Bagikan:
JAKARTA - Pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi di Indonesia. Pemantauan dilakukan secara ketat untuk mengantisipasi meluasnya lokasi api di tengah kondisi cuaca yang kering.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengatakan enam provinsi yang menjadi perhatian pemerintah adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Hal tersebut disampaikan Djamari dalam konferensi pers penanganan kebakaran hutan dan lahan di kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Senin 10 Agustus.
“Yang kita waspadai memang ada pada enam provinsi itu, mulai dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dan itu pun sudah kita kendalikan sampai dengan saat ini,” ungkap Djamari.
Djamari menjelaskan pemerintah tidak hanya memantau enam provinsi tersebut. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah lain juga langsung ditangani untuk mencegah api meluas.
Salah satunya kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Menurut Djamari, kebakaran di kawasan tersebut telah berhasil dikendalikan dan hanya menyisakan satu lokasi api.
“Kalau yang enam (provinsi) kita pantau dengan ketat. Ada yang di luar (enam provinsi) nih, seperti misalnya kemarin terbakar di Bromo, itu sudah segera kita tuntaskan. Semalam sudah tuntas, tinggal satu lokasi api saja,” jelasnya.
Selain Gunung Bromo, kebakaran di kawasan Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat, juga disebut telah selesai ditangani. Kondisi serupa terjadi di sekitar Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.
“Kemudian di Jawa Barat juga sudah selesai, di Gunung Gede-Pangrango di situ, itu pun sudah selesai. Kemudian di sekitar Rinjani juga ada, itu juga sudah selesai,” tambah Djamari.
Djamari juga mengungkapkan luas hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia hingga awal Agustus 2026 telah mencapai lebih dari 100.000 hektare. Pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan kebakaran, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC).
BACA JUGA:
Djamari berharap pemerintah dapat menemukan awan hujan dalam beberapa hari ke depan sehingga OMC dapat segera dilakukan. “Semoga kita berharap dalam minggu ini sampai dengan 18 Agustus yang akan datang, kita menemukan awan hujan sehingga kita bisa kemudian OMC kita lakukan,” tegasnya.
Menurut Djamari, keberadaan awan hujan menjadi faktor penting untuk pelaksanaan OMC. Jika kondisi tersebut terpenuhi, pemerintah berharap operasi modifikasi cuaca dapat membantu mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+