Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Sugiono menyoroti perlunya memperkuat ketahanan di kawasan Asia Tenggara melalui jaminan keamanan pangan dan energi.
"Membangun ketahanan sejati dalam keamanan pangan dan energi, ini berarti melindungi warga negara kita setiap kali krisis terjadi," kata Sugiono dalam sambutannya saat merayakan Hari ASEAN ke-59 di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Sabtu (8/8).
Menlu mengatakan bahwa para petani, pekerja, kaum muda, dan para pekerja migran yang bekerja jauh dari rumah tidak mengukur keberhasilan ASEAN berdasarkan jumlah perjanjian yang telah ditandatangani.
Tetapi, mereka mengukur keberhasilan ASEAN berdasarkan kemampuan para pemimpinnya dalam menyediakan makanan, akses terhadap pekerjaan yang layak, hidup aman, dan menatap masa depan dengan percaya diri.
Itu berarti bahwa ASEAN perlu membangun ketahanan sejati melalui jaminan keamanan pangan dan energi guna melindungi warga negaranya masing-masing setiap kali krisis terjadi.
Itu berarti bahwa para pemimpin ASEAN perlu membekali generasi muda dengan pendidikan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk memimpin ASEAN ke babak selanjutnya.
Untuk mencapai target tersebut, ASEAN sendiri harus dilengkapi dengan institusi yang lebih kuat, kapasitas yang lebih besar, dan sumber daya yang memadai guna mewujudkan aspirasi Visi Komunitas ASEAN 2045.
"Tahun depan, ASEAN akan berusia 60 tahun. Kami terus percaya pada ASEAN karena ASEAN mewakili sesuatu yang semakin langka dan berharga di dunia saat ini," kata Menlu.
Di tengah banyak perbedaan, ASEAN memilih perdamaian daripada konflik, dialog daripada paksaan dan persatuan bahkan di antara pihak-pihak yang tidak selalu sepakat.
Menlu RI mendorong para pemimpin ASEAN untuk membuktikan kepada generasi mendatang bahwa mereka ASEAN bisa menjadi rumah yang lebih kuat, aman, dan ramah bagi semua.
Dia juga menambahkan bahwa di tengah gejolak global saat ini, ASEAN harus menegaskan peran yang telah dimainkan selama hampir enam dekade sebagai pembangun jembatan, melalui upayanya untuk meredakan ketegangan, menumbuhkan kepercayaan, dan menjaga dialog tetap hidup.
"Kekuatan terbesar kita terletak pada kemampuan kita untuk membawa negara-negara, besar dan kecil, dengan beragam kepentingan dan perspektif ke meja yang sama. Bukan untuk menghapus perbedaan, tetapi untuk mengelolanya melalui dialog dan saling menghormati," kata Sugiono.
Peran tersebut harus ditunjukkan dengan penuh kredibilitas melalui prinsip-prinsip saling menghormati, tidak campur tangan, dan penyelesaian sengketa secara damai.
"Prinsip-prinsip tersebut tetap menjadi kompas kita, yang diabadikan dalam Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama, yang kini merayakan ulang tahunnya ke-50," kata Sugiono.
Terakhir, Menlu RI juga menegaskan komitmen ASEAN untuk tidak menjadi arena persaingan kekuatan besar. "ASEAN tidak akan memihak siapa pun, karena kita akan selalu berpihak kepada rakyat, kesejahteraan mereka, keamanan mereka, dan masa depan mereka," demikian katanya.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.