Pakar PYFA ingatkan pentingnya nutrisi pada tulang dan sendi cegah cidera lutut
Minggu, 25 Oktober 2026 21:53 WIB
Ilustrasi cidera sendi lutut kaki. ANTARA/HO-Istimewa.
Yogyakarta (ANTARA) - Pakar PYFA Carlinda Nekawaty mengingatkan pentingnya kesiapan nutrisi pada tulang dan sendi karena seringkali menjadi salah satu faktor utama tingginya angka cidera lutut pada pelari rekreasional.
Carlinda dalam keterangan yang diterima di Yogyakarta, mengatakan, oleh sebab itu perlindungan struktural tubuh dari dalam menjadi sebuah langkah preventif yang esensial sebelum meningkatkan intensitas latihan agar fungsi gerak tetap prima.
"Pada individu dengan hasil indeks massa tubuh obesitas, struktur anatomi lutut mereka seringkali tidak sanggup menahan beban berat tubuhnya sendiri saat melakukan olahraga intensitas tinggi seperti berlari," katanya.
Pihaknya sangat tidak menyarankan mereka untuk langsung menjadikan lari sebagai olahraga utama. Orang dengan overweight dan atau obesitas memiliki prevalensi risiko nyeri sendi lutut yang melonjak drastis jika memaksakan lari secara rutin setiap pekan.
"Sangat direkomendasikan untuk berfokus terlebih dahulu pada penurunan berat badan melalui olahraga yang tidak membebani lutut, seperti latihan angkat beban atau jalan santai guna membakar timbunan lemak. Nantinya, otot-otot baru inilah yang akan membantu menopang fondasi tubuh dan menyelamatkan sendi lutut dari kerusakan dini," katanya.
Menurut dia, mengenali dan mematuhi batasan struktural tubuh sendiri adalah sebuah kebijaksanaan yang tidak boleh ditepikan semata-mata demi mengejar eksistensi sosial.
Keputusan melakukan olahraga berbenturan tinggi pada kerangka tubuh yang secara medis belum siap menerima beban repetitif diyakini akan bermuara pada komplikasi kerusakan sendi yang kompleks.
Transisi aktivitas fisik dari gaya hidup minim gerak harus direncanakan secara terstruktur, rasional, dan selaras dengan toleransi fisik masing-masing individu. Peringatan ini menjadi semakin esensial mengingat tren peningkatan berat badan masyarakat yang terus melonjak.
Lebih lanjut, pihaknya mengimbau individu dengan kondisi kelebihan berat badan hingga obesitas klinis, untuk lebih waspada terhadap euforia tren olahraga lari masal, lari seringkali dijadikan opsi utama sekaligus jalan pintas untuk menurunkan berat badan.
Namun, memaksakan diri beralih secara instan menuju olahraga berintensitas tinggi justru menyimpan bahaya laten yang luar biasa bagi pergerakan tubuh. Sistem muskuloskeletal secara mekanis dipaksa untuk menyerap beban kejut yang jauh melampaui batas kewajaran setiap kali telapak kaki membentur aspal.
"Jika terus dipaksakan, kondisi destruktif ini tidak sekadar menimbulkan nyeri otot lokal, tetapi berpotensi memicu robekan rawan sendi permanen yang mempercepat risiko datangnya penyakit osteoartritis di usia muda," katanya.
Data IndonesiaMarathon.com menyebut frekuensi ajang lari nasional melonjak mendekati 1.000 event untuk periode 2025–2026. Antusiasme ini membuat banyak pelari rekreasional mengabaikan kesiapan kondisi fisik dan langsung mengambil jarak tempuh tinggi, yang justru meningkatkan risiko cedera pada kerangka tubuh.
"Langkah pertama yang paling bijaksana dan aman bagi penderita obesitas bukanlah memaksakan diri mengikuti tren lari ekstrem, melainkan berfokus pada upaya membangun fondasi kekuatan otot dan tulang guna melindungi struktur persendian," katanya.
Pewarta : SP
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026