Menko Bahlil dan Menperin diyakini dapat terjemahkan visi Presiden

Sabtu, 3 Oktober 2026 08:28 WIB

Image Print

Presiden Prabowo Subianto melantik sejumlah Menteri, Wamen dan Kepala Lembaga Kebinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Presiden Prabowo Subianto melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Sugiono sebagai Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Dudung Abdurahman sebagai Menko Bidang Politik dan Keamanan, Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri, M Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian, Drajad Hari Wibowo sebagai Wakil Menko Bidang Perekonomian, Nurkholisoh Ibnu Aman sebagai Wamen Keuangan, Luky Alfirman sebagai Wamen Keuangan, Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wamen Pertanian, Irwan Meilano sebagai Wamen Kelautan dan Perikanan, Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Dedi Prasetyo sebagai Kepala Badan Reforma Agraria Nasional, Aryanto Wibowo sebagai Wakil Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Fadil Imran sebagai Wakil Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, Nuzran Joher sebagai Ketua Ombudsman, Radian Syam sebagai Anggota Ombudsman, Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri dan Komjen Pol Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nym.

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar Abdul Rahman Farisi menyambut positif terkait pelantikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia dan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dan keduanya diyakini dapat menerjemahkan visi Presiden terkait perekonomian.

"Hilirisasi di bawah koordinasi Menko Bahlil memiliki ruang yang sangat besar untuk mendorong nilai tambah dari sumber daya yang kita miliki," kata Abdul Rahman dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ia berpandangan bahwa terdapat ruang sinergi yang besar antara hilirisasi dan industrialisasi. Hilirisasi di bawah koordinasi Menko Bahlil, menurut dia, dapat semakin memperluas pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi, baik yang berbasis sumber daya mineral, pertanian maupun perikanan.

Selain itu, arah kebijakan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji akan menempatkan industri sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus penciptaan lapangan kerja.

Menurut Abdul Rahman, arah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan agenda hilirisasi yang dikoordinasikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia. Sinergi keduanya dinilai dapat menjadi salah satu kekuatan dalam menerjemahkan visi ekonomi Presiden Prabowo Subianto.

"Pak Menteri Sarmuji langsung tancap gas ingin menerjemahkan visi Presiden Prabowo dengan menempatkan industri sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Ini sejalan dengan agenda hilirisasi yang berada di bawah koordinasi Menko Bahlil," ujarnya.

Abdul Rahman berpandangan, penguatan industri merupakan bagian penting dari transformasi struktur ekonomi Indonesia menuju kegiatan ekonomi dengan nilai tambah lebih tinggi. Proses tersebut antara lain ditandai dengan berkembangnya industri pengolahan, akumulasi modal, transfer teknologi dan peningkatan produktivitas.

Ia melihat pengembangan industri padat teknologi dan padat karya dapat berjalan secara beriringan. Industri berbasis teknologi berperan dalam peningkatan produktivitas dan daya saing, sementara industri padat karya memiliki kontribusi penting terhadap penciptaan kesempatan kerja.

"Menurut saya, industri padat teknologi dan padat karya bisa dikembangkan secara simultan. Dengan begitu, peningkatan produktivitas dan nilai tambah dapat berjalan beriringan dengan perluasan lapangan kerja," katanya menambahkan.

Di sisi lain, Abdul Rahman memandang penguatan industri substitusi impor dapat menjadi salah satu ruang kebijakan yang melengkapi agenda hilirisasi di bawah kepemimpinan Sarmuji di Kementerian Perindustrian.

"Selain industri yang tumbuh dari hilirisasi, saya melihat industri substitusi impor juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan ketersediaan tenaga kerja yang dapat menjadi modal untuk memperkuat kapasitas produksi nasional," ucapnya.

Menurut Abdul Rahman, pengembangan kedua jalur tersebut dapat saling melengkapi. Hilirisasi memperbesar nilai tambah sumber daya domestik, sedangkan industri substitusi impor dapat memperkuat basis produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar negeri.

Abdul Rahman menilai kolaborasi tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pemerintah mencapai visi pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo.

"Pak Bahlil dengan agenda hilirisasi dan Pak Sarmuji dengan penguatan industrinya berada pada mata rantai ekonomi yang saling berhubungan. Sinergi keduanya saya kira dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam menerjemahkan visi Presiden: pertumbuhan yang lebih tinggi, industri yang semakin kuat, dan kesempatan kerja yang semakin luas," ujar Abdul Rahman.

Pewarta : Khaerul Izan
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026