Jakarta -

Bos programmer komputer Fei Zhaojun, sempat bertanya kepadanya apakah kecerdasan buatan (AI) dapat segera menggantikan manusia dalam pengodean. Dua minggu kemudian, ia diberhentikan dari pekerjaannya di Beijing, bersama sekitar 160 rekan.

Ini adalah skenario yang makin lazim seiring penggunaan AI yang didukung kebijakan pemerintah, mulai merombak pasar kerja China. Beberapa ekonom percaya hal tersebut pada akhirnya dapat melemahkan kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia itu.

Adopsi AI di berbagai bidang menyingkirkan orang dari pekerjaannya atau membuat mereka takut kehilangan pekerjaan. China berada di garis depan adopsi AI, karena kebijakan pemerintah mendorong masyarakat dan bisnis menggunakan aplikasi AI serta robotika dalam segala aspek kehidupan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tampaknya ada jauh lebih sedikit sentimen anti-AI di China (dibanding tempat lain). Kebanyakan orang tampaknya positif, netral, atau agak tertarik dengan AI," kata Shujing He, analis di firma riset Plenum.

"Individu yang khawatir posisinya digantikan, serta mereka yang sudah meninggalkan tempat kerja tradisional, sering bersemangat untuk bereksperimen dengan bisnis yang didukung AI dan usaha mandiri. Tingkat ketertarikan ini sangat mencolok," imbuhnya.

Du Qinchun, penerjemah paruh waktu, kini membantu melatih model AI untuk melakukan penerjemahan. Hal itu memberinya lebih banyak pekerjaan, setidaknya untuk sementara. "Namun benar bahwa bayaran di industri ini telah dipotong lebih dari separuhnya dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Du, yang tinggal di Chengdu.

Porsi perusahaan industri China yang mengaku menggunakan model dan agen AI melonjak menjadi 47,5% tahun lalu dari 9,6% pada tahun 2024, menurut IDC. Robotika pun semakin mumpuni.

Contohnya, robot humanoid kini dapat menyortir paket di pusat logistik meski masih skala kecil, serta melakukan tugas seperti mengatur lalu lintas dan membuat kopi. Robot pengantar makanan juga makin populer yang berpotensi mengancam nafkah jutaan kurir.

AI Generatif juga makin banyak digunakan untuk pembuatan, produksi, dan distribusi industri drama pendek China. Jumlah serial video aksi nyata vertikal merosot sekitar 75% pada kuartal pertama tahun ini dibanding setahun sebelumnya.

"Tugas yang dulu butuh pelatihan khusus kini dapat dilakukan hampir siapa saja yang memiliki akses ke alat AI. Ini sangat terlihat dalam pengembangan software dan pembuatan multimedia. Akibatnya, pekerja yang perannya sangat terbatas di area-area ini mungkin menghadapi risiko pergantian yang jauh lebih besar," kata He dari Plenum.

Sementara itu, laporan dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menemukan perempuan menghadapi risiko kehilangan pekerjaan akibat penggunaan AI yang lebih tinggi daripada laki-laki, karena mereka cenderung bekerja di bidang yang lebih rentan otomatisasi seperti perakitan elektronik.

Beralih ke AI untuk Mencari Nafkah Baru

Wang Zhicheng, 32 tahun, sering menggunakan AI untuk bertukar pikiran dan pengecekan fakta pada pekerjaan sebelumnya sebagai penulis naskah di perusahaan yang memproduksi video edukasi animasi 3D dan latihan interaktif anak.

Setelah perusahaan induknya memberhentikan sekitar setengah dari total 13 penulis naskah di sana, ia mengundurkan diri dan bekerja secara independen dalam pembuatan buku cerita anak bergambar.

Meskipun AI terkadang dapat menghemat waktu, naskah yang dihasilkannya sering kali terasa aneh. Episode-episodenya cenderung repetitif dan hanya mengikuti pola baku.

"Anda dapat memperlakukan AI sebagai sebuah alat, layaknya Microsoft Word. Manusia tetaplah pengambil keputusan mengenai mana yang akan dipilih atau diwujudkan di antara semua yang dihasilkan oleh AI" kata Wang, yang telah mendirikan studionya sendiri untuk memproduksi buku bergambar dan karya kreatif lainnya.

(fyk/fyk)

TAGS

LIHAT LAINNYA