Pemkab Bantul mendistribusikan 2,85 juta liter air bersih selama musim kemarau

Kamis, 17 September 2026 21:19 WIB

Image Print

Personel BPBD Bantul saat melakukan dropping air bersih di Kalurahan Selopamioro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (27/8/2026). ANTARA/HO-BPBD Bantul

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 2.850.000 liter selama musim kemarau tahun ini ke sejumlah wilayah terdampak krisis air.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Peralatan, Rehabilitasi, dan Konstruksi BPBD Bantul Antoni Hutagaol di Bantul, Kamis, mengatakan sekitar delapan kapanewon terdampak kekeringan telah mendapatkan bantuan air bersih tersebut.

"2.850.000 liter itu setara dengan 556 tangki truk air bersih," katanya.

Ia menyebutkan delapan kapanewon yang mendapatkan bantuan air bersih yakni Pundong, Imogiri, Dlingo, Pajangan, Piyungan, Srandakan, Sedayu, dan Kasihan.

"Dari delapan kapanewon, total ada sekitar 16 kalurahan yang menerima bantuan air bersih," ujarnya.

Menurut dia, jumlah distribusi air bersih tahun ini diproyeksikan tidak sebanyak pada masa kekeringan 2023 yang mencapai 11 juta liter air.

"Kalau dulu tahun 2023 sempat mencapai 11 juta liter hingga bulan Desember. Sekarang posisi sampai September baru 2,85 juta liter," katanya.

Ia menilai kemarau panjang akibat El Nino masih akan terus berlangsung dengan prediksi hingga Februari 2027.

Meskipun beberapa wilayah sempat diguyur hujan, lanjut dia, BPBD Bantul masih terus bersiaga apabila terdapat wilayah yang mengajukan bantuan distribusi air bersih.

"Jadi seperti tahun-tahun lalu, sudah hujan kok masih dropping air, karena kenyataannya memang hujannya tidak terlalu besar sehingga kondisi air tanah belum terpenuhi," ujarnya.

BPBD Bantul hingga saat ini masih mempertimbangkan rencana perpanjangan status siaga darurat kekeringan untuk memastikan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi kekeringan yang masih terjadi.

"Selasa pekan depan mungkin kami akan rapat koordinasi. Karena status siaga darurat kekeringan akan habis pada 25 September 2026," katanya.

Pihaknya juga akan mempertimbangkan perkembangan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menentukan perpanjangan status kebencanaan hidrometeorologi di Bantul.

"Nanti kami akan diskusi terkait perkembangan dari BMKG, sepertinya akan diperpanjang periode status siaganya," ujarnya.

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026