REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengikuti OlympiAR 2026, kompetisi yang menguji kemampuan peserta menyelesaikan studi kasus di industri pertambangan. Kompetisi yang digelar PT Agincourt Resources tersebut mengangkat tema lingkungan dan ketahanan ekosistem dalam kegiatan pertambangan.

Pembukaan OlympiAR 2026 digelar di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (4/9/2026). Peserta berasal dari berbagai jurusan yang berkaitan dengan industri pertambangan dan ditantang menggunakan analisis kritis dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan.

Director Operations PT Agincourt Resources Rahmat Lubis mengatakan, OlympiAR merupakan kompetisi mahasiswa yang menjadi salah satu kegiatan perusahaan di bidang tanggung jawab sosial. Selain kompetisi, perusahaan juga menjalankan kegiatan lain seperti pendidikan dan pemberian beasiswa.

“Dulu namanya e Coaching Camp lalu setelah ada ribuan mahasiswa formatnya diupgrade menjadi OlympiAR,” ucap dia saat memberikan sambutan di Aula Timur ITB, Jumat (4/9/2026).

OlympiAR terakhir digelar dua tahun lalu dan diikuti 600 mahasiswa dari 28 universitas di Indonesia. Rahmat mengatakan, kompetisi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan perspektif dari praktisi yang bekerja langsung di industri.

“Kami percaya akan selalu ada experience yang bisa kami berikan dari sisi perusahaan. Barangkali ada perspektif yang berbeda dari apa yang adik-adik dapatkan di kampus ketika berinteraksi dengan kami sebagai praktisi di lapangan,” kata dia.

Rahmat mengatakan, pemenang juara pertama akan memperoleh hadiah uang tunai Rp50 juta. Selain hadiah, peserta juga berkesempatan mendapatkan pengalaman melalui proses mentoring dan interaksi dengan praktisi industri.

Dalam kesempatan tersebut, Rahmat juga menyinggung wacana baru mengenai pengelolaan cadangan tambang yang lebih memperhatikan aspek lingkungan. Salah satu gagasan yang dibahas dalam konferensi industri pertambangan di Australia adalah menyimpan cadangan emas tetap di bawah tanah, tetapi memberikan nilai ekonomi terhadap cadangan tersebut.

“Barangkali 10–20 tahun ke depan, tambang emas misalnya tidak perlu lagi digali. Saya juga surprise ketika disebut ya sudah, kita punya emas, sudah dihitung berapa banyak, biarkan saja di bawah tanah tetapi ada nilai ekonominya,” kata dia.

Ia mengibaratkan konsep tersebut seperti deposito di bank, ketika nilai aset dapat dihitung dan diperjualbelikan tanpa harus mengambilnya secara fisik.

“Ini harta, bisa diperjualbelikan, semua orang bisa menghitung, ada cara menghitungnya. Tapi nggak perlu digali. Anda dapat duit, tapi nggak perlu menambang,” kata dia.

Menurut Rahmat, gagasan tersebut menjadi salah satu paradigma yang dapat mendorong industri pertambangan lebih memperhatikan aspek lingkungan. Namun, ia menegaskan konsep tersebut masih berupa wacana dan bersifat teoritis.

“Jadi kami melihat ada banyak paradigma baru di industri pertambangan. Dan kami mencoba juga menerapkan ini di perusahaan, terutama hal-hal yang terkait dengan lingkungan ke depannya,” kata dia.

Sejalan dengan tema tersebut, OlympiAR 2026 mengangkat tema “Ore Body to Ecosystems: Integrating Mining Performance and Environmental Resilience”. PT Agincourt Resources menggandeng Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) dalam penyelenggaraan kompetisi.

Peserta mendapatkan mentoring dari praktisi lapangan, mengerjakan studi kasus industri, serta mengikuti kompetisi penulisan paper dan presentasi. Kompetisi tersebut juga membuka peluang bagi peserta untuk memperoleh pengalaman magang di PT Agincourt Resources.

“Kami ingin menjembatani teori yang adik-adik dapatkan dari para dosen ahli di kampus dengan perspektif kami sebagai praktisi di lapangan. Pemenangnya nanti tidak hanya mendapatkan hadiah finansial, tapi insya allah bisa magang di PT AR. Kalau performanya bagus, tentu bisa bergabung menjadi tim kami,” kata dia.

Wali Kota Bandung M Farhan menilai OlympiAR turut mempertemukan dunia akademik dengan kebutuhan industri. Menurut dia, Bandung dan ITB menjadi tempat untuk menjaring mahasiswa dengan kemampuan di bidang geologi dan ilmu terkait.

“Kami berbangga Kota Bandung dan ITB menjadi pilihan tempat untuk menjaring dan menguji para talenta terbaik di bidang ilmu geologi dan ilmu terkait lainnya di Indonesia,” kata dia.

Farhan berharap sinergi antara industri dan akademisi terus berlanjut. Menurut dia, kegiatan tersebut dapat mendorong lahirnya tenaga profesional pertambangan yang memiliki kemampuan teknis sekaligus memahami pentingnya ketahanan lingkungan.