Selular.ID – Motorola Indonesia mengungkapkan strategi fleksibilitas siklus hidup perangkat (product life cycle) untuk menjaga relevansi produk di tengah dinamika dan inkonsistensi pasar smartphone tanah air.

Langkah ini diambil guna mengatasi tantangan kesadaran merek (brand awareness) yang kerap saling tumpang tindih akibat dinamika segmen konsumen yang cepat berubah.

Bagus Prasetyo Country Head Motorola Indonesia menjelaskan bahwa perusahaan tidak menerapkan kebijakan baku (fix policy), baik dari tingkat global maupun lokal, terkait pembatasan durasi edisi sebuah produk.

Penetapan lifetime produk sepenuhnya mengacu pada tingkat penerimaan pasar yang dievaluasi secara berkala setiap minggunya.

“Setiap minggu kami selalu melakukan tinjauan untuk melihat apakah lifetime sebuah produk cukup satu tahun, lebih lama, atau justru lebih singkat. Penerimaan pasar menjadi penentu utama, sehingga kami tidak mematok masa edar produk hanya berlaku 6 atau 12 bulan,” ujar Bagus, kepada Selular, Dalam Bincang Eksekutif, baru-baru ini.

Bagus mencontohkan strategi perluasan siklus hidup ini pada perangkat Motorola Edge 60 Fusion (H60 Fusion).

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Kendati kompetitor telah meluncurkan hingga dua generasi penerus dengan kisaran harga yang kian melonjak di atas lini Motorola.

Spesifikasi perangkat Motorola tersebut dinilai masih sangat relevan sejak diperkenalkan pada 2025.

Atas dasar efisiensi spesifikasi dan daya serap pasar, Motorola memutuskan untuk memperpanjang siklus hidup Edge 60 Fusion hingga 2027.

Strategi ini juga didukung keberanian Motorola dalam mengambil risiko tren desain di Indonesia, salah satunya lewat kepeloporan membawa layar lengkung (curved display).

Saat awal diperkenalkan, pasar sempat meragukan kesiapan konsumen domestik terhadap teknologi tersebut.

Namun dalam kurun satu tahun, tren layar lengkung terbukti diadopsi secara luas oleh industri seluler di Indonesia.

Untuk menopang fleksibilitas siklus hidup dan permintaan pasar yang dinamis, Motorola memperkuat lini manufaktur lokal.

Perusahaan menambah alokasi bahan baku dan merakit kembali produk di fasilitas pabrik PT Sat Nusapersada Tbk di Batam, yang kini telah dilengkapi gedung operasional khusus untuk Motorola.

Baca Juga:Alasan Motorola Indonesia Pilih G45 5G untuk Penetrasi Pasar

Penguatan infrastruktur produksi dalam negeri ini mempertegas komitmen Motorola dalam memberikan kepastian pasokan perangkat yang relevan, sekaligus memosisikan diri sebagai penggerak tren (trendsetter) teknologi di pasar ponsel pintar Indonesia.