Jakarta, CNN Indonesia --
Pejabat Israel dan Spanyol terlibat saling sindir di media sosial di tengah krisis migrasi di Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara.
Perdebatan itu mencuat setelah Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyinggung kebijakan imigrasi Madrid dan status Ceuta sebagai wilayah Spanyol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Danon mengkritik Spanyol yang menurutnya kerap mengecam Israel terkait perang di Gaza, tetapi kini menetapkan keadaan darurat akibat krisis migrasi di Ceuta.
"Spanyol, yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk menggurui Israel, telah menetapkan status darurat di Ceuta menyusul krisis terkait kebijakan imigrasinya," tulis Danon melalui akun X seperti yang dikutip dari Anadolu Agency (AA), Sabtu (1/8).
Danon kemudian menyinggung status Ceuta dan Melilla, dua wilayah Spanyol di pesisir Afrika Utara yang berbatasan dengan Maroko.
"Mungkin sebelum terus menggurui kami, sudah saatnya Spanyol menjelaskan kepada dunia mengapa negara itu masih mempertahankan wilayah-wilayah kantong peninggalan kolonial di Afrika," lanjutnya.
Komentar tersebut kemudian dibalas Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente. Ia mengutip unggahan Danon dan menulis singkat: "Yah, semuanya tampaknya mulai menjadi cukup jelas."
Puente tidak menjelaskan lebih lanjut maksud pernyataannya. Namun, komentar tersebut muncul ketika perdebatan di Spanyol mengenai krisis migrasi Ceuta dan dugaan adanya kepentingan geopolitik di balik situasi tersebut semakin ramai.
Politikus Spanyol tuduh Israel ikut campur
Sejumlah politikus dan komentator Spanyol bahkan menuding Israel berupaya melemahkan pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sanchez sebagai bentuk pembalasan atas sikap Madrid terhadap perang di Gaza.
Komentator politik Spanyol Carolina Alonso menjadi salah satu pihak yang menyampaikan tuduhan tersebut. Ia mengaitkan seruan sejumlah politikus Italia agar Spanyol dikeluarkan dari kawasan Schengen dengan dugaan upaya yang dilakukan melalui Maroko, dengan dukungan Israel serta kelompok sayap kanan di Spanyol dan Eropa.
Alonso juga menuding Amerika Serikat berusaha melemahkan pemerintahan Spanyol untuk memperluas pengaruhnya di sekitar Selat Gibraltar. Menurutnya, krisis migrasi Ceuta tidak bisa dilepaskan dari perebutan kepentingan geopolitik yang lebih luas.
Klaim serupa disampaikan anggota parlemen Spanyol Gabriel Rufián dari Partai Republik Kiri Catalunya (ERC). Ia menyebut krisis migrasi tersebut berpotensi menguntungkan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Meski demikian, Rufián menyerukan agar persoalan tersebut tidak hanya menjadi bahan pertarungan politik antarkelompok. Ia mendorong kesepakatan nasional yang lebih luas untuk menghadapi krisis tersebut.
Ungkit unggahan putra Netanyahu
Perdebatan mengenai dugaan keterlibatan Israel juga kembali mengarah pada unggahan lama Yair Netanyahu, putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Jurnalis Jose Vizner mengunggah kembali sebuah postingan Yair dari 2019 yang pernah menyinggung dugaan dukungan Israel terhadap gerakan separatis di Ceuta dan Melilla.
Vizner kemudian mempertanyakan apakah tekanan migrasi yang kini terjadi di Ceuta merupakan bentuk balas dendam terhadap Sanchez yang pada akhirnya harus ditanggung masyarakat Spanyol.
Komentator Spanyol lainnya, Ruben Gisbert, turut menyampaikan pandangan serupa. Ia mengaitkan meningkatnya tekanan Maroko terhadap status Ceuta dan Melilla dengan masa pemerintahan Sanchez.
Menurut Gisbert, Maroko tidak meningkatkan tuntutannya terhadap kedua wilayah tersebut secara signifikan sebelum Sanchez berkuasa. Ia kemudian menghubungkan perubahan sikap Madrid terhadap Israel dan kedekatannya dengan perjuangan Palestina dengan situasi yang terjadi saat ini.
Berbagai tuduhan tersebut beredar di tengah meningkatnya ketegangan hubungan diplomatik antara Spanyol dan Israel sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023.
(anm/bac)
[Gambas:Video CNN]