Trenggalek, Jawa Timur (ANTARA) - Pasar Jadul Pangupo Jiwo di kawasan hutan pinus kaki Gunung Wilis, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, ramai dikunjungi warga, Minggu.

Pasar kuliner tradisional yang mengusung suasana Jawa tempo dulu itu menjadi ruang promosi produk lokal, sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sebanyak 14 lapak yang dikelola 10 kelompok wanita tani (KWT) dan empat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Bendungan habis dalam waktu kurang dari dua jam sejak pasar dibuka pukul 08.00 WIB.

Pengunjung datang dari berbagai desa hingga luar daerah untuk menikmati aneka makanan dan jajanan tradisional yang disajikan menggunakan wadah alami, seperti daun, gerabah, batok kelapa, dan gelas bambu.

Transaksi juga dikemas menggunakan alat tukar berupa gebog dan koin kuno untuk memperkuat suasana pasar tempo dulu.

“Ini merupakan pasar jadul ketiga yang kami gelar sejak 2 Agustus lalu. Kami merancang pasar ini bersama Pemerintah Kecamatan Bendungan dengan konsep perdagangan masa lalu,” kata pendamping KWT Putri Wilis, Indah Ayu Lestari.

Pedagang melayani pembeli di Pasar Kuliner Pangupojiwo, Desa Dompyong, Bendungan, Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (11/10/2026). Pasar yang digelar setiap Minggu Legi di kawasan hutan pinus lereng Gunung Wilis tersebut menyajikan aneka jajanan tradisional bernuansa tempo dulu dengan sistem transaksi menggunakan alat tukar khas sebagai upaya menghidupkan kembali suasana perdagangan masa lampau, sekaligus mengembangkan wisata rintisan berbasis kuliner dan budaya lokal. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

Mantan Camat Bendungan Sujatmiko, yang menggagas Pasar Jadul Pangupo Jiwo saat masih menjabat, mengatakan, pasar tersebut dirintis sebagai ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya lokal, dan penguatan gotong royong.

"Kegiatan ini sejalan dengan tagline kami, 'nguri-uri budoyo, nguripi ekonomi ekonomi warga' (melestarikan budaya, menghidupkan ekonomi masyarakat lokal). Dari semangat inilah kemudian lahir ide rintisan pasar jadul ini," kata Sujatmiko yang baru pensiun per 1 Oktober 2026 dengan jabatan terkahir Camat Bendungan ini.

Ia berharap Pasar Jadul Pangupo Jiwo yang digelar sebulan sekali setiap Minggu Legi dalam penanggalan Jawa itu kelak bisa berkembang menjadi ikon pasar kuliner bergaya tempo dulu, di Trenggalek.

Pelaksanaan perdana Pasar Jadul Pangupo Jiwo digelar pada 2 Agustus 2026.

Data itu gelaran dilakukan swadaya dan swadana oleh Paguyuban KWT Putri Wilis bersama mahasiswa KKN Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, dengan pendampingan pemerintah kecamatan serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bendungan.

Ternyata, respons masyarakat sangat tinggi.

"Pada gelaran pertama, jualan kuliner peserta ludes dalam tempo kurang dari sejam. Kami lalu lakukan evaluasi dan pengembangan agar eventnya semakin semarak dan maksimal," ujar Sujatmiko.

Pada pelaksanaan kedua, 6 September 2026, pengelolaan pasar diteruskan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dompyong.

Keterlibatan masyarakat desa diharapkan menjaga keberlanjutan kegiatan, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi pelaku usaha setempat.

Selain menjadi tempat berjualan, Pasar Pangupo Jiwo juga membuka ruang bagi kelompok wanita tani dan UMKM untuk memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung.

Tingginya minat masyarakat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kesiapan dagangan, ketersediaan produk, dan pengelolaan lapak.

Ke depan, pasar tersebut diharapkan terus berlangsung setiap Minggu Legi sebagai penggerak ekonomi warga, sarana pelestarian tradisi Jawa, serta daya tarik wisata berbasis masyarakat di Kecamatan Bendungan.

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.