REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri furnitur Indonesia masih memiliki ruang untuk memperluas pasar ekspor, terutama ke Amerika Serikat (AS). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pangsa pasar furnitur Indonesia di AS baru mencapai 0,77 persen, sementara industri furnitur nasional tumbuh 11,82 persen dan mencatat surplus perdagangan sejak 2021.
“Industri furnitur tumbuh dua digit 11,82 persen dan telah mencatatkan surplus dagang sejak 2021, namun dengan pangsa pasar Amerika Serikat yang baru 0,77 persen serta kekayaan bahan baku kayu dan rotan nasional, Indonesia penghasil lebih dari 80 persen rotan dunia, peluang untuk naik kelas dari peringkat ke-25 eksportir furniture dunia masih sangat terbuka,” ujar Airlangga dalam pembukaan rangkaian pameran industri furnitur di NICE, PIK 2, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Menurut Airlangga, peluang tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing industri di tengah ketidakpastian global. Pameran menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pelaku industri dalam negeri dengan pembeli internasional.
“Di tengah eskalasi ketidakpastian global, Indonesia terus memperkuat ketahanan ekonomi domestik dan daya saing industri, dan IFFINA 2026 menjadi sarana strategis untuk memperluas pasar serta mempererat hubungan langsung dengan buyer internasional,” kata dia.
Upaya memperluas pasar ekspor tersebut didukung penyelenggaraan Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect (IMMFC) yang mempertemukan pelaku industri dari sisi hulu hingga hilir.
IMMFC menghadirkan tiga pameran secara bersamaan di NICE, PIK 2, Jakarta, yakni interzum jakartaexhibitor.
Sementara itu, IFMAC WOODMAC yang juga menjadi bagian dari IMMFC berlangsung pada 23-26 September 2026 di JIExpo Kemayoran.
Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) Dedy Rochimat mengatakan, penguatan rantai pasok diperlukan agar industri furnitur nasional semakin kompetitif. Menurut dia, daya saing tidak hanya ditentukan produk jadi, tetapi juga kekuatan bahan baku, efisiensi industri, teknologi, desain, logistik, dan akses pasar.
“Daya saing industri furnitur tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Ketika bahan baku kuat, industri efisien, teknologi berkembang, desain baik, logistik kompetitif, dan akses pasar terbuka, produk furnitur Indonesia akan semakin mampu bersaing di pasar dunia,” ujar Dedy.
Dia mengatakan, Indonesia memiliki modal berupa sumber daya alam dan kemampuan craftsmanship, serta desainer dan pengusaha kreatif yang dapat mendukung pengembangan industri furnitur.
Managing Director dan Regional President Asia-Pacific Koelnmesse Mathias Kuepper mengatakan, penyelenggaraan sejumlah pameran dalam satu rangkaian diarahkan untuk membangun ekosistem industri furnitur yang lebih terintegrasi.
“Melalui joint venture baru kami, Nine Koeln Indonesia, kami membangun platform yang lebih terintegrasi dan menghubungkan rantai nilai furnitur, mulai dari material hingga produk jadi,” ujar Mathias.
Rangkaian pameran tersebut juga mempertemukan pelaku industri material, komponen, perangkat keras, hingga furnitur jadi dalam satu platform bisnis.
Interzum Jakarta menghadirkan material dan komponen melalui tiga segmen, yakni Material & Nature, Function & Components, serta Textile & Upholstery. IHF Indonesia menampilkan perangkat keras dan peralatan, termasuk tools, fasteners, home improvement, alat pelindung diri, serta jaringan pemasok internasional.
hospitality, selain segmen residensial dan desain interior.
Peserta internasional dalam pameran tersebut berasal dari Tiongkok, Hong Kong, Singapura, India, Turki, dan Taiwan. Penyelenggara menargetkan sekitar 15.000 pengunjung selama empat hari melalui pameran dan program Hosted Buyer Programme yang mempertemukan pembeli dengan exhibitor.