Ambon (ANTARA) - Menjelang sore, sejumlah siswa bersiap mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di aula Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 40 Ambon. Di tengah kesibukan itu, kepala sekolah Afia Fransina Joris berjalan menyusuri halaman.
Sesekali ia berhenti dan mengamati siswa yang sedang berlatih olahraga, seni, dan kegiatan pengembangan akademik. Ia juga berbincang singkat dengan guru yang mendampingi para siswa.
Setahun sebelumnya, sebagian siswa masih harus beradaptasi dengan kehidupan sekolah berasrama yang berbeda dari kehidupan mereka di rumah.
"Saya kalau pulang dari sekolah ini bisa sampai jam 12 malam," kata Afia, mengenang masa ketika SRMA 40 Ambon mulai menerima siswa.
Ia menggambarkan masa itu seperti membangun sebuah peradaban. Para guru harus membentuk kebiasaan dan karakter anak-anak yang datang dengan latar belakang berbeda.
Pada awal sekolah dibuka, beberapa siswa sempat mencoba melompati pagar untuk keluar. Perkelahian antarsiswa juga pernah terjadi. Mereka belum terbiasa bangun pagi, mengikuti kegiatan belajar, beribadah, menjaga kebersihan, hingga menjalani berbagai aturan kehidupan asrama.
Afia bersama para guru memilih menghadapi proses tersebut secara perlahan.
Kini, pemandangan itu berubah. Siswa mulai terbiasa dengan rutinitas. Mereka menjaga lingkungan, menata barang, mengikuti pembelajaran, serta menjalani kegiatan sekolah tanpa lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dihindari.
"Sekarang, kalau anak lompat pagar sudah tidak ada lagi. Mereka sudah mulai merasa sekolah ini seperti rumah sendiri," ujar Afia.
Menjemput kesempatan
SRMA 40 Ambon kini dihuni 93 siswa dari Kota Ambon dan sebagian wilayah Maluku Tengah. Mereka berasal dari keluarga yang masuk desil 1 dan 2, yakni kelompok masyarakat miskin dan miskin ekstrem.
Latar belakang mereka pun beragam. Ada anak buruh angkut pelabuhan, nelayan, pemulung, pedagang makanan, penjual ikan, hingga siswa yang tinggal bersama ibunya setelah sang ayah meninggal. Sebagian besar merupakan lulusan SMP yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.
Hanya beberapa siswa yang sebelumnya sempat mengalami putus sekolah. Bagi keluarga mereka, keberadaan Sekolah Rakyat membuka akses pendidikan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Selain pembelajaran, sekolah menyediakan tempat tinggal, makanan, pakaian, perlengkapan belajar, serta fasilitas untuk mengembangkan minat dan bakat.
Setiap siswa memiliki laptop dan pembelajaran menggunakan smartboard. Sebagian besar tenaga pendidik telah memiliki sertifikasi pendidikan profesi guru.
Para siswa juga mendapat makanan lima kali sehari dan kebutuhan pakaian yang disediakan sekolah.
Menurut Afia, berbagai fasilitas tersebut menjadi sarana agar anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat menemukan dan mengembangkan kemampuan mereka.
"Anak-anak ini sangat bersyukur mereka bisa ada di sini, karena difasilitasi dengan sarana dan prasarana pendidikan yang sangat luar biasa, yang tidak mungkin mereka dapatkan," katanya.
Menemukan kemampuan
Setelah menjalani pendidikan sekitar satu tahun, sekolah mulai memetakan minat dan bakat siswa melalui berbagai asesmen.
Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan siswa tidak seragam. Ada yang menonjol dalam sains, bahasa, seni, maupun olahraga.
Berdasarkan pemetaan tersebut, guru mengarahkan siswa mengikuti kegiatan yang sesuai dengan potensi masing-masing.
Capaian mereka mulai terlihat dalam berbagai kompetisi. Seorang siswa mengikuti kompetisi karate hingga tingkat nasional. Di bidang akademik, siswa SRMA 40 Ambon berhasil masuk final Olimpiade Sains tingkat Provinsi Maluku yang diselenggarakan Universitas Pattimura.
Siswa lainnya meraih juara tiga kompetisi sains yang diselenggarakan Sekolah Laboratorium Universitas Pattimura melalui inovasi pembuatan sabun menggunakan ekstrak biji pala.
Beberapa siswa juga meraih medali perak dan perunggu dalam Olimpiade Sains Nasional.
Hasil pemetaan sekolah bahkan menunjukkan sebagian besar siswa berada pada kategori kemampuan menengah, sementara dua siswa masuk kategori superior. Mereka adalah Aditya, anak seorang buruh angkut pelabuhan, dan Chelsea, anak seorang nelayan yang ibunya berjualan jamur.
"Kalau distimulus lagi dengan pendidikan yang baik dan sarana-prasarana penunjang, anak-anak kita bisa cenderung menjadi anak-anak yang superior. Dan itu sudah mulai terlihat," kata Afia.
Guru ikut beradaptasi
Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada siswa. Para guru di sekolah itu juga harus menyesuaikan cara mendampingi anak-anak dengan latar belakang kehidupan yang berbeda.
Apriana Masruro, seorang guru asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, mengaku mengetahui program Sekolah Rakyat melalui media sosial.
Ketika pemerintah membuka kesempatan bagi guru untuk bergabung, Apriana mengambil kesempatan itu meski sejumlah temannya meragukan keberlanjutan program tersebut.
"Saya tertarik karena ini program untuk anak-anak yang memang sangat membutuhkan pendidikan, khususnya anak-anak desil 1 dan desil 2," katanya.
Saat pertama datang, ia melihat langsung tantangan yang dihadapi siswa dalam menjalani kehidupan berasrama.
Perubahan pola hidup membuat sebagian anak mengalami tekanan. Guru kemudian tidak hanya dituntut menyampaikan pelajaran, tetapi juga memahami karakter dan pengalaman hidup setiap siswa.
"Awal-awal luar biasa. Banyak yang belum terbiasa dengan kehidupan yang penuh aturan," ujar Apriana.
Pendekatan dilakukan melalui pendampingan dan komunikasi. Anak-anak diberi kesempatan beradaptasi sembari tetap diarahkan mengikuti aturan sekolah. Perlahan, hubungan antara siswa dan guru menjadi lebih dekat.
Pendidikan tak berhenti di kelas
Perubahan yang terjadi di sekolah juga ikut dirasakan keluarga siswa. Orang tua mulai melihat perubahan perilaku dan cara anak menjalani keseharian.
Setiap akhir pekan, siswa mendapat kesempatan bertemu keluarga. Momen itu menjadi ruang bagi mereka untuk melepas rindu sekaligus menceritakan pengalaman selama berada di sekolah.
Sekolah juga terus membuka pilihan pengembangan diri. Siswa dapat mengikuti kegiatan olahraga, seni, akademik, dan bahasa asing. Anak-anak yang menunjukkan minat pada keterampilan menjahit, tata rias, dan otomotif juga mulai diarahkan mengikuti pelatihan.
SRMA 40 Ambon juga mulai mendata siswa berdasarkan rencana setelah lulus. Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi akan diarahkan mencari jalur beasiswa, sementara siswa yang ingin bekerja akan dibekali keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.
"Anak-anak ini sebenarnya cerdas. Mungkin faktor ekonomilah yang selama ini membatasi mereka," kata Apriana.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku R. Affandy Z. Hassanusi mengatakan pendidikan di Sekolah Rakyat perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan kesiapan siswa menghadapi kehidupan setelah lulus.
Menurut dia, kemampuan akademik saja tidak cukup untuk memastikan anak mampu menjalani kehidupan secara mandiri.
Karena itu, Dinas Sosial Maluku mendorong penguatan pendampingan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk rencana pembentukan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di lingkungan Sekolah Rakyat.
"Pembinaan anak-anak tidak berhenti pada kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki karakter, kesehatan dan kesiapan menghadapi masa depan," kata Affandy.
Para siswa SRMA 40 Ambon mulai menyiapkan rencana setelah lulus. Ada yang bercita-cita menjadi tentara atau polisi, ada juga yang ingin menjadi dokter.
Namun, sekolah masih harus memenuhi sejumlah kebutuhan, termasuk tambahan tenaga guru dan fasilitas laboratorium.
Proses pembelajaran selama satu tahun terakhir memperlihatkan bahwa anak-anak membutuhkan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan mereka.
Di halaman SRMA 40 Ambon, kegiatan ekstrakurikuler hampir selesai. Satu per satu siswa mengakhiri latihan, sementara Afia masih berdiri mengamati dari sisi lapangan.
Dulu, sebagian siswa berusaha mencari jalan keluar dari sekolah. Kini, mereka mulai terbiasa menjalani kehidupan di dalamnya, meraih prestasi, dan merencanakan masa depan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menemukan potensi, meraih prestasi di Sekolah Rakyat Ambon
Editor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.