Pakar sebut "Smart city" bukan soal banyak aplikasi
Rabu, 30 September 2026 01:20 WIB
Kepala Diskominfo Kota Semarang Didik Dwi Hartono saat membuka kegiatan "Pendayagunaan Single Citizen-Apps untuk Peningkatan Efektifitas Pemerintahan Digital", di Semarang, Selasa (29/9/2026). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)
Semarang (ANTARA) - Pakar Teknologi informasi (TI) Prof Ridwan Sanjaya menegaskan bahwa konsep smart city bukan soal banyak aplikasi yang disediakan pemerintah daerah (pemda) untuk melayani masyarakat.
"Secara awalnya seperti itu. Kemudian karena semua punya sendiri-sendiri, semua OPD punya sendiri-sendiri, membangun sendiri-sendiri, maka ini bisa banyak akun. Akunnya tersebar-sebar," katanya di Semarang, Jawa Tengah, Selasa.
Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara pada "Pendayagunaan Single Citizen-Apps untuk Peningkatan Efektifitas Pemerintahan Digital" yang dilaksanakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Semarang.
Diakuinya, munculnya banyak aplikasi memang suatu tahapan dari konsep smart city, tetapi nantinya akan menjadi satu aplikasi yang terintegrasi, lebih simpel hingga muncul Super App.
"Yang kita lihat saat ini, kita sudah sampai di tahap yang ketiga. Jadi mulai banyak layanan yang dikumpulkan jadi satu. Yang keempat, sudah masuk dalam portal layanan personal," katanya.
Semarang saat ini telah memiliki Super App bernama Semarang Dalam Genggaman Saya (SDGs) yang mengintegrasikan berbagai portal pelayanan publik masyarakat.
"Jadi SSGs ini (wujud, red.) pemerintah hadir. Melalui semangat, yang semula terpisah-pisah layanannya itu berusaha untuk menjadikan satu," katanya.
Untuk mengintegrasikan seluruh layanan atau aplikasi memang tidak mudah, kata dia, tetapi nantinya seluruhnya akan terkumpul menjadi satu, diikuti semangat untuk menyelesaikan persoalan secara cepat.
Pakar IT Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Suhardi mengatakan SDGs secara teknologi dan akseptabilitas sudah bagus, namun masih memerlukan helpdesk untuk merespons cepat setiap pertanyaan atau permasalahan.
Kemudian, penggunaan AI perlu untuk membantu agar pelayanan semakin baik dan cerdas, termasuk dalam pengambilan keputusan terhadap suatu permasalahan bisa lebih cepat.
Sementara itu Kepala Diskominfo Kota Semarang Didik Dwi Hartono menjelaskan aplikasi SDGs mengintegrasikan berbagai layanan, mulai kependudukan hingga pantauan harga sembako.
"Yang terbaru ada Semarang virtual tour. Jadi, jelajah Kota Semarang secara virtual bisa dilihat di Semarang dalam genggaman," katanya.
Menurut dia, setiap penyelesaian permasalahan atau aduan memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP), misalnya untuk laporan jalan rusak tentu harus menunggu anggaran, kecuali kerusakannya ringan.
"Yang bisa langsung mungkin permasalahan-permasalahan kecil ya, bos langsung diselesaikan. Yang sudah meng-upload SDGs sudah 5.000-an orang," katanya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.