Keputusan ini diambil menyusul memburuknya kualitas udara akibat pekatnya kabut asap dari karhutla
Berau (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, Kalimantan Timur, memutuskan untuk memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kepada semua jenjang sekolah di wilayah Berau, untuk melindungi siswa dan guru dari paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian memburuk.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Berau M. Hendratno di Tanjung Redeb, Jumat, mengatakan mulai Jumat (18/9) hingga Sabtu (19/9) kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di seluruh satuan pendidikan di kabupaten itu untuk sementara dialihkan menjadi PJJ atau Belajar Dari Rumah (BDR).
Pengalihan KBM ini berlaku bagi seluruh jenjang pendidikan mulai dari PAUD, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA, SMK, dan SLB, baik sekolah negeri maupun swasta.
"Keputusan ini diambil menyusul memburuknya kualitas udara akibat pekatnya kabut asap dari karhutla," kata Hendratno.
Berdasarkan data pemantauan BMKG pada 17 September 2026, tingkat partikulat PM 2,5 di Kabupaten Berau menyentuh angka 81,8 µg/m³. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat serta berisiko mengganggu kesehatan masyarakat.
Hendratno menegaskan keselamatan dan kesehatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, menjadi prioritas utama pemerintah daerah saat ini tanpa mengabaikan hak mereka untuk memperoleh layanan pendidikan.
Sementara itu Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Kalimantan Timur (Kaltim) Ahmadong mengingatkan pihak sekolah untuk tetap mengawal efektivitas belajar siswa.
Ia mengimbau agar materi maupun beban belajar dibuat secara sederhana serta tidak memberatkan siswa maupun orang tua.
"Pembelajaran selama BDR dilaksanakan secara daring atau penugasan terstruktur yang proporsional. Satuan pendidikan juga wajib berkoordinasi dengan orang tua atau wali siswa untuk melakukan pengawasan," ucapnya.
Pihaknya menegaskan penghentian sementara belajar tatap muka ini bukan merupakan libur sekolah. Para guru tetap membimbing dan memantau aktivitas belajar siswa dengan fokus pada penguatan membaca, berhitung, pendidikan karakter, serta edukasi kesehatan.
Selain itu koordinasi terkait pembagian Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) juga tetap dijalankan.
Kebijakan PJJ di sejumlah wilayah Kaltim ini berlangsung secara serentak dalam rentang waktu dua hingga tiga hari, dimulai dari Kamis (17/9) hingga Sabtu (19/9).
Kota Samarinda tercatat sebagai wilayah pertama yang mengambil tindakan tegas setelah kualitas udara di ibu kota provinsi tersebut menyentuh kategori tidak sehat.
Langkah tersebut kemudian disusul secara serentak oleh Kabupaten Berau, Kota Bontang, dan Kabupaten Kutai Timur yang memulai PJJ pada Jumat (18/9) hingga Sabtu (19/9).
Khusus untuk Berau, kebijakan ini merupakan peningkatan dari PJJ parsial yang sempat dicoba sejak awal September.
Sementara itu Kabupaten Kutai Kartanegara memilih menerapkan kebijakan yang lebih fleksibel. Sejak Kamis (17/9) pihak Dinas Pendidikan memberikan wewenang penuh kepada setiap kepala sekolah untuk langsung mengalihkan kegiatan belajar ke rumah jika wilayah kecamatan mereka sudah tertutup asap tebal.
Seluruh pemerintah daerah di Kaltim dijadwalkan akan melakukan evaluasi massal pada Minggu (20/9) untuk menentukan apakah siswa sudah bisa kembali ke sekolah pada Senin mendatang atau masa PJJ harus diperpanjang.
Pewarta: Arumanto
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.