
Sulit membayangkan Real Madrid tanpa jersey putihnya. Warna itu sudah begitu melekat dengan klub raksasa Spanyol tersebut, meski kisah di balik lahirnya identitas itu ternyata masih menyisakan tanda tanya.
Cerita yang paling sering beredar menyebut keputusan itu berawal dari Arthur Johnson, salah satu pendiri Madrid Football Club pada Maret 1902. Pria asal Inggris tersebut bukan hanya menjadi pemain pertama klub, tetapi juga pelatih pertama sekaligus sosok yang ikut menentukan identitas tim di masa awal berdiri.
Arthur Johnson Terinspirasi Klub Amatir Inggris
Johnson bermain sebagai penyerang tengah dan bahkan sempat mengisi posisi penjaga gawang. Ia juga mencatatkan namanya sebagai pencetak gol pertama dalam sejarah klub.
Versi yang selama ini dipercaya menyebut Johnson menjadikan klub amatir asal London, Corinthian, sebagai inspirasi. Tim tersebut dikenal luas bukan hanya karena kualitas permainannya, tetapi juga karena menjunjung tinggi sportivitas. Corinthian bahkan memilih tidak mengikuti kompetisi perebutan trofi dan memiliki reputasi selalu bermain dengan semangat fair play.
Johnson diyakini ingin membawa nilai-nilai serupa ke Madrid Football Club, termasuk lewat penggunaan jersey berwarna putih.
Meski demikian, bukti sejarah yang mendukung kisah tersebut ternyata tidak sepenuhnya kuat.
BACA JUGA:
Catatan pertandingan Corinthian tidak mencantumkan nama Johnson sebelum ia pindah ke Spanyol. Artinya, belum ada kepastian bahwa ia benar-benar pernah bermain untuk klub itu atau bahkan menyaksikan pertandingan mereka secara langsung di The Oval.
Yang dapat dipastikan, Johnson memang mengagumi Corinthian dan mendorong Madrid mengenakan warna putih sebagai identitas klub.
Ada pula satu perbedaan mencolok. Corinthian menggunakan kombinasi jersey putih dengan celana hitam, sedangkan seragam pertama Madrid terdiri dari kaus dan celana putih, dipadukan aksen merah-kuning serta kaus kaki hitam.
Pernah Mengganti Celana Hitam, Hanya Bertahan Semusim
Real Madrid ternyata sempat mencoba meninggalkan tampilan serba putih.
Pada 1926, Félix Quesada dan Perico Escobal berkunjung ke Inggris dan menyaksikan pertandingan Corinthian, yang saat itu kemungkinan bermain di Crystal Palace. Setelah kembali ke Spanyol, keduanya mengusulkan agar Madrid mengikuti penampilan klub tersebut dengan memakai celana hitam.
Presiden klub saat itu, Pedro Parages, awalnya tidak sepenuhnya setuju. Namun, ia akhirnya memberi lampu hijau.
Percobaan itu ternyata tidak berlangsung lama.
Setelah Real Madrid mengalami beberapa hasil buruk, termasuk kalah 1-5 dari Barcelona pada semifinal Copa del Rey, Parages menganggap celana hitam membawa nasib buruk. Keputusan pun diambil untuk mengembalikan celana putih, dan sejak saat itu warna tersebut tidak pernah lagi ditinggalkan.
Warna Putih Real Madrid Menginspirasi Klub Lain
Seiring perjalanan waktu, seragam putih Real Madrid berubah menjadi simbol yang bahkan ditiru klub lain.
Salah satu contoh paling terkenal datang dari Leeds United. Pada 1961, pelatih Don Revie memutuskan mengubah warna seragam timnya menjadi putih seluruhnya setelah terinspirasi oleh kejayaan Real Madrid pada masa itu.
Seragam biru dan kuning ditinggalkan. Sebagai gantinya, Leeds mengenakan kostum serba putih dengan harapan mampu mengikuti kesuksesan klub asal Spanyol tersebut.
Revie secara terbuka mengakui pengaruh Real Madrid terhadap keputusannya. Baginya, perubahan identitas visual menjadi langkah awal membangun tim yang mampu menyaingi klub-klub terbaik.
Dapatkan berita dengan ulasan mendalam, serta kabar terbaru hanya di Gilabola.com.
- TAGS
- Jersey Bola
- Real Madrid