Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jawa Timur menggandeng mitra global dari China untuk menggelar pelatihan manajemen bencana di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
"Kegiatan itu terlaksana atas kerja sama NU Care-LAZISNU PBNU dan Shenzhen Rescue Volunteers Federation (SRVF) dari China," kata Direktur Wilayah NU Care-LAZISNU Jatim, Moch Rofii Boenawi, dalam keterangannya di Lumajang, Jumat.
Menurut dia, kolaborasi program "Community Emergency Response Partnership" (CERP) itu mengusung tema 'Skills for Safety, Neighbors for Each Other' yang dilaksanakan di tiga titik di Jatim yakni di Kabupaten Lamongan pada Selasa (22/9), di Kota Surabaya pada Rabu (23/9), dan di Lumajang pada Kamis (24/9).
Kegiatan itu diikuti sejumlah unsur bidang kebencanaan dan kemanusiaan di lingkungan Nahdlatul Ulama, yakni LAZISNU, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU), NU Peduli, Banser Tanggap Bencana (Bagana), Garda Fatayat NU (Garfa), Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP), serta Sako Pramuka Ma'arif NU.
Ia mengatakan bahwa kehadiran Nahdlatul Ulama dalam hal kebencanaan dilakukan secara kontinyu, mulai dari sebelum hingga pasca-bencana, dengan salah satu contohnya pembangunan hunian tetap (huntap) dan fasilitas lainnya di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang bagi penyintas erupsi Gunung Semeru.
"Kami membawa tim SRVF melihat langsung hunian tetap di Candipuro. Di sana juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti tiga rumah ibadah dan minimarket. Ini bukti bahwa NU juga hadir dan membantu warga terdampak pascabencana," ujarnya.
Rofii yang juga Sekretaris LAZISNU Jatim ini mengatakan penanganan bencana membutuhkan koordinasi berbagai unsur agar bantuan dapat diberikan secara cepat, tepat, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
"Penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja, sehingga diperlukan koordinasi dan pembagian tugas yang jelas agar setiap unsur dapat menjalankan perannya dengan baik," katanya.
Ia menjelaskan pelatihan manajemen bencana menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemampuan relawan, terutama dalam menghadapi kondisi darurat. Pengetahuan mengenai tahapan penanganan bencana diperlukan agar proses evakuasi, pendataan, distribusi bantuan, hingga pemulihan dapat dilakukan secara terencana.
"Relawan perlu memahami tugas dan tanggung jawabnya sejak sebelum bencana terjadi, saat tanggap darurat, hingga tahap pemulihan. Dengan demikian, penanganan di lapangan dapat dilakukan secara terarah," katanya.
Dia berharap, melalui peningkatan kapasitas dan koordinasi antarlembaga, para peserta diharapkan mampu menjalankan tugas kemanusiaan secara terstruktur sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Rangkaian pelatihan di sejumlah daerah tersebut sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan sumber daya manusia dalam menghadapi bencana,” ucapnya.
Sebelumnya, Manajer Human Resources General Affairs (HRGA) NU Care-LAZISNU PBNU, Dewi Rochmawati menjelaskan kegiatan itu menggandeng Shenzhen Rescue Volunteers Federation (SRVF). Kerja sama dilakukan karena SRVF memiliki kompetensi dalam bidang penyelamatan dan kebencanaan, bahkan termasuk salah satu tim rescue terbaik dunia.
“Kolaborasi itu juga menjadi kelanjutan dari sejumlah inisiasi kerja sama antara pihak Indonesia dan China yang sebelumnya dilakukan oleh sejumlah lembaga NU,” katanya.
Program tersebut dilaksanakan dalam empat angkatan atau batch. Batch pertama digelar di delapan titik, di antaranya Jakarta, Bogor, Tangerang, Jogja, dan Karawang. Sedangkan angkatan kedua berlangsung di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, sehingga program tersebut berlangsung selama empat angkatan/batch.
Dewi menjelaskan, peserta terbaik dari setiap batch nantinya akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan di China dan dipersiapkan menjadi trainer. Menurutnya, tujuan utama program itu bukan sekadar meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi bencana, tetapi juga mencetak kader NU yang mampu membangun kekuatan kolektif melalui NU Peduli.
“Hal itu harus dilaksanakan secara kolektif dan bersama-sama untuk menghasilkan sebuah kekuatan yang kita sebut dengan NU Peduli untuk menghadapi kesiapsiagaan kita terhadap bencana,” ujarnya.
Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.