Image Fauzi Jogja

Gaya Hidup | 2026-08-09 23:09:50

Setiap pekan, jutaan umat Islam berduyun-duyun memenuhi masjid untuk menunaikan salat Jumat. Ribuan majelis taklim digelar, memproduksi untaian doa dan zikir yang membubung ke langit. Namun, ketika jemaah membubarkan diri, sebuah pemandangan kontradiktif sering kali tertinggal di pelataran: botol plastik berserakan, sisa kotak makanan menumpuk, dan air wudhu mengalir terbuang percuma tanpa daur ulang. Realitas ini memicu sebuah gugatan mendasar atas definisi kesalehan kita. Apakah iman berhenti di batas sujud ritual, sementara lingkungan di sekitar rumah ibadah dibiarkan meranggas?

Momentum Gerakan Bersih-Bersih Masjid (GEBER MAS) Nasional harus menjadi titik balik untuk meruntuhkan dinding pembatas antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial-ekologis. Gerakan ini bukan sekadar agenda kerja bakti tahunan yang selesai saat beduk magrib bertalu. Ini adalah sebuah maklumat spiritual untuk mengembalikan masjid sebagai pusat peradaban yang ramah iklim. Yogyakarta, melalui gerakan wilayah di Masjid Jami' Tajem, Maguwoharjo, Sleman, mencoba menawarkan sebuah model konkret: mengawinkan falsafah lokal Hamemayu Hayuning Bawana dengan teologi lingkungan hidup (ekoteologi).

Ekoteologi: Meruntuhkan Sekularisasi Setengah Hati

Selama ini, kita terjebak dalam sekularisasi berpikir yang akut tanpa kita sadari. Kita memisahkan urusan fikih ibadah dengan fikih lingkungan (fiqh al-bi’ah). Padahal, membuang sampah sembarangan atau membiarkan air wudhu terbuang sia-sia adalah bentuk pengkhianatan terhadap mandat manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di muka bumi). Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Namun, mengapa implementasinya di tingkat akar rumput sering kali hanya menyentuh aspek interior masjid, sementara pengelolaan limbah eksternal diabaikan?

Masjid tidak boleh lagi hanya menjadi menara gading yang steril dari krisis lingkungan global. Melalui integrasi data takmir ke dalam Sistem Informasi Masjid (SIMaS) Kemenag, struktur manajemen rumah ibadah harus direformasi. Takmir masjid masa kini tidak hanya bertugas menjadwalkan imam dan khatib, tetapi juga wajib bertindak sebagai manajer lingkungan. Langkah awal yang mendesak adalah membangun sistem pengelolaan sampah mandiri dan instalasi pemanfaatan kembali air wudhu (greywater recycling) untuk penghijauan area sekitar.

Sinergi Lintas Sektor, Bukan Sekadar Seremonial

Mengubah paradigma ratusan ribu takmir di Indonesia jelas bukan perkara membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, gerakan transisi menuju masjid hijau memerlukan jangkar kolaborasi yang kokoh. Sinergi antara Kanwil Kemenag D.I.Y., Dewan Masjid Indonesia (DMI), dan lembaga filantropi seperti BAZNAS merupakan peta jalan yang ideal. BAZNAS, misalnya, dapat menggeser orientasi bantuan konsumtif menjadi bantuan produktif berbasis lingkungan, seperti pengadaan infrastruktur tempat sampah pilah dan bibit tanaman produktif untuk pekarangan masjid yang gersang.

Ketika gerakan ini dipusatkan di Sleman sebagai titik sepak, pesannya menggema ke seluruh penjuru negeri: masjid harus menjadi ruang edukasi publik yang paling vokal menyuarakan isu perubahan iklim. Jika mimbar-mimbar Jumat mulai konsisten menyuarakan khotbah bertema krisis air dan darurat sampah, maka kesadaran ekologis jemaah akan tumbuh sebagai sebuah kebutuhan spiritual, bukan sekadar ketundukan pada regulasi pemerintah.

Menuju Masa Depan Masjid Lestari

Aksi serentak pada Senin, 10 Agustus 2026, adalah manifesto awal. Ujian sesungguhnya adalah konsistensi setelah hiruk-pikuk seremonial ini mereda. Kita merindukan masa depan di mana masjid-masjid di Indonesia menjadi suaka ekologis—tempat di mana udara terasa sejuk karena rimbunnya pepohonan di pekarangan, airnya terjaga karena sistem eco-drainage yang baik, dan energinya bersumber dari panel surya yang ramah lingkungan.

Mari kita ubah cara pandang kita. Menjaga kebersihan bumi bukan lagi sekadar tugas aktivis lingkungan, melainkan kewajiban mutlak setiap insan yang bersujud. Melalui GEBER MAS, kita buktikan dari dalam masjid, bahwa Islam adalah agama yang merawat kehidupan, menyembuhkan bumi, dan menebarkan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin). Saatnya bertindak, dari masjid untuk masa depan dunia. Wallahu’alam bishshawab. [Ahmad Fauzi - Kanwil Kementerian Agama DIY]

  • #gebermas
  • #ekoteologi
  • #masjidramah
  • #masjidhijau
  • Disclaimer

    Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.