Jakarta (ANTARA) - RW 05, Kelurahan Pela Mampang, menjadi Juara 1 Kampung Siaga Tuberkulosis (TB) dalam Apresiasi Penilaian Kampung Siaga TB Tahun 2026 yang digelar oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan.
"Hingga saat ini, sudah ada 260 Kampung Siaga TB telah terbentuk sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi TB pada 2030," kata Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Jakarta Selatan Tomy Fudihartono saat pemberian apresiasi di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Selasa.
Sementara itu, juara 2 dimenangkan RW 05, Kelurahan Cipete Selatan, dan Juara 3 diraih RW 09, Kelurahan Petukangan Utara. Kemudian, Juara Harapan 1 diraih RW 13, Kelurahan Menteng Dalam, dan RW 01, Kelurahan Cikoko, menjadi Juara Harapan 2.
Tomy mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan terus memperkuat upaya penanggulangan TB melalui pembentukan Kampung Siaga TB di seluruh kelurahan.
Baca juga: Sudinkes Jaksel ajak warga hilangkan stigma terhadap pasien TBC
Menurut dia, penerapan paradigma sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) berperan penting dalam penanggulangan TB di tengah masyarakat. Upaya tersebut juga mengacu pada kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Ini juga sesuai Instruksi Wali Kota Jakarta Selatan Nomor e-0072 Tahun 2024. Seluruh sektor harus bergerak untuk menuju eliminasi TB pada 2030, salah satunya melalui Kampung Siaga TB yang sudah terbentuk di setiap kelurahan," tutur Tomy.
Dia menyebutkan pada 2026, setiap kelurahan ditargetkan membentuk minimal dua RW sebagai Kampung Siaga TB.
Melalui capaian sejak 2025 hingga 2026, Jakarta Selatan kini memiliki 260 Kampung Siaga TB, dengan rata-rata empat kampung di setiap kelurahan.
Tomy pun berharap kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, pihak swasta, hingga unsur masyarakat, di antaranya pengurus RT/RW dan kader, dapat mempercepat penanganan serta pengentasan kasus TB.
"Para camat dan lurah diharapkan terus melakukan pemantauan dan evaluasi. Kami juga mendorong pembentukan Kampung Siaga TB di RW lainnya sehingga nantinya seluruh RW di Jakarta Selatan menjadi Kampung Siaga TB," ujar Tomy.
Lebih lanjut, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Debi Intan Suri menuturkan TB masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat, yang membutuhkan penanganan lintas sektor secara berkelanjutan.
Baca juga: 16.013 warga Jaksel jalani skrining TB melalui CKG hingga Agustus 2026
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga 12 Oktober 2026, tercatat sebanyak 8.662 kasus TB telah ditemukan di wilayah Jakarta Selatan.
"Penanggulangan TB bukan semata-mata urusan puskesmas atau tenaga kesehatan. Perlu dukungan dari kecamatan, kelurahan, RT/RW, kader, keluarga, hingga tokoh masyarakat untuk mendorong deteksi dini, mendukung keberhasilan pengobatan, serta mengurangi stigma terhadap pasien TB," terang Debi.
Dia menuturkan, inisiatif Kampung Siaga TB sudah diterapkan sejak 2024 dan terus berkembang hingga mencapai 260 kampung yang tersebar di seluruh kelurahan di Jakarta Selatan.
Dalam rangkaian penilaian Kampung Siaga TB Tahun 2026, perwakilan dari 10 kecamatan di Jakarta Selatan turut dilibatkan. Proses evaluasi tidak hanya berfokus pada kelengkapan administrasi, tetapi juga mencakup komitmen pemangku wilayah, inovasi, pemberdayaan masyarakat, serta verifikasi lapangan terhadap tiga Kampung Siaga TB terbaik.
Dengan demikian, pemberian penghargaan tersebut bertujuan memotivasi wilayah lain sekaligus mendorong penyebarluasan praktik baik yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Baca juga: Jaksel targetkan 650 ribu warga jalani CKG terintegrasi skrining TB
Baca juga: PDPI Jakarta siap mendukung program kesehatan paru
Pewarta: Luthfia Miranda Putri
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.