Semarang (ANTARA) - Muhammadiyah Jawa Tengah berkomitmen mengawal keberlanjutan dan keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar dikelola secara berkemajuan, berkeadilan, dan berbasis pada tata kelola yang transparan.

Wakil Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah Zakiyuddin Baidhawy di Semarang, Sabtu mengatakan, Program MBG pada hakikatnya merupakan bagian dari investasi strategis pembangunan sumber daya manusia (SDM) jangka panjang.

Oleh karena itu, kata dia, pengelolaannya harus dipandang dari perspektif peradaban.

"Program makan gratis ini bukan hal baru di dunia internasional, negara seperti Finlandia dan Jerman sudah memulainya sejak puluhan tahun lalu," katanya

Ia menambahkan, MBG harus diletakkan sebagai kebijakan pembangunan SDM dan bukan sekadar distribusi makanan yang berisiko menambah timbunan sampah jika tidak dikelola dengan baik.

Muhammadiyah, lanjut dia, memandang Program MBG secara teologis berpijak pada nilai-nilai Teologi Al-Ma'un.

Menurut dia lagi, keterlibatan dan pengawasan terhadap program ini mengacu pada pemenuhan Prinsip Maqashid Syariah, khususnya menjaga keselamatan jiwa dan menjaga akal.

Selain itu, kriteria makanan bergizi yang disajikan harus memenuhi dua syarat utama, yakni halal dan toyyib. Ia juga meminta standar higienitas, sanitasi, dan protokol keamanan pangan harus dijaga secara ketat guna mencegah terjadinya kasus keracunan pangan.

Ia menambahkan MBG diharapkan juga memenuhi aspek keadilan ekonomi. Skema pengadaan bahan baku dan pengelolaan MBG yang memberi ruang serta peluang adil bagi para pelaku UMKM, petani, nelayan, dan peternak lokal di sekitar.

"MBG merupakan ekosistem yang menciptakan efek pengganda pada ekonomi lokal," katanya.

Baca juga: MBG di Bali perluas kesempatan kerja tekan pengangguran

Baca juga: Program MBG beri kestabilan penghasilan bagi pedagang ikan di Aceh

Baca juga: Realisasi anggaran MBG capai Rp153,2 triliun hingga September 2026

Pewarta: Immanuel Citra Senjaya
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.