Istanbul (ANTARA) - Bencana banjir bandang dan longsor dahsyat di perbatasan Nepal-China seharusnya menjadi peringatan bagi negara-negara kawasan Himalaya, terutama terkait pembangunan bendungan besar di wilayah pegunungan yang rawan bencana.

“Bencana seperti itu pasti akan selalu terjadi di lingkungan gletser yang dinamis dan aktif secara seismik di Himalaya dan Karakoram yang tinggi,” kata Daanish Mustafa, profesor geografi kritis di King’s College London, kepada Anadolu.

Peringatan itu disampaikan Mustafa saat operasi pencarian hampir 4.500 orang yang hilang masih berlangsung.

Jumlah korban tewas akibat bencana pada 26 Agustus itu telah mencapai 1.130 orang pada Rabu, atau sepekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan kedua negara.

Bencana terjadi setelah gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, retak pada ketinggian sekitar 5.200 meter yang memicu longsoran es dan batu yang berkembang menjadi aliran material besar dan menerjang lembah di sepanjang perbatasan.

Arus air dan lumpur menghancurkan sejumlah wilayah Nepal, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, dan Lembah Kathmandu. Di sisi China, material longsor mengubur pos perbatasan Gyirong di Tibet barat daya.

“Ini adalah insiden yang sangat disayangkan dan, sayangnya, tidak dapat dicegah,” ujar Mustafa.

Di sisi Nepal, sebanyak 3.916 orang masih dilaporkan hilang. Dari jumlah tersebut, 639 orang merupakan personel yang ditempatkan di berbagai proyek pembangkit listrik tenaga air di negara itu.

“Bendungan di pegunungan tinggi justru memperbesar dan memperparah kerusakan akibat kejadian seperti ini. Ini harus menjadi peringatan bagi semua negara, terutama India, China, dan Pakistan yang sedang membangun bendungan besar di kawasan tersebut,” kata Mustafa.

Baca juga: China kirim pasokan bantuan baru dan ahli DNA ke Nepal

Kementerian Luar Negeri China, Rabu, menyatakan bencana tersebut “disebabkan ketidakstabilan gletser akibat dampak jangka panjang dari pemanasan iklim.”

“Longsoran es dan batu terjadi di sebuah gletser di Nepal, meluncur dengan cepat menuruni lereng dan mengikis sisi gunung, yang kemudian memicu bencana,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun kepada wartawan di Beijing.

Mustafa mengatakan klaim resmi dari China dan Nepal itu untuk sementara perlu menjadi acuan hingga penilaian ilmiah independen tersedia.

“Pada saat ini, kita harus mengikuti klaim resmi China dan Nepal sampai penilaian ilmiah independen tersedia, yang mungkin masih membutuhkan waktu,” katanya.

Menurut Mustafa, langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi bencana semacam itu antara lain edukasi publik, latihan evakuasi, infrastruktur komunikasi yang efektif, dan pemantauan.

Mustafa memperingatkan bendungan dapat memperburuk dampak bencana serupa dan meminta masyarakat Asia Selatan memperhatikan peringatan tersebut.

“Bendungan-bendungan itu dapat menyebabkan bencana besar dalam kejadian seperti ini. Dengan bendungan yang sudah beroperasi, kejadian semacam itu dapat menyebabkan jutaan kematian, bukan hanya beberapa ratus seperti yang terjadi di Nepal,” kata Mustafa.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Sebanyak 330 WN asing telah diselamatkan pascabanjir Nepal

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.