Berhentilah meminum air pujian meski disajikan dalam cawan emas Kembalilah ke bumi, dan baca berkali-kali sampai masuk ke jiwamu terdalam: Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah … Tidak untuk manusia.
Jakarta (ANTARA) - Seorang sahabat, pemimpin institusi besar, belakangan ini terlihat sangat sensitif, mudah tersinggung, dan marah-marah.
Ketika melihat beberapa staf berkumpul, ia merasa mereka sedang memperbincangkan dirinya. Ketika para staf tertawa, ia merasa mereka menertawakan dirinya dan menjadikannya bahan lelucon.
Padahal para staf itu tidak sedang membicarakan sahabat tersebut.
Kebiasaannya membaca berbagai pesan di sosial media dan aktif berkomentar di Grup WhatsApp, sudah ditinggalkannya, setelah teman baiknya mengutip syair sufi Jalaluddin Rumi berjudul Kerja.
“Pekerjaan bukanlah seperti yang dipikirkan orang. Pekerjaan bukanlah sesuatu yang jika sedang berlangsung, dapat dilihat dari luar.
Berapa lama lagi kita di Bumi
akan seperti anak-anak,
memenuhi jalan kita dengan debu, batu, dan pecahan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok manusia.”
Syair Rumi itu membuat sahabat tersebut tersinggung, padahal itu berlaku umum, bukan khusus ditujukan kepadanya. Dia marah dan membalas catatan itu, “Apa kamu pikir saya kekanak-kanakan dan bukan manusia?!”
Di ruang kerjanya kini juga sepi dari lagu-lagu cinta Demis Roussos, Everly Brothers, dan Tom Jones. Dahulu lagu-lagu karya para musisi legendaris itu selalu diputar di laptop menemaninya kerja. Ketika Demis Roussos menyenandungkan lagu Goodbye, My Love, Good Bye sahabat itu ikut bernyanyi sebisanya. Apalagi saat menyanyikan lagu Delilah, suaranya bisa parau mengikuti Tom Jones.
Ruang kerja sahabat ini selalu terbuka untuk staf, bahkan karyawan, mengadukan persoalan pekerjaan. Namun kini yang dapat masuk dan berdialog hanya staf-staf yang dipilihnya.
Sahabat ini sudah berbeda, sensitif, tidak lagi suka kritik —yang dinilainya mencari-cari kesalahan dan tidak proporsional. Kritik baginya adalah cara lawan untuk merendahkan kinerja hebat yang telah dicapainya. Padahal, dulu ia gemar mengkritik kinerja atasannya dan menyebutnya sebagai oksigen dalam tubuh, agar tidak mengalami hipoksia.
Dua pekan lalu, dalam pertemuan dengan seluruh staf —pertemuan rutin setiap bulan yang sudah berlangsung sejak lama, sebelum sahabat tersebut menjadi pucuk pimpinan— salah seorang staf menyampaikan pemikiran kritis. Staf yang berani ini mengoreksi data-data yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kesejahteraan tidak meningkat, berbagai kebocoran terjadi. Anggaran tidak sesuai prioritas, sehingga lebih menyiratkan kesan penghamburan daripada manfaat.
Isu ini sebenarnya sudah beredar lama di kalangan karyawan, termasuk isu kepemimpinan yang dianggap lemah, tidak punya inisiatif, dan lebih suka mendengar masukan orang di sekelilingnya saja daripada melihat kenyataan. Tapi, baru kali ini seorang staf mengkritiknya secara terbuka. Ini membuatnya marah, sampai memukul meja.
Sahabat tersebut merasa telah bekerja keras, nyaris tanpa istirahat. Semua tenaga, perasaan, dan pikirannya dicurahkan untuk memajukan institusi. Jadi, dalam pandangan dia, tidak ada alasan apapun bagi orang-orang bodoh dan tidak paham itu untuk mencelanya.
Dari sinilah awal sahabat tersebut menjadi sensitif dan mengisolasi dirinya. Nasihat dianggap sebagai penghinaan. Senyum tulus dianggap sebagai ejekan. Ia seakan mengalami kelelahan mental (burnout), kehilangan rasionalitas, dan juga penurunan kualitas saat mengambil keputusan.
Dalam tekanan perasaan, kritik, dan merasa tidak diapresiasi, seorang pucuk pimpinan — lembaga, perusahaan, organisasi, atau apa pun — akan merasa kesepian, loneliness in leadership (kesepian dalam kepemimpinan). Ia merasa berada di pojok ruangan kosong yang kumuh, lembab, sendiri, kehilangan nilai, rasionalitas, dan pegangan.
Saat situasi seperti itu, pemimpin kesepian berharap sedikit air dalam dahaga apresiasi. Air itu adalah pujian. Dia merasa lebih berarti dalam rimbun pujian meski itu racun dan mematikan.
Sejak itulah, dia lebih suka berdialog dengan staf-staf yang memujinya, menyanjung kinerja dan capaiannya. Dia merasa mereka adalah staf yang paham, adil dalam menilai, dan profesional. Dia dikelilingi orang-orang yang suka memuji. Dan, dia menikmatinya, seperti aktor dalam gemuruh tepuk tangan. Wajahnya kini cerah, penuh semangat, pidatonya meledak-ledak, meski sering sekali berulang-ulang dan apa yang dikatakannya tidak sama dengan yang dilakukannya. Ini jadi bahan cemoohan, tertawaan, dan membosankan.
Para staf yang memujinya, mendapatkan kepercayaan dan keuntungan melimpah. Pemimpin kesepian, seperti sahabat itu, tidak menyadari sedang meneguk racun dalam cawan emas.
Wahai sahabat yang kesepian, racun tidak pernah ditempatkan di cawan yang kotor, melainkan di cawan yang indah, terbuat dari ukiran emas dan permata. Namun seindah apapun cawan itu, semahal apapun, tidak lagi berarti apa-apa ketika isinya kau teguk. Setelah itu, mereka pergi. Kau akan sendiri.
Berhentilah meminum air pujian meski disajikan dalam cawan emas Kembalilah ke bumi, dan baca berkali-kali sampai masuk ke jiwamu terdalam: Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah … Tidak untuk manusia.
Senyum dan sapa kembali semua teman-temanmu yang tidak pernah minta apa-apa, bukan para penjilat yang pandai memotong lidah dan telinga.
Tenangkan dirimu, lihatlah mata bayi yang teduh dan tidak menyimpan sakwasangka. Kini, lupakan semua pujian karena racun selalu dikemas dan disajikan dalam cawan yang indah.
Baca juga: Jejak hijau Indonesia menuju kepemimpinan transisi iklim dunia
Baca juga: Kepala Bappenas: Mahasiswa harus kembangkan kapasitas kepemimpinan
Baca juga: Fadli Zon kemukakan karakter kepemimpinan Soeharto
*) Asro Kamal Rokan, Wapemred Harian Merdeka (1993-1994), Pemred Harian Republika (2003-2005), Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA (2005-2007), anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023), dan kini anggota Dewan Penasihat PWI Pusat (2025-2030)
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.