Pemkab Lamsel targetkan stunting terendah di Indonesia menuju zero stunting

Kamis, 1 Oktober 2026 20:33 WIB

Image Print

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lampung Selatan Zita Anjani dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPPS) Kabupaten Lampung Selatan melalui Zoom Meeting di Aula Krakatau, Kantor Bupati setempat, Kamis. ANTARA/Riadi Gunawan

Target kita bukan sekadar berada di bawah angka nasional

Lampung Selatan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Pemkab Lamsel) menargetkan angka stunting di daerah itu menjadi yang terendah di Indonesia sebagai bagian dari upaya mewujudkan generasi emas dan menuju zero stunting.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lampung Selatan Zita Anjani, Kamis, mengatakan apresiasi Pemerintah Provinsi Lampung terhadap kinerja Lamsel dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting harus menjadi pemacu untuk bekerja lebih cepat dan terukur.

“Target kita bukan sekadar berada di bawah angka nasional. Saya ingin Lampung Selatan menjadi daerah dengan angka stunting terendah di Indonesia. Kalau targetnya zero stunting, maka kita mulai dengan menurunkannya secepat mungkin,” kata dia.

Ia menyebutkan stunting Lamsel saat ini berada pada 10,4 persen. Angka tersebut ditargetkan turun menjadi 5 persen pada akhir 2027 dan kembali ditekan menjadi 3 persen atau lebih rendah pada 2028.

Menurut dia, pencapaian target tersebut membutuhkan strategi yang sederhana, efektif, terukur serta didukung data yang mutakhir dan valid.

“Kalau sekarang 10,4 persen, target saya satu tahun pertama turun menjadi 5 persen. Tahun berikutnya harus lebih rendah lagi. Kita masih punya waktu untuk mengejar target tersebut,” ujarnya.

Dia meminta TPPPS memperkuat pembaruan dan validasi data sasaran intervensi sehingga setiap program yang dijalankan dapat diketahui dampaknya secara jelas.

Dia menekankan perlunya mekanisme pelaporan yang jelas agar persoalan yang ditemukan di lapangan dapat segera diketahui, ditentukan penanggung jawabnya dan ditindaklanjuti.

“Kalau saya turun ke lapangan, saya harus tahu siapa yang bertanggung jawab, datanya di mana, dan kalau masyarakat mau melapor harus ke mana. Kita harus punya sistem yang jelas,” katanya.

Selain stunting, Zita menempatkan persoalan putus sekolah sebagai bagian dari agenda pembangunan generasi emas Lamsel.

Ia menargetkan angka putus sekolah yang saat ini sekitar 21 persen dapat ditekan menjadi 10 persen pada tahun pertama dan 5 persen pada tahun berikutnya.

Pewarta : Riadi Gunawan
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.