Senin, 13 Juli 2026 - 12:05 WIB

VIVA –Pemerintah memperkuat industri pangan lokal dengan mendorong pelaku Industri Kecil dan Menengah atau IKM mengolah bahan baku daerah menjadi produk antara. Langkah ini dijalankan melalui program Indonesia Food Innovation (IFI) 2026: Intermediate Product Edition yang resmi dibuka oleh Kementerian Perindustrian mulai 17 Juni hingga 31 Agustus 2026.

Baca Juga

Produk antara adalah bahan semiolah yang ditujukan sebagai bahkan baku bagi industri pangan lanjutan. Bentuknya bisa berupa tepung sorgum, tepung mocaf, pati sagu, olahan jagung, pangan berbasis umbi, hingga pasta buah dan konsentrat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Strategi ini membuat pangan lokal tidak berhenti sebagai menu alternatif, melainkan didorong masuk ke rantai pasok industry modern. Melalui hilirisasi produk antara, petani mendapat kepastian pasar yang lebih luas, IKM mendapat nilai tambah, dan industry manufaktur besar memperoleh kepastian pasokan bahan baku lokal.

Baca Juga

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan penguatan industri pangan harus dimulai dari bahan baku lokal sampai produk hilir.

“Penguatan industri pangan nasional perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemanfaatan sumber daya lokal, pengembangan produk antara, hingga peningkatan kapasitas pelaku usaha agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri yang lebih luas,” kata Menperin.

Baca Juga

Data Kemenperin menunjukkan industri makanan dan minuman masih menjadi motor utama sektor pengolahan. Pada triwulan I 2026, sektor ini menjadi kontributor terbesar dengan porsi 36,6 persen dengan nilai ekspor yang mencapai USD3,16 miliar pada Maret 2026. Basis pelaku usahanya juga besar. Kemenperin mencatat IKM pangan berjumlah sekitar 2,07 juta unit usaha atau setara 46,63 persen dari total IKM nasional. Karena itu, penguatan IKM pangan lokal dapat langsung menggerakkan ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja. (LAN)

IFI 2026 Fokus ke Produk Antara dan Akselerasi B2B

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

IFI 2026 menjadi pintu untuk memperkuat hilirisasi pangan lokal. Program ini memberi pembinaan kepada IKM pangan agar mampu menghasilkan produk antara yang memiliki standar kualitas tinggi dan siap diserap pasar business-to-business (B2B).

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita, menyebut produk antara memiliki peran penting dalam penguatan industri pangan nasional. Produk antara dapat menciptakan nilai tambah, memperpanjang masa simpan bahan pangan, mengurangi food waste, dan membuka pasar yang lebih luas.

Halaman Selanjutnya

Kemenperin juga menyiapkan dua tahap pembinaan. Pertama, Food Camp yang mencakup strategi bisnis, manajemen risiko, co-manufacturing, tata kelola keuangan, penentuan harga B2B, dan jaminan keamanan pangan. Kedua, Food Business Scale-Up melalui coaching dan mentoring bersama akademisi, praktisi, dan pelaku usaha.