Surabaya (ANTARA) - Bagi ribuan peserta didik baru, hari pertama sekolah bukan sekadar awal tahun ajaran. Di sanalah kesan pertama tentang dunia pendidikan dibentuk. Mereka mulai mengenal guru, teman, aturan, sekaligus nilai-nilai yang kelak menjadi bagian dari perjalanan belajar.

Selama bertahun-tahun, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pernah menyisakan catatan yang kurang menggembirakan. Praktik perpeloncoan, tugas yang tidak mendidik, hingga berbagai bentuk intimidasi sempat menjadi bayang-bayang yang melekat pada kegiatan tersebut. Padahal, momentum mengenalkan sekolah seharusnya menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan.

Perubahan perlahan berlangsung. Regulasi yang semakin tegas menempatkan peserta didik sebagai subjek yang harus dilindungi.

Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah memperjelas bahwa MPLS harus berlangsung edukatif, ramah anak, inklusif, bebas kekerasan, dan bebas perundungan. Guru menjadi penanggung jawab utama kegiatan, sedangkan organisasi siswa hanya berperan sebagai pendamping.

Kota Surabaya, Jawa Timur, menjadi salah satu daerah yang berupaya menerjemahkan semangat tersebut dalam praktik nyata. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak hanya menjadikan MPLS sebagai agenda mengenalkan ruang kelas atau tata tertib sekolah.

Kegiatan itu diperluas menjadi pintu masuk membangun karakter, memperkuat literasi digital, memberikan edukasi antinarkotika, mengenalkan kesehatan sejak dini, hingga mempererat komunikasi antara sekolah dan keluarga.

Perubahan orientasi ini layak diapresiasi. Sebab tantangan yang dihadapi anak-anak masa kini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Ancaman tidak lagi hanya datang dari lingkungan fisik, tetapi juga dari ruang digital yang nyaris tanpa batas.


Tantangan baru

Anak-anak generasi alpha lahir ketika internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka mengenal layar sentuh lebih cepat daripada mengenal buku tulis. Kemampuan menggunakan teknologi memang meningkat, tetapi kemampuan memahami risiko digital belum tentu berkembang secepat itu.

Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan hampir 200 ribu anak di Indonesia telah terpapar judi daring, sekitar 80 ribu di antaranya berusia di bawah 10 tahun. Angka tersebut menjadi peringatan bahwa ruang digital kini menghadirkan risiko nyata bagi anak-anak, sehingga literasi digital perlu diperkuat sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan sekolah.

Karena itu, keputusan memasukkan literasi digital ke dalam materi MPLS merupakan langkah yang relevan. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara melindungi diri dari penipuan digital, penyalahgunaan data pribadi, perundungan siber, konten berbahaya, hingga berbagai modus yang mengarah pada perjudian daring.

Persoalan lain yang juga mengemuka ialah penyalahgunaan narkotika. Meski angka penyalahgunaan pada pelajar di berbagai daerah menunjukkan kecenderungan yang berbeda-beda, upaya pencegahan tetap jauh lebih efektif dibanding penanganan ketika anak sudah menjadi korban.

Surabaya menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) dan aparat kepolisian untuk memberikan edukasi sejak hari pertama sekolah. Langkah preventif seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak lagi dipahami sebatas pembelajaran moral di ruang kelas.

Pada saat yang sama, kesehatan fisik dan mental peserta didik mulai memperoleh perhatian lebih besar. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) menjadi bagian penting dalam memastikan anak memulai proses belajar dalam kondisi sehat. Pemeriksaan dini juga dapat membantu sekolah mengenali kebutuhan khusus peserta didik sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih inklusif.

Namun tantangan pendidikan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Banyak persoalan justru bermula ketika anak pulang ke rumah. Ketergantungan terhadap gawai, minimnya interaksi keluarga, hingga berkurangnya ruang dialog membuat anak lebih banyak belajar dari media sosial dibanding dari orang tua.

Di sinilah pendekatan Surabaya yang melibatkan keluarga menjadi menarik. Orang tua tidak lagi diposisikan sebagai penonton, melainkan sebagai mitra sekolah. Komunikasi rutin antara guru dan keluarga memungkinkan perubahan perilaku anak dikenali lebih cepat sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Pendekatan kolaboratif seperti ini sejalan dengan konsep empat ekosistem pendidikan yang terus didorong Kemendikdasmen, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Pendidikan tidak mungkin hanya dibebankan kepada guru. Pembentukan karakter membutuhkan lingkungan yang konsisten di semua ruang kehidupan anak.


Menanam karakter

MPLS yang baik bukanlah kegiatan yang paling meriah, melainkan yang paling bermakna. Keberhasilannya tidak diukur dari banyaknya permainan atau seremoni pembukaan, tetapi dari seberapa jauh peserta didik merasa diterima sebagai bagian dari komunitas sekolah.

Sekolah yang berhasil membangun rasa aman sejak hari pertama akan lebih mudah menumbuhkan budaya saling menghormati. Peserta didik baru yang merasa dihargai cenderung memiliki kepercayaan diri lebih baik, lebih mudah beradaptasi, dan memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, pengalaman buruk pada hari-hari pertama dapat meninggalkan trauma yang mempengaruhi proses belajar dalam jangka panjang.

Karena itu, semangat ramah anak tidak boleh berhenti sebagai slogan tahunan. Pengawasan terhadap pelaksanaan MPLS perlu dilakukan secara konsisten. Kanal pengaduan harus mudah diakses, respons terhadap laporan dilakukan cepat, dan evaluasi melibatkan peserta didik maupun orang tua. Transparansi menjadi kunci agar praktik-praktik yang bertentangan dengan semangat pendidikan tidak kembali muncul dengan bentuk yang berbeda.

Sekolah juga perlu memanfaatkan MPLS untuk memperkenalkan budaya belajar yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Literasi membaca tetap penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan literasi digital, literasi finansial, literasi kesehatan, serta kemampuan berpikir kritis. Bekal seperti inilah yang dibutuhkan generasi muda menghadapi perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Surabaya memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan arah tersebut. Berbagai program pendidikan karakter, penguatan peran keluarga, hingga kolaborasi lintas perangkat daerah menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai urusan bersama, bukan semata-mata tanggung jawab sekolah. Sinergi tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih utuh.

Di tengah persaingan global menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar sesungguhnya bukan hanya pembangunan gedung sekolah atau penyediaan perangkat digital. Yang jauh lebih menentukan ialah kemampuan menghadirkan ruang belajar yang aman, sehat, inklusif, dan membentuk karakter.

MPLS hanyalah berlangsung beberapa hari. Namun kesan yang ditinggalkannya dapat melekat bertahun-tahun dalam ingatan seorang anak. Jika hari pertama sekolah mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian, empati, dan kepercayaan diri, maka sesungguhnya pendidikan telah memulai tugasnya dengan cara yang paling tepat.

Dari gerbang sekolah itulah masa depan bangsa perlahan dibangun, bukan melalui rasa takut, melainkan melalui pengalaman belajar yang memanusiakan setiap peserta didik.

Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.