Jakarta (ANTARA) -
Pola makan "clean eating" semakin dikenal seiring meningkatnya perhatian terhadap dampak konsumsi makanan ultra-proses terhadap kesehatan. Pola makan ini mengutamakan konsumsi makanan yang mendekati bentuk alaminya, meski tetap memiliki sejumlah hal yang perlu diperhatikan.
Dikutip dari Health pada Selasa (4/8), berikut beberapa hal yang perlu diketahui mengenai pola makan clean eating.
Apa itu clean eating?
Clean eating bertujuan mengonsumsi makanan yang sedekat mungkin dengan kondisi alaminya. Beberapa variasi pola makan ini juga mengutamakan bahan pangan organik, hasil pertanian lokal, dan produk yang bebas dari organisme hasil rekayasa genetika (GMO).
Baca juga: Ahli nutrisi sebut makanan tradisional sejalan dengan prinsip gizi
Makanan yang dianjurkan
Pola makan ini menekankan konsumsi buah dan sayuran segar, makanan laut hasil tangkapan liar, daging sapi grass-fed, ayam dan telur dari peternakan lepas, biji-bijian utuh seperti beras merah, quinoa, dan pasta gandum utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, lemak sehat seperti minyak zaitun, alpukat, dan ikan berlemak, produk susu seperti susu, keju, yogurt tanpa pemanis, maupun susu nabati tanpa pemanis, serta makanan yang diproses seminimal mungkin.
Makanan yang dibatasi
Clean eating membatasi konsumsi makanan cepat saji, makanan yang mengandung pengawet, perisa, pewarna, atau pemanis buatan, gula tambahan, serta daging olahan seperti sosis dan bacon. Pada variasi yang lebih ketat, seperti diet Paleo, pola makan ini juga menghindari gluten, produk susu, kedelai, dan kacang-kacangan.
Baca juga: Pilihan makanan yang direkomendasikan ketika sedang stres
Manfaat dan risiko
Penelitian menunjukkan pola makan yang mengutamakan makanan utuh dan pangan nabati dapat membantu meningkatkan kualitas hidup, mendukung penurunan berat badan, membantu mengendalikan kadar gula darah, serta menurunkan kadar kolesterol.
Namun, makanan yang dianggap "clean" dapat menimbulkan health halo effect, yaitu anggapan bahwa makanan tersebut lebih sehat daripada yang sebenarnya. Sejumlah penelitian menunjukkan kualitas pola makan secara keseluruhan dapat lebih berpengaruh terhadap kesehatan dibanding sekadar melihat apakah makanan yang dikonsumsi merupakan makanan olahan.
Pola makan yang terlalu membatasi kelompok makanan tertentu, seperti produk susu atau kacang-kacangan, juga dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi. Selain itu, pembatasan yang terlalu ketat dapat memicu orthorexia, yaitu obsesi untuk hanya mengonsumsi makanan yang dianggap "bersih" atau "murni". Kecuali memiliki alergi atau intoleransi tertentu, konsumsi beragam jenis makanan dari setiap kelompok pangan dinilai lebih baik untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Baca juga: Empat makanan yang bantu turunkan kolesterol secara alami
Tips memulai clean eating
Perubahan menuju pola makan clean eating dapat dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan makanan utuh, membatasi makanan ultra-proses seperti keripik, biskuit, sereal olahan, dan daging olahan, serta mengurangi konsumsi gula tambahan.
Selain itu, biasakan membaca label pangan untuk memilih produk dengan kandungan lemak jenuh, natrium, dan gula tambahan yang lebih rendah. Menyiapkan menu makanan sejak awal pekan juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada makanan siap saji atau makanan olahan saat memiliki aktivitas yang padat.
Baca juga: Lima jenis ikan yang sebaiknya dibeli dalam keadaan beku
Baca juga: Makanan-makanan yang baik untuk keseimbangan hormon perempuan
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.