Lombok Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat berkolaborasi dengan gabungan organisasi wanita (GWO) menghadirkan khitanan masal dalam rangka meringankan beban masyarakat.
Wakil Bupati Lombok Timur HM Edwin Hadiwijaya di Lombok Timur, Kamis, menyampaikan rasa syukur atas kuatnya komitmen kolaborasi dari berbagai pihak dan diharapkan kegiatan sosial ini dapat menjadi agenda tahunan.
"Program ini diharapkan menjadi agenda rutin," katanya.
Ia mengatakan ada program pemberdayaan dari BPJS Kesehatan yang perlu dikawal dan bimbing bersama, agar pemanfaatan dana santunan yang sudah diberikan pemerintah tepat sasaran dan tidak habis begitu saja.
Kepada para petugas khitan, wakil bupati berpesan agar ramah dan komunikatif, sehingga masyarakat tidak ragu untuk bertanya jika menghadapi kendala.
"Petugas wajib menyapa dan memperkenalkan diri dengan baik kepada orang tua anak-anak peserta khitan," katanya.
Selanjutnya, terkait momentum pelaksanaan, Wabup menyarankan agar dapat diselaraskan dengan momen tertentu seperti Hari Anak Nasional atau memanfaatkan momen bulan-bulan Hijriah yang penuh berkah.
Sementara itu Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Lombok Timur Hj Sri Mahyu Wardani Edwin menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kehadiran serta dukungan semua pihak menyukseskan kegiatan tersebut.
"Awalnya kami menduga kuota peserta baru akan terpenuhi dalam waktu tiga minggu," katanya.
Namun luar biasa, begitu pamflet digital kegiatan ini disebarkan, hanya dalam waktu singkat yaitu empat hari, kuota awal sebanyak 50 anak langsung terpenuhi.
Baginya, lonjakan pendaftar ini merupakan sebuah amanah sekaligus bentuk kepercayaan berharga dari masyarakat. Kepercayaan inilah yang menjadi motivasi bagi kami untuk menjadikan kegiatan ini agenda tahunan, sebagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
"Tercatat sebanyak 53 peserta anak telah terdaftar untuk mengikuti sunatan massal," katanya.
Khitanan tersebut menggunakan metode sunat modern yang saat ini banyak dipilih oleh masyarakat, sehingga memberikan kenyamanan bagi anak-anak dan orang tua.
Metode tersebut tidak menggunakan jarum suntik untuk proses pembiusan, sehingga dapat meminimalisasi rasa takut pada anak.
"Tim medis membuka 10 meja tindakan sekaligus secara paralel. Proses penanganan untuk satu anak pun tergolong sangat singkat, hanya memakan waktu sekitar 10 hingga 15 menit," katanya.
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026