Liputan6.com, Jakarta - Eufrasia Vieira, Penulis multitalenta berdarah Timor Leste, resmi meluncurkan novel The Ribs: Mengejar Waktu Bersamamu di Prosochi Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (25/10/2026). Novel romansa ini menghadirkan kisah cinta emosional yang dikembangkan melalui perjalanan kreatif selama 11 tahun.

Perjalanan panjang tersebut bukan tanpa tantangan. Penulis yang akrab disapa ASIA ini melewati berbagai fase sebelum akhirnya membawa kisahnya kepada pembaca. Baginya, setiap karya punya waktu yang tepat untuk menemukan jalannya sendiri.

Menariknya, perjalanan The Ribs nggak berhenti di buku. Kisah cinta Jonathan dan Maura juga sedang dipersiapkan untuk diadaptasi menjadi film layar lebar, dengan Pulau Bali sebagai lokasi utama pengambilan gambar.

Menulis Sejak 2015, Eufrasia Vieira Percaya Setiap Karya Punya Waktunya

Eufrasia Vieira

Perbesar

Novel yang menghadirkan kisah cinta emosional yang dikembangkan melalui perjalanan kreatif selama 11 tahun (Credit: Dok. Pribadi)

Proses kreatif The Ribs dimulai pada 2015. Setelah melewati perjalanan panjang selama lebih dari satu dekade, novel tersebut akhirnya hadir dalam versi bahasa Indonesia, baik dalam format cetak maupun digital.

Eufrasia mengaku percaya bahwa sebuah karya akan menemukan momen terbaiknya untuk diperkenalkan kepada publik. Keyakinan itu pula yang membuatnya tetap menjalani proses kreatif hingga novel ini siap dirilis.

"Ya, aku menulis mulai dari 2015, 11 tahun. Nah, saya percaya kalau waktunya Tuhan enggak pernah terlambat, enggak pernah awal, always come at the right time. Selalu hadir di momen yang yang tepat." ujar Eufrasia Vieira saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (25/10/2026).

Sebelum The Ribs, Eufrasia juga pernah merilis novel Vittoria: Helena’s Brown Box pada 2015. Dalam karya terbarunya, ia menghadirkan cerita yang nggak sekadar menonjolkan sisi manis sebuah hubungan, tetapi juga mengajak pembaca melihat kerentanan, luka batin, dan tantangan yang bisa muncul dalam perjalanan cinta.

Novel ini terdiri dari 39 bab yang mengajak pembaca mengikuti dinamika hubungan Jonathan dan Maura. Melalui keduanya, Eufrasia ingin mengangkat kembali nilai-nilai cinta klasik yang menurutnya masih relevan untuk kehidupan masa kini.

"This is... Ini sangat orisinal. Karena kebanyakan penulis tuh masing-masing punya punya versi sendiri ya. Tapi kalau versinya The Ribs tuh kita menceritakan classic love story yang sebenarnya tuh udah terjadi di masa lalu, lampau yang dulu, tapi kita manusia yang generasi sekarang tuh kadang kita lupa untuk mempraktikkan di zaman sekarang gitu. Itu perbedaannya." tuturnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Salah satu hal menarik dari The Ribs adalah cara novel ini memaknai hubungan pasangan. Konsep tulang rusuk yang kerap dipahami sebagai gambaran pasangan hidup dihadirkan dengan perspektif yang lebih setara. Perempuan juga bisa menjadi sosok yang melindungi dan menguatkan laki-laki, begitu pula sebaliknya. Bagi Eufrasia, cinta bukan cuma tentang kata-kata romantis atau momen manis. Hubungan yang kuat justru dibangun melalui rasa hormat, kesetiaan, dan perhatian kecil yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman personal serta percakapan intim dengan orang-orang terdekat turut menjadi inspirasi dalam membangun cerita. Sang suami juga memiliki tempat istimewa dalam perjalanan lahirnya novel tersebut, meski Eufrasia menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar karya yang ia persembahkan untuknya. "Iya. Jadi buku ini bukan aku mendedikasikan buat suami saya, tapi ini adalah dia. So, it's yours now. Jadi sekarang semua sudah ada di buku ini, this is yours now. Ini sekarang milikmu." katanya. Eufrasia juga menyoroti pentingnya sikap saling menghargai sebagai dasar kesetiaan. Menurutnya, rasa hormat kepada pasangan perlu diwujudkan lewat tindakan nyata, bukan sekadar diucapkan. "This is the basic of love. Karena kalau kita... Kenapa ada kesetiaan? Kalau kita udah rispek, pasti kita akan setia. Nah, itu basic-nya tuh dari dari menghargai." jelasnya. Dalam kehidupan sehari-hari, perhatian sederhana seperti menyiapkan camilan saat pasangan bekerja atau menyuguhkan secangkir kopi hangat bisa menjadi bentuk kepedulian yang bermakna. Hal-hal kecil tersebut menunjukkan bahwa pasangan saling memperhatikan dan hadir dalam keseharian satu sama lain. Bagi Eufrasia, komunikasi yang terbuka dan sikap saling menghormati juga penting untuk menjaga hubungan tetap sehat. Nilai-nilai inilah yang menjadi salah satu fondasi cerita The Ribs, sekaligus mengajak pembaca merenungkan kembali arti cinta dalam kehidupan mereka sendiri.