Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:14 WIB
Jakarta, VIVA – Nyeri lutut saat berjalan, berdiri terlalu lama, atau naik-turun tangga kerap dianggap sebagai keluhan biasa akibat bertambahnya usia. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda osteoarthritis atau pengapuran sendi, kondisi yang dapat membatasi pergerakan jika tidak ditangani dengan tepat.
Baca Juga
Osteoarthritis terjadi ketika tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan antartulang di persendian mengalami kerusakan. Seiring waktu, kondisi ini dapat menimbulkan nyeri, kekakuan, hingga pembengkakan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Knee and Sports Medicine RS Pondok Indah – Pondok Indah, Dr. dr. L. Andre Pontoh, Sp.OT (K), menjelaskan bahwa nyeri lutut perlu diperhatikan, terutama apabila keluhan muncul berulang dan mulai membatasi aktivitas.
Baca Juga
“Nyeri lutut yang muncul saat beraktivitas sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Penting untuk mengenali gejalanya dan mencari tahu penyebabnya melalui pemeriksaan medis, terutama jika nyeri berlangsung terus-menerus atau disertai keterbatasan gerak,” kata Dr Andre saat media gathering di Jakarta, baru-baru ini.
Bukan karena Oli Sendi Kering
Baca Juga
Di masyarakat, pengapuran sendi kerap dikaitkan dengan anggapan bahwa cairan pelumas atau “oli sendi” mengering maupun terjadi penumpukan zat kapur. Padahal, osteoarthritis merupakan kondisi yang berkaitan dengan kerusakan struktur sendi, terutama tulang rawan.
Kondisi ini juga berbeda dengan osteoporosis. Osteoarthritis memengaruhi sendi dan dapat menimbulkan nyeri saat bergerak, sedangkan osteoporosis merupakan penurunan kepadatan tulang yang membuat tulang lebih rapuh. Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala hingga terjadi patah tulang.
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan menilai keluhan dan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan pencitraan, seperti rontgen, dapat digunakan untuk melihat perubahan pada sendi yang mengarah pada osteoarthritis. Sementara itu, pemeriksaan kepadatan mineral tulang atau Bone Mineral Density (BMD) digunakan untuk membantu menilai osteoporosis.
Usia Bukan Satu-satunya Faktor Risiko
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Risiko osteoarthritis memang meningkat seiring pertambahan usia, terutama setelah seseorang memasuki usia 50 tahun. Namun, kondisi ini tidak hanya dipengaruhi faktor penuaan.
Berat badan berlebih, riwayat cedera lutut, dan kelainan bentuk kaki juga dapat meningkatkan risiko kerusakan sendi. Bentuk kaki menyerupai huruf O (genu varum) atau X (genu valgum), misalnya, dapat menyebabkan distribusi beban pada lutut menjadi tidak merata.
Halaman Selanjutnya
Perempuan juga diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami osteoarthritis, terutama setelah menopause. Meski demikian, keberadaan faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami pengapuran sendi.