Sabtu, 10 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Jakarta, VIVA – Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, mahasiswa dituntut tidak hanya memiliki prestasi akademik yang baik, tetapi juga keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan profesional. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memang menjadi salah satu indikator pencapaian selama kuliah. Namun, nilai akademik saja belum tentu cukup untuk menjamin kesiapan lulusan ketika memasuki dunia kerja.

Baca Juga

Selain menguasai teori sesuai bidang studinya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, serta menyelesaikan masalah. Kemampuan beradaptasi dan mengambil keputusan juga semakin penting, terutama ketika dunia kerja terus berubah mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Persoalannya, proses pendidikan di perguruan tinggi tidak selalu mudah diselaraskan dengan tuntutan dunia kerja. Mahasiswa dapat menguasai materi perkuliahan, tetapi belum tentu memiliki pengalaman menghadapi persoalan nyata. Karena itu, proses pendidikan perlu memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membangun karakter, integritas, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Baca Juga

Pembentukan kualitas lulusan pun tidak semata-mata bergantung pada kurikulum dan pembelajaran di ruang kelas. Pengalaman berorganisasi, kegiatan sosial, serta kesempatan untuk belajar dari persoalan di masyarakat dapat membantu mahasiswa mengembangkan cara berpikir dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan profesional.

Pentingnya membekali generasi muda dengan nilai-nilai tersebut juga menjadi perhatian dalam peringatan 100 tahun Frans Seda melalui tema Empowering the Next Generation, yang digelar di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, pada Jumat (9/10/2026). Dengan memanfaatkan teknologi, acara ini mengajak generasi muda mengenal pemikiran dan keteladanan Frans Seda sekaligus menemukan cara baru untuk meneruskan warisannya.

Baca Juga

Kontribusi Frans Seda dalam dunia pendidikan menjadi salah satu hal yang disoroti dalam peringatan tersebut. Frans Seda merupakan salah satu pendiri Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada 1960. Baginya, membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui kebijakan dan kepemimpinan, tetapi juga melalui pengembangan manusia dan pendidikan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Warisan pemikiran tersebut terus dihidupkan melalui upaya membentuk insan berilmu, berintegritas, dan peduli terhadap masyarakat. 

Dalam sambutannya, Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), mengajak hadirin menjadikan Frans Seda sebagai teladan nyata semangat “Untuk Tuhan dan Tanah Air”. Menurutnya, peringatan satu abad ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghidupkan kembali semangat pengabdian tersebut dalam pilihan dan tindakan sehari-hari.

Halaman Selanjutnya

Sementara itu, Managing Director Frans Seda Foundation, Stefanus Ginting menyampaikan bahwa Frans Seda merupakan sosok panutan dengan kiprah dan pemikiran yang melampaui zamanny, sebagai negarawan, tokoh keagamaan, dan tokoh pendidikan. Ia menjelaskan bahwa tema 'Empowering the Next Generation' diwujudkan dalam format yang dekat dengan generasi muda, melalui pemanfaatan teknologi AI, musik, dan drama musikal.