggunaan pupuk kimia dapat ditekan.

Selain itu, satu instalasi hidroganik dapat digunakan untuk membudidayakan berbagai komoditas, mulai dari sayuran, cabai, tomat, bawang hingga padi.

Sebagai langkah awal pengembangan, Pemkot Palu menebar 3.000 benih lele dan 1.000 benih nila pada dua unit instalasi hidroganik.

Selain penebaran benih ikan, dilakukan pula penanaman bawang varietas Lembah Palu dan bawang merah sebagai komoditas awal yang dikembangkan melalui sistem tersebut.

“Ini menjadi langkah awal pengembangan model pertanian perkotaan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan di Kota Palu,” ujarnya.

Baca juga: Budidaya aquaponik wujudkan ketahanan pangan keluarga

Baca juga: Unand bantu penerapan listrik tenaga surya pada usaha tani aquaponik

Pengembangan hidroganik tersebut turut dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat. DPKP Kota Palu melaksanakan pelatihan budidaya hidroganik yang diikuti 40 peserta, terdiri atas petani, Kelompok Wanita Tani (KWT), dasawisma, dan penyuluh pertanian.

Peserta mendapat pembekalan langsung mengenai teknologi budidaya hidroganik dari pemateri sekaligus Owner Bengkel Mimpi asal Kabupaten Malang.

Selain mempelajari budidaya hidroganik, peserta juga dibekali keterampilan membuat komposter untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair.

Lukman mengatakan keterampilan tersebut juga direncanakan diterapkan dalam Program Kelurahan Menanam sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah organik di tingkat masyarakat.

Ia berharap penerapan teknologi hidroganik dapat memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan ketersediaan pangan sehat bagi masyarakat, serta menciptakan kawasan perkotaan yang lebih produktif dan berwawasan lingkungan.

Baca juga: Pemkot Jaktim pilih sekolah percontohan pengembangan urban farming

Baca juga: Urban farming, strategi adaptasi perubahan iklim kawasan perkotaan

Baca juga: PTBA terapkan "EcoGrow Mom" bina perempuan berbasis "urban farming"

Pewarta: Nur Amalia Amir
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.