Jakarta -

Joel Lapointe, seorang astronom amatir berniat ingin mencari lokasi kemping di Cote-Nord, Kanada. Saat menelusuri Goggle Maps pada tahun 2025, tak sengaja dia menemukan lubang aneh.

Dilansir dari Metro, Minggu (2/8/2026) Joel menyadari bahwa lubang yang ditemukannya ini bukanlah lubang biasa. Dan mengejutkannya, ternyata itu adalah kawah meteorit berusia 390 juta tahun yang sebelumnya tidak teridentifikasi.

"Bekas lubang kosmik di wilayah Côte-Nord yang terpencil di Quebec itu tampak 'agak pudar dan bulat, seperti semacam lubang'," kata Joel kepada Radio Canada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kawah tersebut kini terdaftar sebagai 'Kawah Meteor Joël-Lapointe' di Google Maps, yang digambarkan sebagai objek wisata bintang lima.

Gordon Osinski, seorang profesor geologi planet di Western University, membantu mengkonfirmasi kawah tersebut dan akan mempresentasikan temuan timnya bulan depan pada pertemuan tahunan kelompok riset, Meteoritical Society. Ia mengatakan, setelah mendengar tentang penemuan Joel, ia langsung membuka Google Maps.

Dia juga membandingkan dengan data satelit, dan benar saja. Belum ada catatan terkait lubang tak biasa ini.

Dengan lebar sekitar 15 mil, Kawah Meteor Joël-Lapointe adalah salah satu kawah terbesar yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir.

Terlepas dari ukurannya, tetap saja peneliti butuh kajian lebih lanjut untuk menemukan petunjuk terbentuknya kawah ini. Salah satunya, melacak batuan lelehan dampak, yang terbentuk ketika panas dari tabrakan eksplosif menekan dan melelehkan sebagian tanah.

Itulah mengapa Osinski dan timnya berangkat ke wilayah terpencil tersebut di bulan Oktober 2025. Begitu sampai di sana, mereka menemukan bahwa beberapa tebing di sekitar tempat yang dilihat Joel adalah batuan lelehan akibat tumbukan.

Mereka bahkan menemukan kerucut pecah yang jauh lebih mudah ditemukan, alur bergelombang yang terukir oleh tabrakan.

Setelah memverifikasi kawah tersebut, para peneliti bertemu dengan perwakilan suku Innus dari Ekuanitshit, penduduk asli yang tinggal di daerah tersebut, untuk menamainya.

"Mereka memilih nama 'Uhaachatik', yang secara kasar diterjemahkan dalam bahasa Innu-aimun sebagai 'terkenal karena rusa hutan", kata Osinski.

(sym/ddn)