Jum'at, 09 Oktober 2026, 10:30 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan disebut memiliki dimensi politik yang berkaitan dengan dinamika menuju Pilpres 2029. Aktivis sekaligus pendiri Great Institute Syahganda Nainggolan mengungkapkan, popularitas Purbaya yang meningkat tajam di mata publik menjadi salah satu variabel yang ikut disorot.

Hal itu disampaikan Syahganda saat berbincang dengan jurnalis senior Darmawan Sepriyossa dalam program Forum Keadilan TV pada 18 September 2026. Ketika menyampaikan hal ini, Syahganda belum dilantik oleh Prabowo sebagai Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI. 

Berdasarkan riset dan pengamatan Great Institute, penerimaan publik terhadap Purbaya disebut mengalami peningkatan dalam waktu relatif singkat setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan.

"Purbaya ini ratingnya di publik sangat tinggi. Dia dilantik pada bulan September, dan pada bulan Januari ratingnya sudah lebih tinggi dari KDM (Kang Dedi Mulyadi)," ungkap Syahganda.

Menurut dia, peningkatan popularitas tersebut salah satunya terlihat setelah Purbaya meluncurkan program pengaduan masyarakat bernama "Lapor Pak Purbaya".

Program itu membuat karakter Purbaya yang dikenal blak-blakan dan berani mengambil kebijakan semakin dikenal publik. Kondisi tersebut, menurut Syahganda, membuat Purbaya memperoleh ruang popularitas yang cukup besar.

Namun, momentum tersebut kemudian meredup setelah muncul larangan agar program kementerian tidak menggunakan nama pribadi Purbaya.

"Habis itu karena ada sedikit larangan untuk dia launching pakai nama dia (Purbaya), dia kemudian meredup. Tapi ratingnya tetap tinggi sampai sekarang," jelasnya.

Syahganda mengaitkan tingginya popularitas Purbaya dengan dinamika politik menjelang Pilpres 2029. Menurut dia, munculnya tokoh dengan tingkat penerimaan publik yang meningkat dapat menjadi bagian dari kalkulasi politik di tengah pergerakan elite menuju kontestasi mendatang.

Meski demikian, Syahganda tidak melihat Purbaya sebagai sosok yang secara sengaja menggunakan jabatannya untuk membangun jalan menuju posisi calon wakil presiden ataupun kepemimpinan nasional pada 2029.

Ia menilai karakter Purbaya lebih menunjukkan sosok teknokrat yang bekerja di dalam institusi, bukan politikus yang secara aktif membangun popularitas elektoral.

Baca Juga: Rocky Gerung dkk Gelar Rapat Pertama, Wantimpres Bahas Mekanisme Kerja hingga Rencana 6 Bidang

"Saya tidak yakin dia akan mencelat menjadi rising star baru, karena Pak Purbaya ini memang orangnya bekerja dalam institusi. Dia bukan tipe Dedi Mulyadi yang memang orang politik, yang menggunakan pencitraan untuk merangkak terus menjadi kandidat," tegas Syahganda.

Setelah diberhentikan melalui sambungan telepon dari Menteri Sekretaris Negara, Purbaya disebut justru memperoleh simpati publik. Sikapnya yang memilih menerima keputusan tersebut tanpa perlawanan berlebihan dinilai semakin memperlihatkan karakter teknokrat yang berfokus pada pekerjaan dan penyelesaian tugas.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat