Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengampanyekan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) melalui tujuh langkah guna mewujudkan ekosistem pendidikan bebas dari kekerasan, termasuk di lingkungan pesantren.

Ia menyampaikan kampanye gerakan tersebut saat menghadiri diskusi bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU di Yogyakarta.

“Melalui gerakan ini kita berusaha keras membangun ruang aman dan nyaman untuk anak,” ujar Menko PMK Pratikno dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Menko PMK mengatakan kekerasan kepada anak dapat terjadi di mana saja sehingga harus dicegah agar dapat menghadirkan ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak dalam mengembangkan potensinya secara optimal.

“Dampak kekerasan pada anak itu luar biasa. Kekerasan akan menurunkan konsentrasi, anak menjadi tidak fokus, berdampak secara psikologis dan kognitif,” kata Menko PMK.

Sebagai aksi konkret pencegahan, ia pun menyarankan penerapan "Tujuh Langkah Menuju Satuan Pendidikan Aman dan Nyaman".

Langkah tersebut meliputi evaluasi diri terkait sistem pelindungan dan pelatihan pengasuh, pembentukan tim pelindungan anak, pengembangan kebijakan pelindungan anak, serta pembangunan sistem pengaduan yang ramah anak. Selain itu, diperlukan pelatihan berkelanjutan, penguatan budaya saling jaga, hingga keterlibatan wali murid dan masyarakat.

Di samping memastikan ruang yang aman, pihaknya juga mendorong satuan pendidikan pesantren untuk dapat cepat beradaptasi menghadapi disrupsi teknologi. Pendidikan pesantren harus mampu menjawab tantangan dan peluang baru di masa depan, termasuk menyikapi hilangnya beberapa jenis pekerjaan (job loss) dan lahirnya peluang kerja baru (job gain).

“Transformasi harus dilakukan secara besar-besaran dengan tetap memperkokoh identitas kultural dan spiritual pesantren. Transformasi harus dilakukan agar pesantren bisa lebih kompetitif di zaman yang baru ini. Kalau tidak, bukan hanya secara ekonomi warga yang tertinggal, tetapi juga identitas kultural dan spiritual bisa tergerus oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Menko PMK juga memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif pencegahan kekerasan yang digagas oleh RMI PBNU dan SAKA Pesantren PBNU dalam mendorong lingkungan pesantren yang aman dan nyaman untuk anak.

Ia berharap hal tersebut dapat menjadi contoh bagi lembaga lain dalam ikut serta memberantas kekerasan pada anak yang selama ini kerap terjadi.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan RMI PBNU. Jika pesantren bisa aman dan nyaman, serta membangun kompetensi santri di zaman disrupsi teknologi ini, implikasinya bagi institusi akan bagus. Kepercayaan akan meningkat, loyalitas alumni meningkat, dan bisa menjadi contoh baik bagi institusi-institusi pendidikan yang lain,” katanya.

Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.